Senin, 04 Mei 2015

Karena hidup masih koma ( , )


                                   
Berawal dari rasa sakit yang kualami di setiap detik dan menitku, akupun menggoreskannya lewat tinta ini.Lantaran aku sudah tak mampu.Kelopak mata ini sudah tak mampu membendung airmata, bibir ini pun telah enggan melafadzkan deru tangis yang bermuara di sudut kalbu. “assalamu’alaikum…, dik sofi ya?” seseorang mengagetkanku dengan ucapan salam yang begitu lembut. “iya, saya sofi. Ini kak maqbul ya?“ tanyaku tanpa ada sedikit keraguan karena yang kulihat matanya sama persis dengan foto yang sengaja ku save di leptop ku. “ subhanalloh….. indah!” aku bergumam dalam hati sembari memandanginya sekilas.
Ku lihat langkahnya yang gemulai sedang menapaki beberapa anak tangga di masjid Ulul Albab.Ya… masjid Ulul Albab, masjid dengan satu menara ini yang menjadi saksi atas pertemuan pertama ku dengan Maqbul Hasan Munir.Seorang Hafidzyang baru pulang dari Kairo, pria berkacamata dengan senyum manis di bibirnya. Dengan senyum yang terukir dari bibirnya, ia memulai pertemuan ini. Aku yang sedang ada kumpul sama teman-teman seangkatanku mencuri sedikit demi sedikit waktu ku  demi ingin punya lebih banyak waktu  dengan kak maqbul.
“ya allah, jika langit disana terlihat begitu indah dengan bintang-bintang yang kau tabur di setiap celah nya, maka hamba mu yang ini lebih indah dari langit itu walaupun hanya dengan dua bintang di matanya” aku tak berhenti menggumam dan bersaksi atas indahnya hadiah tuhan di malam hari itu. Entah karena dia memang indah atau karena hati ku telah men-dekorasinya?Entahlah, yang ku lihat hanya keindahan dan cahaya al-qur’an yang ku lihat di wajahnya. “maaf ya dek, udah buat adek menunggu lama” ucapnya dengan nada bersalah. Ia bilang mau mengunjungiku mulai sebelum ‘asar namun nyatanya ia sampai ba’da isya’. “ enggak apa-apa kok kak, kakak naik apa tadi kesininya?” aku bertanya dengan nada tidak enak karena telah merepotkannya walaupun dia yang ngajak kita bertemu.
“tadi aku naik angkot, muter-muter dan akhirnya nyampek deh, Alhamdulillah” ucapnya sembari memperlihatkan kemanisan senyumnya. Bibirnya yang begitu imut membuat mata ku menununduk tak mampu tuk terus memandanginya. Dia yang ku kenal hanya lewat  fb, kini terasa begitu dekat dengan hatiku, kini dia telah menguasai hatiku. Diriku menjadi tak ingin dia beranjak sedikitpun dari pandanganku.Hatiku menjadi terikat dengannya.Aku menjadi ingin selalu dekat dengannya.
Bila airmata ini menjadi saksi
Biarkan aku menangis di hadapannya
Dia yang tersembunyi di balik layar
Kini dia nyata di depan takdir
Bila takdir dapat ku ukir,
Biarkan aku membawanya ke hilir
Karena hatiku telah terkilir
Lantaran senyum telah terukir
            Waktu menunjukkan jam 08.40 dan merupakan batas maksimal aku keluar asrama sebagai penduduk asrama ma’had al-jami’ah. “kak, udah malem. Mendingan kakak pulang biar enggak terlalu malem nanti di angkot” aku beranjak untuk pergi. “bentar lagi dong dik, kakak masih ingin bersama adik bagaimana kalau kita ke tepi rel itu, kita makan.” pintanya tak ingin beranjak pulang. “maaf kak, aku sudah kenyang lagian ini sudah malam, kakak lapar?” Tanya ku sok perhatian.“ iya, kakak lapar…”ucap nya. “yaudah kakak makan dulu sana dan maaf aku tak bisa menemani kakak” aku menolak. Aku yang tak pernah berjalan berdua bersama laki-laki tetap enggan berduaan walaupun sama kak maqbul yang aku cintai.
“hmm, kalau adik enggak bisa nemenin kakak, kakak tidak jadi lapar..padahal kakak pengen ngomong sesuatu sama adik, dan kalau diomongin disini suasananya enggak tepat” ucapnya kecewa. “ aduh kak, maa….ffff banget… bukannya saya tidak mau, tapi ini sudah malam saya enggak enak dengan teman-teman kak, maaf banget”. Aku yang juga ingin lama-lama dengannya merasa keberatan  juga harus membiarkan dia sendiri. “ yaudah enggak apa-apa..  kakak ngerti kok.. “ ucapnya memaklumi. “maaf ya kak… yaudah kk pulang.” Ucapku menunggu kepergiannya. “adik jalan duluan..” pintanya. “yaudah aku duluan ya, assalamu’alaikum.” Aku langkahkan kaki ku pelan-pelan tapi pasti.Sedikit demi sedikit meninggalkannya, ku lihati dia sudah mulai membalikkan badan dan beranjak pergi.
Andai malam  ini dan semua yang ada di dalamnya
Menjadi malam yang istiqomah hadir dalam hidupku
Andai bintang malam ini selalu istiqomah hadir dalam hidup ku
Andai aku dapat menghentikan detik itu
            Aku terus bergumam mengiringi langkah ku menuju asrama tempat aku tinggal.Pertemuan di malam itu membuat aku senyum sendiri saat mengingatnya.Karena saat pertama kali aku melihat wajahnya, jantungku berdegup kencang tak karuan. Namun, kini ia hanya berada dalam khayalku karena jarak telah membuat jarak antara aku dengannya. Namun egoku, aku terus menderu dalam sujud ku. Bertitah tentangnya atas nama firmannya.
            Kini aku hanya dapat melihatnya lewat kejauhan, lewat foto_foto yang ia posting di dinding fb nya, ia telah kembali ke kairo untuk melanjutkan studinya. Dan apakah uin sunan ampel masih tersisa di hati nya? Ataukah kairo dan gersangnya padang pasir telah membuatnya melupa? Hanya tuhan yang mampu menjawab dengan waktu yang kan terus berputar. Menara masjid sunan ampel telah bersaksi bahwa ada cinta dan rindu di hatiku untuk seorang maqbul hasan munir. Seseorang yang mampu melengkapi hatiku, seseorang yang ku pikir kan mampu menjadi imam ku.
Haripun terus berlalu hingga membawaku ke semester berikutnya.Yah… aku sudah memasuki semester dua.Dimana aku harus memulai kembali kesibukan ku dengan makalah dan saudara_saudara nya.Intensive bahasa pun mulai di galakkan.Dan kini aku berjumpa dengan kairo lagi.bu Putri, guru intensive keagamaan ku adalah alumni al_azhar kairo. Beliau selalu bercerita tentang kairo dimana ia belajar. Dan aku, aku hanya membatin mendengar semua keindahan kairo yang terngiang di telinga.Hatiku menangis, dan terus menangis.Cita_cita yang ku bawa dari Madura tak urung pupus.Ingin ku menghanyutkannya di laut suramadu, namun tuhan tak mengizinkanku dan akibatnya aku terus tersisksa di tiap detik ku.Bagaimana mungkin aku melupakan kairo dan al_azhar, sedangkan tuhan selalu memperlihatkan mereka kepada diriku. Tuhan menaruh hatiku di kairo, lalu bagaimana mungkin aku bisa lepas dari kairo?.
            Ketika bu putri menjelaskan syarah kitab adabut_tolibin dan mengkombinasikannya dengan kisah yang ia bawa dari kairo. Akupun ingin menjerit. “ya allah,,,,,,,,,aku ingin kairo, apapun dan bagaimanapun caranya bawalah aku ke kairo. Aku ingin belajar tentang islam dari Negara islam. Aku ingin berguru kepada syaikh azhar, aku ingin menikah dengan kak maqbul” aku terus berada dalam dilema. Memang benar, saat ini tuhan telah mengganti  kairo dengan Surabaya. Lantas mengapa tuhan masih menyisakan rasa di hatiku untuk kairo jika memang kairo terlalu indah untuk seseorang se_level saya.Tidakkah tuhan mengasihani diriku yang kian terluka di tiap detik.
            Seringkali ku iqrar janji dalam hati bahwa aku kan melupan kairo. Namun ketika aku kursus di genta, tuhan mempertemukan aku dengan Mr. Qomar, direktur genta.Tuhan memberiku waktu untuk berbincang_bincang dengannya.Hingga aku mendapatkan kembali semangat untuk mengejar kairo.Dan malam itu, aku berdiri di tepian jalan genta.Mengerahkan pandangan ku keatas lampu_lampu yang menggantung di langit. Akupun berikrar sebuah janji ” tuhan,,,, aku takkan melupakan kairo, aku takkan meninggalkannya, aku pasti kan mendapatkan kairo, aku akan menyusul kak maqbul,  kak maqbul pasti kan menjemputku dan membawaku kesana, aku pasti akan solatdi masjid al azhar,  ATAS  SE_IZIN MU”.
            Kalimat ku yang terakhir itulah yang mampu menguras air mataku. Aku menangis sejadi_jadinya dan berusaha menyembunyikan airmataku di balik kerudung hitam yang ku kenakan.Aku sadar bahwa aku tak pantas mencintai kairo namun aku pun tak bisa disalahkan karena cinta itu datang tanpa aku undang dan tetap tinggal walaupun telah ku usir. Hanya zikir yang keluar dari lisan ini yang kujadikan surat untuk tuhan. Hembusan angin malam yang telah mengantarkannya.
            Belum sembuh lukaku, kenyataan pahit menyapaku. Benarkah ia menolakku? Benarkah ia telah di jodohkan? Benarkah ia mempunyai wanita lain yang ia cintai?Tak adakah perasaan di hatinya untukku walaupun sedikit?Benar…… itulah jawabannya.Di lantai 2 asrama genta aku coba menguraikan persaan ku pada kk maqbul.Obrolannya dengan teman2nya di fb memancingku untuk mempresentasikan perassanku di hadapannya. Di balik layar hp yang ku pinjam dari temanku, ku kirim soft file perasaanku padanya. Namun apa jawabnya? Masihkah kau bertanya?Sedang aku telah menjawabnya diatas.Ia menolakku, ia tidak mencintaiku, barangkali ia bahkan tak menyukaiku. Sakitnya tu dimana?
            Bertambahlah awan membiru, semakin deraslah tangisan langit, bintangpun takkan berani mendekat.Aku sadar bahwa aku memang bersalah karena mengharapkan nya.Jadi wajarlah jika tuhan memenjarakanku dibalik jeruji hatiku sendiri.Namun jika cinta ini salah, lantas siapa yang harus disalahkan.Haruskah aku, keadaan ku?Atau siapa? Biarlah doa yang ku panjatkan di setiap waktuku mengembalikan kepingan hati yang telah hancur tak terhingga. Biarlah tuhan menawarkan racun yang tengah menyebar di setiap nadiku. Hanya tuhan yang tau sampai kapan aku kan mencinta.
            Takdir cintaku membuat aku membuka mata, bahwa aku hanyalah mahluk kecil yang tiada berarti tanpa kasih sayang allah. Air mata cinta acap kali berjatuhan di setiap malamku.Bahkan ketika aku tidur, wajah kk maqbul selalu membayangiku.Namun aku tidak pernah menyesal karena telah mencintainya. Karena cinta ini menumbuhkan kesadaranku akan keadaan ku. Cinta ini membuat aku sadar bahwa selalu ada allah di setiap kedipan mata ku. Ya rabb…. Aku bersedih….
            Malam ini, jam di hp ku menunjukkan pukul 02.30, aku segera bangun dari tempat tidurku.Siangku yang penuh dengan aktivitas membuat malamku begitu pulas tertidur.Namun cita dan cinta membangunkan ku. Akupun terbangun dan menitip salam rinduku untuk kk maqbul. Aku berharap tahajjud cinta mengetuk pintu hati kk maqbul dan mengajarinya bahwa ada hati di surabaya  selalu  mengharapkan nya. Ku sandarkan kepala ku diatas kursi yang tersedia di kamar ku.Ku buka jendela selatan dan otomatis aku melihat menara masjid al_akbar.Menangislah diriku dan jatuhlah air mata ku.
            Ujung masjid al_azhar yang biasa kulihat di foto2 yang ku download terlihat seperti ujung masjid al_akbar. Dan malam ini aku menyaksikan nya.Lampu_lampu yang menghiasi masjid al_akbar mengalahkan sinar lampu bangunan_bangunan yang mengelilinginya.Bertambahlah luka ku karena mengingat al_azhar.Air mata ini ku biarkan berjatuhan diatas mushaf aisyah yang tengah ku pegang erat. Ku baca ayat_ayat cinta yang ku dapat dalam mushaf itu, dan dengan kesungguhan hati ku minta malaikat malam yang tengah berteriak_teriak membawa pesan tuhan agar ia menyampaikan pesan ku pada tuhan ku.
            “adakah kau mendengarkan ku? Adakah kau melihat sembabnya mataku?Adakah kau peduli dengan hancurnya hatiku?”malam ini aku terus menghujani tuhan dengan berbagai pertanyaan. Aku tak ingin tuhan menjawab, aku hanya ingin tuhan memperdulikan ku.Aku hanya ingin perhatian tuhan. Aku yang memang sejak kelas dua Mts di tinggal oleh ayah ku untuk memenuhi panggilan tuhan sangat haus akan kasih sayang. Itulah mengapa aku ingin suami yang bisa menjadi ayah ataupun suami untuk ku.Tempat aku berlabuh atas berbagai rasa yang terdapat dalam hiduku.
            Namun sms yang ku terima dari kak maqbul malam itu telah Membuat sembab mataku.Membuatku tak ingin cinta setelahnya.Membuatku menjatuhkan diri ku diatas sejadah cinta.aku yang agak pemalu, malam itu sudah tidak ragu untuk mengungkap cinta padanya karena di dukung oleh perasaan cinta yang tulus dan kuat. Malam itu aku berpikir bahwa tidak ada salahnya menjadi khodijah untuk peria sebaik rosululloh.Namun kenyataan berbeda, kk maqbul menolakku. Walaupun ia sempat bilang suka pada ku namun kesimpulannya, sekarang ia tengah mencintai seseorang selain diriku. Sakitkah aku?Sakitkah perasaan ku? Jelas sakit!!!.
            Yakin ku tak kan bisa di ganggu gugat. Dan aku yakin bahwa dia mencintaiku. Aku yakin bahwa dia kan kembali pada ku. Dia akan menjadi imam ku. Namun kapan?Masihkah kau bertanya? Tidak taukah engkau bahwa akupun tak tau kapan ia akan kembali. Namun mari kita lihat! Bagaimana keyakinan ini membawaku. Mari kita lihat bersama episode hidupku selanjutnya. Sabarlah!!! Cinta yang akan menguatkan mu. Cinta yang akan mengguyurmu dan membuat mu merasa tenang. Sabar ya!!!
            Dentuman lagu dalam mihrab cinta mengetuk hatiku pagi ini, hatiku terenyah dengan lagu yang di latar belakangi oleh azhar.Aku memang tidak tahan ketika mendengar lagu ataupun melihat foto-foto yang berhubungan dengan azhar. Lalu bagaimana dengan hari_hari ku yang  acap kali diisi oleh dosen al_azhar. Terkadang aku merasa inilah cara tuhan menjaga cintaku pada al_azhar yaitu dengan mengirim serpihan-serpihan azhar dalam dunia ku. Namun aku sadar pada kenyataan, sehingga kenyataan membuyarkan senyum dalam hayal ku.Ku Tanya pada diriku sendiri, siapa kamu?Anak orang kaya?Anak kiai?Anak pengusaha?Anak direktur? Bukan!!! Aku bukan siapa-siapa, aku hanyalah anak yatim.Aku hanyalah seorang hamba tuhan yang hidup hanya karena kasih sayang tuhan.
            Ainul yaqin, iyah,,, dia asisten prof ali, dosen tafsir ku. Ia menggantikan prof ali karena prof sedang ke hongkong. Lalu knp?Dia mirip kak maqbul, apanya? Senyumnya!. Kembali ku dengar kabar pyramid dan sungai nil yang membuat hatiku berbunga. Inilah cinta! ingin selalu mendengar namanya, ingin selalu mengenal, ingin selalu peduli, tanpa harus mengerti apakah ia di perdulikan atau tidak. Gambar-gambar nil yang di sajikan bapak asdos tersebut membuat ku seakan berada di atas kapal yang membawaku mengitari sepanjang sungai nil.Bahagianya aku dalam hayalan ini, seakan aku tak ingin kembali kepada materi tafsir hari ini.Pikiran ku masih berkeliling di sekitar sungai nil dan sungai Alexandria. Diriku, sadarlah!!! Bangun lah!!! Sudah siang!!! Kamu belum solat!!!.
            Hanyalah gemericik air mata dan rintihan angin yang membantu ku memohon untuk tuhan yang maha kuasa.Aku yang hanya sendiri tanpa keluarga di Surabaya ini hanya mengandalkan kasih sayang tuhan.Namun itulah yang sangat berarti bagi hidup ku. Masih kurang apa aku, orang tuaku tidak punya biaya untuk mengkuliahkan aku, namun allah memberiku beasiswa. Masihkah aku kurang?Masihkah aku menganggap tuhan tak adil? Tau apa aku tentang tuhan? Stop!!! Berhentilah bertanya!. Biarkan aku berpikir dan mencari apa yang sebenarnya ku cari dalam hidup ku ini.
            Kata cinta yang sering ku dengar ditelinga bukanlah sekedar angin musim semi yang lewat begitu saja.Namun kata cinta tengah menyusup ruang dan kalbu. Detik ini aku mengingatnya lagi dan memaksa hatiku berkata: “ aku bukanlah mufassir yang dapat menafsirkan kata cinta, aku bukanlah fuqoha’ yang bisa mengerti tentang arti cinta, aku juga bukan ilmuwan yang dapat membuktikan teori cinta, namun aku adalah insan cendikia yang menghabiskan detik-detik untuk memikirkan mu” hati ku merajut.
            Cintaku pada kak maqbul membuat airmata di setiap celah hatiku.dulu sebelum pulang ke kairo, dia pernah memintaku untuk ngobrol sama ibunya. Namun aku menolak, karena pada saat itu perasaan ku masih biasa saja terhadapnya.Saat itu aku tak mengerti kalau dia menyukaiku. Aku tidak sadar akan hal itu. Namun ketika perasaan ku mulai berubah, aku sudah mulai menyukainya, perasaannya terhadap ku juga mulai berubah.Dia beranggapan kalau aku tidak menyukainya, jadi dia berusaha melupakan ku dan membiarkan ibundanya mencarikan dan memilihkan seseorang untuk nya. Aku tidak tau mengapa dia pergi saat aku sudah mulai sadar akan perasaanku. Andai waktu bisa berbalik arah,  Aku akan memilih untuk menyadarinya. Namun sudahlah,,,,,, aku hanya ingin mencintaintya dari kejauhan, aku hanya ingin melihatnya, karena aku sudah bahagia ketika melihatnya bahagia. Aku harus adil pada cinta, karena hakikat cinta adalah menerima apapun yang disuguhkan oleh yang kita cintai.Itulah mengapa sampai sekarang aku bertahan untuk mencintainya walaupun aku tak tau apakah dia juga cinta, ataukah dia tak ingin ku cinta.
            Senin kali ini ruang kelas ku diisi prof Ali dan asistennya yaitu bpk. Ainul yaqin yang kemaren-kemaren telah saya ceritakan. Di samping membahas tafsir ayat yang berhubungan dengan dakwah, kali ini prof membahas tentang ujian yang akan dilaksanakan minggu depan. Salah satu trik ujian yang ku suka adalah seperti metode pak prof ini yaitu dengan mencicil ujian.Tidak langsung diujikan sekaligus, namun di uji per-bab sehingga memudahkan untuk menghafal.setelah membahas materi ujian, lalu sesaat kemudian pak prof meninggalkan kami bersama bapak ainul yaqin karena beliau hendak menguji mahasiswa yang sedang menyelesaikan disertasinya.
            Bersama asisten pak prof, aku kembali terbang ke kairo. Pembahasan ayat-ayat al qur’an membawa kami pada salah satu dari sekian banyak ahlaq dan sifat nabi Muhammad. Menyimak dari cerita beliau tentang rasululloh membawaku pada sebuah fikiran yang menghasilkan kesimpulan bahwa untuk mencintai rasululloh, kita harus mengetahui semua tentang beliau, mulai dari ahlaknya bersama keluarga, masyarakat, dan bahkan sama orang kafir sekalipun. Ku lihat wajah pak Yaqin begitu berseri-seri ketika membahas tentang rasululloh.Dan wajah-wajah seperti itulah yang kebanyakan ku lihat pada orang-orang soleh pecinta rasul. Aku pun bertanya pada diriku: “mengapa engkau belum berubah? Kau bilang kau ingin mencintai rosululloh, kau bilang bahwa kau hanya ingin mencintai Allah dan Rasulnya.Lalu kenapa engkau masih saja menuruti hawa nafsu mu?”
            Aku malu pada diriku sendiri, aku malu ketika bercermin di depan orang-orang soleh, aku malu ketika mendengar kisah tentang khulafa’ur-Rasyidin yang begitu mencintai rosululloh dengan sepenuh hati mereka. Aku malu untuk mengharap syafaat rasululloh di hari dimana cintaku padanya kan dipertanyakan. Di hari dimana aku takkan bisa munafik dengan kesohihan cintaku. Dan kini aku hanya bisa meringis melihat keadaan hatiku yang masih menyimpan suatu nama yang berasal dari umat rasululloh dan bukan namanya. Pantaskah aku menjadi umatnya?Sedang dihari kelahiran rasululloh seprti hari ini, aku seakan merayakannya tidak dengan sepenuh hati, sungguh aku begitu memalukan.
            Berbagai macam kata cinta telah ku rangkai, berbagai syair-syair telah ku lantunkan.Namun, apakah itu cukup untuk membuktikan cinta ku pada rasululloh? Tidak!!! Itu masih belum cukup.Akhir-akhir ini diriku sering berada dalam dilemma, dilemma yang dapat mengundang bongkahan air mata.Sering aku mengikat janji terhadap diriku untuk tidak memperdulikan sesuatu yang memang tidak bermanfaat bagi ku.Namun, inilah aku dan kelemahan ku.Aku masih saja berada dalam gelombang perasaan tak menentu. Aku masih dalam proses pengamatan tentang apa arti hidup ku. Aku sedang dalm proses penyelidikan tentang kenyataan yang terjadi di sekitar hidup ku.
            Aku sudah tak dapat menafsirkan takdir yang sedang ku jalani karena aku pernah salah menafsirkannya.Dan sekarang aku hanya ingin menjadi orang alim, sabar, dan taat kepada Allah.Dan hari ini aku putuskan untuk merevisi niat dan tujuan ku belajar. Sekarang yang ku ingin hanyalah fokus belajar ilmu agama dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan kuliah S2 di luar negri. Mungkin terlalu naïf jika seseorang sepertiku terlalu banyak menuntut sedang aku saja bukanlah siapa-siapa. Namun aku teringat sebuah kalimat dari salah satu guruku. “ setiap orang mempunyai kesempatan, akan tetapi hanya orang-orang yang beruntunglah yang dapat menggunakan kesempatan sebaik-baiknya” akupun tidak jadi galau setelah mengingatnya, he..he..he. karena memang benar, kata-kata orang soleh yang bijak lah yang bisa membuat hati seseorang menjadi tenang. Kata-katanya tak dapat dibeli dengan uang, tak dapat ditukar dengan apapun. Orang soleh dapat membahasakan al-qur’an dalam kenyataan sehari-hari. Ia menjadikan al-qur’an sebagai rujukan nya, Muhammad sebagai idolanya, dan al-qur’an sebagai undang-undanya, orangtua sebagai tumpuannya, dan semua orang muslim adalah saudara dan sahabatnya. Itulah muslim sesungguhnya.
Selasa, 24-03-2015
            Sore ini aku berjalan gontai menuju perpustakaan umum di kampus.Tas sekolah yang biasa ku gendong kemana saja terasa begitu membebani bahu, mungkin karena seharian ini jadwal tak membiarkan ku beristirahat sedikitpun.  Dengan langkah agak sedikit cepat aku mulai meniti anak tangga satu persatu menuju lantai dua tempat buku-buku koleksi umum berada.Tanpa melirik ke OPAC aku langsung saja memasuki ruangan sebelah utara.Langsung ku menuju referensi ilmu sosial dasar tanpa ragu karena aku pernah memasukinya. Dengan kursi kecil yang memang di khusus kan untuk mahasiswa yang hendak membaca buku, tangan ku mulai menyeleksi judul-judul buku yang ku lihat di depan mata.
            Sambil membuka lembar demi lembar buku tersebut aku mulai merapatkan bahuku ke tembok.Dengan harapan kantukku bisa hilang ketika dalam keadaan rilex. Namun sayang aku tak mendapatka materi yang berhubungan dengan judulku, mungkin karena aku begitu kelelahan dan kehilangan konsentrasi.aku pun berubah haluan. Segera ku beranjak dari tempat dudukku lalu bergegas menuju ruang referensi. Ku tilik satu persatu kitab yang berbaris rapi dalam almari, hingga tangan ku berhenti di sederet buku biru yang berjudul MU’JAM MUFAHROS LI_ALFAADZIL AHADIYTS. Hari ini aku berniat mencari referensi buat materi hadits BKI yang memang menjadi tugas mingguan. Dengan tanpa kebanyakan mikir, langsung ku cari letak hadits yang bersangkutan ke ruang referensi umum. Ku lihati satu-persatu sohih muslim dan sohih bukhori yang berjejer rapi di sepanjang almari yang berisi kitab-kitab hadits.
Lelah ku mencari hadits yang menjadi tujuanku, hingga akhirnya aku beranikan diri untuk bertanya kepada seorang lelaki yang sedang sibuk mencari referensi hadits. Ku lihat ia sedang membuka kutubus sittah yang kira-kira setebal 10cm. aku mendekatinya dan bertanya,”maaf mas, ganggu! Mau nanya, syarah sohih bukhori itu apa?” aku bertanya dengan penuh kesungguhan. “banyak mbk, ada fathul baariy,, dan ada lagi tapi saya lupa…” jawabnya tanpa ragu. Akupun segera menuju lemari yang tadi ku kunjungi, lemari yang berisikan hadits-hadits. Disana aku mencari-cari namun tak jua kunjung ku dapatkan. Selang beberapa menit kemudian, seseorang yang tadi aku tanyai ternyata juga mencari referensi hadits. Lelaki berhidung mancung itu ternyata sedang mengambil jurusan tafsir hadits.
Mungkin karena dia kasihan melihatku lama mencari dan tak kunjung ku temukan, ia menanyaiku. “sudah ketemu mbk?” dia menoleh kearah ku. “belum mas, ini dari tadi saya cari-cari namun tak juga ku temui” aku menjawab dengan nada sedikit kecewa. “memangnya mbka cari hadits tentang apa?” tanyanya lagi. “ini mas….” Ucapku seraya menyodorkan secarik kertas yang terdapat daftar hadits pencarianku. Lalu kemudian dia membantuku mencarikan hadits, dan tak lama dia menemukannya. Dengan hidung yang memerah, mungkin karena dia flu dia menyerahkan kitab itu padaku.” Ini mbak,…ini kan?”. Ku lihat di kitab itu tampak jelas hadits yang kucari. “oh iya mas, ini benar, ini  memang yang saya cari, terimaksih ya mas, mas sudah sangat membantu”. Aku berterimakasih kepadanya dengan wajah berseri. “ya sudah mbak, saya duluan ya” katanya sambil beranjak untuk pergi. “iya mas, sekali lagi maksih mas” ucapku mengiringi langkah kepergiannya. Segera ku tandai dan ku kembalikan mu’jam ke tempat tadi aku mengambilnya. Sementara itu ku bawa sohih muslim menuju lantai satu untuk di fotokopi agar memudahkan ku membawanya kemana-mana. Ku rogoh saku jaketku dan mengambil uang untuk membayar nya. Dengan membawa lembaran hasil fotokopian, aku bergegas mengambil tasku yang ku letakkan di lemari khusus untuk penyimpanan barang. Lalu dengan perut yang begitu lapar, aku kembali ke asrama.
Senin, 13 April 2015
            Hujan disore ini seakan mewakili ku. Diriku, dengan berbagai luka yang ku tanggung. Senin kali ini tuhan mengujiku dengan suatu kejadian dimana aku tak pernah membayangkannya dalam hidupku. Aku yang dari dulu menjadi kesayangan guru-guru ku. Hari ini berbeda, aku mengecewakan pak prof dengan suatu perbuatan yang tak ku sengaja. Ku sodorkan tangan ku mencari-cari hp yang ku taruh didalamnya. Ku lakukan itu hanya untuk melihat jam, namun malangnya, pak prof melihatku dan berkata: sofi main hp?” aku hanya mengangguk karena saat itu aku memang sedang kebetulan memegang hp walaupun sebentar. Setelah pak prof melihat respon ku, lalu dia menyuruhku keluar ruangan dan tidak diperkenankan mengikuti mata kuliahnya. Betapa sakit diriku!!! Semalaman aku belajar untuk materi tafsir ini, ku baca berulangkali dan kuselingi doa diantara jeda nafasku hanya karena aku ingin bersiap untuk materi tafsir besok. Namun apa yang tuhan kasih padaku di keesokan harinya? Inikah balasannya untukku? Aku sertakan fotocopy matery tafsir disetiap aktivitas ku malam itu. Tidak hanya ketika aku makan, bahkan ketika aku nonton film kesukaanku pun aku menyertakannya. Malam itu aku menembus kegelapan malam di jalanan wonocolo untuk mencari tempat nge-print buat tafsir. Tapi apa yang ku dapat esoknya? Aku harus menunggu di depan pintu kelas.
            Ku rogoh al-qur’an dari saku tasku berharap ia kan mampu mengalihkan lukaku tadi. Lembar demi lembar ku baca dan ku ingat hingga hatam satu juz. Aku menunggu di depan pintu dan hanya bisa melihat dan mendengar tawa teman-teman. Aku menangis dalam hati,” tuhan, dulu aku berharap aku akan mempunyai seorang guru yang memang benar-benar memotivasi ku, dan kau telah mewujudkannya, namun apa yang ku lakukan padanya? Aku mengecewakannya! Aku tidak bisa mensyukuri anugerah mu, aku takut ya robb! Dulu Sebelum melangkah kan kaki ke Surabaya aku berjanji padamu bahwa jika kau memberikanku kesempatan, aku takkan menyia-nyiakannya, namun apa yang telah ku lakukan hari ini?” aku terus berkecamuk dalam hati. Mungkin kedua bibir ini tidak berhenti mangucap kalam ilahi. Namun aku tak bisa membohongi perasaanku bahwa hati ini sedang dalam dilemma antara kesal, sesal bahkan benci sekalipun.
            Aku menunggu dengan berbagai perasaan kecewa. Dia menyuruhku untuk tidak mengikuti pelajarannya. Dengan tas hitam yang biasa ku pakai untuk tas kuliah. Aku menyembunyikan tangisku, aku mencoba mengitip diseberang pintu tetapi aku tak melihat apa-apa. Aku tak dapat mendengarkan penjelasannya. Sebegitukah dia padaku? . Dari luar pintu aku mencoba mendengarkan apa yang pak prof. jelaskan, namun sayangnya, aku tak dapat menjangkaunya. Aku merasa ingin sekali mendengar kata-kata nya yang begitu menyejukkan hati, menulisnya dalam lembaran-lembaran motivasi, menggantungnya disetiap arah dalam kamarku. Agar aku mengingat semua mutiara-mutiara hikmah darinya.
            Kisah ku hari ini membuatku tak bisa menundukkan kepala. Bagaimana mungkin aku menundukkannya? Sedang air mata ini selalu tertitikan. Kelopak ini tak cukup dalam untuk menampung airmata yang diakibatkan oleh dukaku malam ini. Jari-jemariku pun seakan beistighfar atas hari ini dan semua khilaf yang ada didalamnya. Maafkan aku pak prof….. aku tau aku bersalah, namun jika kau mendengarkan alasan ku. Ku yakin engkau takkan memintaku untuk menutup pintu dari luar.  Ku yakin bahwa kau takkan punya alasan untuk tidak memaafkanku. Namun biarlah, apapun yang terjadi hari ini, aku tetap bersyukur pada tuhan karena dengan ini aku dapat mengoret sebuah janji suci. Dengan ini aku membuat lembaran-lembaran putih ini bersaksi akan tekad ku. Aku berterimakaih atas hari ini karena telah menghadirkan hujan di penghujung waktu yang dapat mengahiri tangis ku. Terimakasih atas genangan air yang memenuhi halaman fakutas ku, karena dengan itu aku bisa menyembunyikan dan menyamarkan air mata ini hingga ia terlihat seperti halnya tetesan hujan. Tuhan!!! Maafkan aku! Ayah maafkan aku!ibu maafkan aku! Dan pak prof, maafkanlah aku! Karena aku tak cukup dewasa untuk menyikapi hal ini.
            Setelah pelajaran prof ali, dan teman-teman sudah mulai keluar satu-persatu, aku bertanya pada salah satu temanku, “qi, apakah pak prof marah padaku?” aku bertanya dengan nada khawatir. “enggak kok, pak prof enggak marah, dia hanya melaksanakan komitmen yang kemaren_kemaren telah kita sepakati bersama” dia mencoba menenangkan ku. “tapi mengapa dia tidak membiarkan ku mengikuti pelajarannya?” aku bertanya lagi karena masih belum puas dengan jawabannya.” Enggak, sudahlah jangn sedih!!! Bukankah hidup masih koma? Seperti kata pak prof” candanya. Aku menyunggingkan seulas senyum tandanya aku sudah mulai sedikit tenang.
            Temanku juga memberitahuku bahwa pak prof meminta pak Ainul Yaqin untuk memberikan hukuman padaku. Dan mereka juga bilang bahwa pak  Ainul memberiku tugas yaitu menulis surah Al-waaqi’ah dan Ar-rahman dua kali dan batas terakhir pengumpulannya ialah hari sabtu ketika kit ada kumpul kajian bersamanaya. Dan dia juga bilang bahwa dua surah yang harus kutulis itu akan menjadi tiket masuk ku untuk mengikuti ujian di minggu berikutnya. Aku yang begitu malas untuk menulis merasa keberatan akan hukuman tersebut, namun karena ini akibat kesalahanku akupun menulis.
            Malam harinya, aku mulai menulis. Ku ambil al-qur’an juz duapuluh delapan dalam lemari tempat ku menaruh kitab-kitabku. Langsung saja ku buka kedua surah tersebut yang kedunya memang bersebelahan. Kuraih pena dan buku tulis biasa dan langsung ku tulis satu persatu huruf-huruf yang membentuk ayat-ayat dalam surah tersebut.sekitar satu jam lamanya, aku berhasil menulis hingga ayat terakhir di surah al-waaqi’ah. Rasa lelah pada tangan kananku pun tak dapat ku pungkiri, namun aku berusaha untuk tidak mengeluh, demi pak prof, demi pak Ainul Yaqin.
            Keesokan harinya sms dari pak Ainul membuatku sedikit terkejut. “assalamualaikum sofi, saya beri tugas menulis surah ar-rahman dan al-waaqi’ah dua kali di kertas portofolio lengkap dengan syakalnya, Ainul Yaqin” isi pesan tersebut membuat aku sedikit bingung. Dia memintaku untuk menulis di kertas folio bergaris, sedang aku telah menulis di kertas biasa. Apakah aku harus menulis lagi? apakah rasa lelah ku tadi malam tiada berarti? Sabarlah!!! Aku akan bercerita. Aku langsung menekan tombol jawab di hp ku yang berarti aku akan membalas pesan darinya. “aduh pakk! Saya sudah nulis di kertas biasa, bagaimana pak? Ucapku dengan nada memelas. “ya sudah kalau begitu tidak apa-apa”. Balasnya singkat. Aku merasa sangat lega dengan kemurahan hatinya.
            Pada hari sabtu, sesaat sebelum kajian dimulai, aku mengumpulkannya. Hari itu dia membahas tentang sifat-sifat rosululloh dari sebuah kitab yang ia bawa. Kalau tidak salah judul kitab tersebut adalah Assyamaa’ilul Muhammadiyyah. Sebuah kitab yang membahas sifat rasul, membahas bentuk tubuhnya, bentuk wajahnya, dan semua tentangnya. Hari itu, dengan lidah fasih yang logatnya seperti orang arab asli, ia menjelaskan apa yang ia baca dari kitab itu dengan menggunakan bahasa arab ala mesir. Pada saat kajian, dia mewajibkan untuk berbahasa arab “ al-aan nahnu ‘arobiyyun, wa la na’lamu illal-‘arobiyah, faman yuriydu an yuqoddima su’aalan, fal yas’al billughatil ‘arobiyah.” Ucapnya dengan serius. Aku yang pada saat itu memiliki sebuah pertanyaan, memaksa lidahku untuk berbahasa arab. Walaupun dengan bahasa arab ku yang mungkin masih kacau, namun akau berhasil membuatnya memahami pertanyaanku.
Jum’at, 17 februari 2015
            Iyah,,, memang bulan ini hujan seringkali menyapa. Jum’at inipun hujan datang dan menyebar rasa dingin dimana_mana. Hingga setiap jemari seakan menggeliat kedinginan. Kali ini bertempat di aula fakultas dakwah. Aku dan diriku berkumpul bersama teman-teman disana. Dosen ku pun telah menunggu untuk melakukan senam solat yang memang menjadi jadwal baru di hari jum’at. Dengan pakaian kuliah yang ku kenakan, karena memang baru selesai kuliah, aku mencoba mengikuti arahan dari salah satu teman ku yang menjadi peraga senam.
            Satu persatu gerakan senam ku ikuti hingga gerakan terakhir yaitu gerakan kesepuluh yang biasa disebut baring pasrah.  Setelah senam kurasakan sensasi senam tersebut, walaupun agak sedikit lelah namun aku menikmatinya. Senam yang katanya miniatur dari gerakan solat tersebut sudah biasa kita lakukan setiap hari jum’at. Karena pada hari itu mata kuliah kita cuma satu. Senam yang mempunyai berbagai hasiat ini kita dapatkan ketika matrikulasi saat kita baru pertama kali ke Surabaya.
            Selalu ada cerita di setiap hari yang ku lalui di kampus yang bermenara satu ini. Mulai dari pelajaran-pelajaran yang sering kali membuatku bingung atau bahkan dari teman-teman yang membuatku jenuh. Seringkali ku bertanya pada diri ini, sering kali aku menebak dan mengira tentang takdir yang tengah ku titi. Kenapa tuhan menempatkan raga ini di Surabaya,  sedang hatiku masih tertanam indah di antara tumpukan bebatuan yang membentuk pyramid di kairo. Mengapa tuhan membuatku bernafas diantara debu_debu polusi di kota ini, sedang rasaku telah lama menghirup pasir yang terbentang luas di kairo. Aku tidak dapat mengerti apakah jembatan suramadu adalah jembatan pertama dan terakhir yang ku titi, ataukah tuhan kan beri ku kesempatan untuk melangkahkan kaki ini di atas jembatan nil dan Alexandria.
            Selalu diriku mencari angin segar dari berita yang disampaikan oleh orang-orang saleh. Namun itu tak bertahan lama, karena kebahagiaan dan kesenangan bersumber dari hati sedang hatiku tengah tersesat diantara kubah-kubah masjid al-azhar yang menjulang tinggi. Seringkali ketika aku mengingat kairo, aku lupa bahwa di sini, di hatiku, ada tuhannya kairo yang pastinya lebih indah dari kairo. Lebih ‘alim dari ulama-ulama kairo. Namun diriku begitu naïf hingga seakan aku menafikannya. Akupun melupa, bahwa yang menjadi tujuan ku adalah tuhan yang menciptakan kairo dan bukan semata-mata kairo, hanya saja aku tersesat diantara kerlap-kerlip lampu yang tersebar di setiap celah gedung-gedung kairo yang menjadi sarang bagi mahasiswa kairo yang berasal dari seluruh penjuru dunia.
            Aku ingin melupakan kairo, aku ingin hati ini tenang tanpa bayang-bayang kairo. Aku bahkan tak dapat melupakannya walau sebenarnya aku ingin. Hingga akhirnya aku harus menanggung resikonya. “ kesusksesan itu bagaikan melintas di jembatan yang dibawahnya terdapat jurang, ketika kau baru saja memulai, semuanya terasa seakan mengalir tanpa rintangan, namun ketahuilah! Ketika kau terus berjalan, dan semakin ketengah, kan ada angin dari berbagai penjuru yang akan menerpamu, membuat mu jatuh dan apakah yang kan engkau lakukan? Berhenti? Dan membiarkan angin  membalikkan jembatan dan membuatmu jatuh tersungkur ke dalam jurang? Jika tidak, maka teruslah berjalan dan selalulah melihat kedepan dan yakinlah bahwa ketika kau bangkit dan terus melangkah  semakin jauh, kau pasti akan sampai pada titik akhir dari tujuanmu” teringat kata-kata motivasi yang ku dapat dari Miss Imah, salah satu Musyrifah di GENTA, Kediri. Wanita bermuka imut yang tak lelahnya setiap subuh menggedor setiap pintu yang tertutup di asrama.
                                                                                                                        Rabu, 29 April 2015
            Malam ini, sms yang ku terima dari temanku menuntun langkahku menuju basecamp CSSMORA. Organisasi wajib bagi mahasiswa/i PBSB. Malam ini ada kumpul untuk laporan pertanggung jawaban pengabdian di Jombang. Pengabdian ini merupakan salah satu program dari devisi PSDM, salah satu devisi dalam organisasi CSSMORA yang bergerak dibidang pengabdian untuk masyarakat. Dengan membawa gallon mini di tanganku, ku bergegas menuju basecamp. Ku terobos gelapnya jalanan yang hanya disinari oleh remang-remang lampu.
            Kampus ku yang bersebelahan dengan rel kereta api, sudah tak asing lagi dengan gemuruh kereta api ketika melintas. Bel yang menandakan adanya kereta api yang akan melintas seakan sudah menjadi musik utama yang menghiasi hari- hari ku di kampus ini. Karena ketika keluar dari gerbang kampus, sudah tampak jelas rel tempat kereta api melintas seakan tak ada jeda diantara keduanya . kereta yang kadang lewat mengangkut pertamina    dan kadang pula menjadi angkot bagi mereka yang hendak bepergian jauh. Aku yang tak pernah merasakan naik kereta hanya bisa melihat dan mendengar bunyinya.
            Teringat cerita kak maqbul tentang kairo, tentang kereta yang membawanya menuju masjid al-azhar. Aku selalu membayangkan bahwa suatu saat aku juga bisa merasakannya. Seringkali ku meminta pada tuhan untuk mempercepat perjalananku hingga aku telah sampai pada kairo. Namun aku sadar siapa diriku, aku hanyalah butiran debu yang berterbangan diatas pijakan-pijakan kaki manusia. Aku hanyalah debu, bagaimana mungkin aku akan menjadi pasir dan berharap untuk bisa tinggal dan hidup di padang pasir. Tingginya hayalku terkadang membuat diriku lupa bahwa hakikat debu adalah di tanah. Dan bagaimana bisa aku berharap bahwa aku akan berada di gunung yang menjulang tinggi.
            Diingiring lagu inn aankho mein tum aku bersandar diatas kursi kayu yang mulai berubah warna menjadi kuning kecoklatan. Ku pandangi tingginya menara masjid al akbar yang begitu tinggi seakan menjuntai keatas langit. Kapankah penantian ini berakhir? Dengan apa tuhan kan mengakhiri penantian ini?. Ku ucap pertanyaan tanpa harus terjawab. Jika tadi malam hujan membanjiri lapangan voli yang terletak disamping asrama ku, malam ini aku telah membanjiri sejadah yang terhampar di lantai kamar ku. Tangisku mungkin takkan ada manusia  yang mendengar, mungkin tak ada yang tahu, tapi mereka harus tau bahwa aku, dengan semua kecerewatan ku, disini, di hatinya, aku selalu menangis.
            Aku,Sofiatul jannah, gadis yang begitu cerewet, rame, dan periang itu sebenarnya tidak seperti itu. aku punya hati yang begitu lemah. Hanya saja aku tidak akan pernah memperlihatkan kelemahan ku kepada orang lain. aku hanya ingin memperlihatkan lemahku didepan tuhan, saat aku menghadapnya, saat aku memohon kepadanya dengan menengadahkan kedua tangan ku, saat aku tak bisa menahan tangisku dihadapannya, saat aku mengdu akan lemahnya diriku menunggu. Karena ku tahu aduanku, keluh ku, tangis ku, jika ku untai di depan manusia, mereka pun tak bisa berbuat apa, hanya saja mereka akan melihatku dengan penuh iba yang akan semakin membuatku merasa lemah. Dan aku tak menginginkan hal itu, aku hanya ingin menunjukkan lemah ku dihadapannya, dia yang dapat membuatku merasa kuat.
            Aku yang memang tidak terlalu suka untuk curhat kepada orang lain, hanya dapat mengoret setiap air mata yang tercipta diatas sejadah ku yang bergambarkan ka’bah. Karena disana, aku dapat dengan leluasa mengurai amarah, pilu, tawa, ataupun luka. Disana aku yakin ada dia yang maha melihat, dia yang maha mendengar, dia yang maha tau. Aku selalu berharap agar dia mendekapku ketika aku rapuh lantaran angin malam yang begitu sejuk menusuk tulang, aku berharap dia melindungiku dari air hujan yang mengguyur seluruh tubuh ku. Aku tahu dia begitu dekat denganku, aku tau dia selalu menjagaku, aku tau dia menyayangiku. Hanya saja dosaku yang begitu besar dan keraguanku akan kasih sayangnya menutup mataku dan  menghalangiku untuk melihat seberapa besar dia mencintaiku.
            Sembari memegang sebuah kitab dengan warna ungu muda bergambarkan masjid, aku menyandingkan kamus al-munawwir yang keduanya telah kubeli ketika aku ziarah ke makam Sunan Ampel Surabaya. Ku coba mengartikan isi dari kitab tersebut, dan ketika aku menjumpai suatu lafadz yang masih samar menurutku, aku segera mencarinya di kamus Al-Munawwir. Kitab maw’idzotun naasyi’iin yang berisi tentang nasehat-nasehat itu ku buka lembarannya satu-persatu. Disana, di salah satu bab yang terdapat didalamnya aku temui berbagai tingkatan kesucian yang termasuk juga di dalamnya kesucian hati manusia. Disana terdapat empat tingkatan dalam toharoh/suci. Tingkatan Pertama, sucinya dzohir dari hadas dan najis. Kedua, sucinya anggota tubuh dari dosa dan perilaku buruk. Ketiga, sucinya hati dari ahlak yang jelek dan dari kejelekan yang dimurkai. Sedangkan tingkatan yang terakhir ialah, sucinya relung hati dari sesuatu selain allah. Dan yang terakhir inilah yang merpakan tingkatan kesucian para nabi dan para siddiqiyn.
            Disini disebutkan pula bahwa untuk mencapai tingkatan yang paling tinggi, kita harus menempuh dari tahap yang paling rendah, yaitu dimulai dari mensucikan dzohir/raga kita dari hadats dan najis. Akan tetapi ketika kita membahas tentang kesucian di zaman yang penuh dengan ke-syubhatan ini begitu sulit. Apalagi di kota-kota ramai seperti di Surabaya ini. Banyak sesuatu yang haq bercampur dengan yang batil. Di Surabaya tak ku temukan warung-warung yang cocok dengan seleraku. Bukan dari segi menu yang mereka sajikan, namun dari segi kehati-hatian mereka dalam membuat menu. Entah karena aku terlalu sok, atau aku orangnya was-was, namun yang jelas selama aku di surabya, hanya dua warung makan  yang menjadi langgananku. Selain aku lihat dari penampilan sang penjual yang berpakaian lengkap dan juga dari segi ibadah mereka aku juga melihat dan meniliti bagaimana kehati-hatian mereka.
            Aku terbawa rasa takut untuk memakan hal-hal yang tidak halal. Aku takut solatku takkan diterima selama empat puluh hari untuk satu suap. Lantas berapa suap disetip satu piring makananku. Apakah aku akan menukar makanan dengan nilai ibadahku. Karena ketika aku  makan makanan yang tidak baik, walaupun satu suap pasti makanan tersebut akan menjadi darah yang mengalir diseluruh tubuhku. Dan bagaimana akau akan rajin beribadah, ketika darah dosa yang mengalir dalam diriku, dan bagaimana akau akan masuk surge jika aku malas beribadah kepada Allah. Adakah cara lain untuk masuk surga selain dengan beribadah kepada allah, dapatkah mereka yang sangat kaya memesan sebuah apartemen di surga?, tidak!!!.
            Aku melihat keadaan preman-preman kampus, preman-preman jalanan, ataupun bocah nakal yang biasa keluaran. Aku melihat orang tua mereka, mereka hanya disibukkan dengan uang, berjualan tanpa henti untuk mengumpulkan pundi-pundi emas, mereka lupa solat, mereka lupa kalau dirinya tidak memakai baju, mereka lupa memakai kerudung mereka. Lantas benarkah jika mereka berharap untuk mempunyai anak yang baik-baik, sedang mereka sendiri tidak baik. Bagaimana bisa dia berharap menuai apel jika yang ia tanam adalah biji asem. Hal semacam itulah yang sesuai dengan potongan ayat al qur’an  hatta yalijal-jamalu fiy sammil-khiyaath bagaimana mungkin.
Jumat, 01 mei 2015
            Pagi ini kepalaku terasa begitu pusing hingga seakan aku mendengar denyutannya. Rasa pusing itu membawaku untuk kembali menutup mata diatas ranjang susun yang menjadi tempat tidurku. Dengan dua bantal yang sudah tampak tua, ku baringkan tubuhku dan menyandarkan kaki ku diatas guling yang memang menjadi teman setia di setiap malam-malam ku. Dua jam lamanya aku terbaring lemah hingga langkah kaki Zahra membangunkan ku. Aku yang masih merasa begitu lemas memaksa untuk bangun karena hari ini memang khusus ku jadwal untuk mencuci baju.
            Hari ini aku mencuci baju yang menumpuk tak karuan di dalam bak  hitam kecil dibawah ranjang ku. Tanpa berfikir panjang, aku menggopongnya menuju kamar mandi tempat biasa ku mencuci. Langsung saja ku cuci tanpa jeda. Satu persatu bajuku mulai basah hingga sekitar setengah jam lamanya.dengan rasa lelah pastinya, ku bawa cucian yang sudah ku bilas menuju lantai dasar yang mana tempat biasa aku menjemur. Selesai sudah.
            Teringat akan tumpukan-tumpukan tugas dalam minggu ini, segera ku buka leptop yang tergeletak di ujung kasur tempat ku berbaring. Ku buka folder yang berisi kisah sedih ku di tahun 2014 dan memulai untuk mengetik kata-demi kata. Ku terjemahkan semua yang ada difikiran dan di hatiku lewat tombol-tombol keyboard di leptop ku. Tak sampai sepuluh menit, aku telah kehabisan kata-kata untuk di terjemah. Hingga akhirnya jari ini menekan tombol control+s yang berfungsi untuk menyimpan apa yang telah kutulis. Ku buka folder baru yg bertuliskan “my documents” dan disana ku temukan satu slide formulir. Air mata ini langsung jatuh tak tertahankan, aku teringat kairo kembali. Dalam slide itu terpampang jelas nama ku. Nama yang ku tulis ketika aku mencoba-coba daftar online seleksi timur tengah.
            Jatuhlah diriku, dalam lamunan kelabu. Waktu itu aku mencoba registrasi online. Berharap aku akan kuliah di kairo. Namun karena ijazah aliyah ku belum keluar dan kelulusanpun belum diumumkan, maka batallah niatku. Dan kini ku hanya bisa memandanginya dan tersenyum indah karenanya. Aku bahagia walaupun tidak mendapatkannya, setidaknya karena aku pernah mencintainya. Bukankah cinta tak harus memiliki? Bukankah tuhan yang lebih tau tentang hidup kita? Bukankah dia sang maha cinta? Benar, dialah maha cinta.
            Mungkin Surabaya memanglah takdirku, dan PBSB adalah jalanku seperti kalimat yang ku dengar dari salah seorang temanku kullun muyassarun limaa khuliqo lahu. Memang benar, saat ikut seleksi PBSB aku merasakan kemudahan yang entah darimana kudapatkan itu, tapi yang pasti semua kemudahan bersal dari allah. Walaupun saat itu aku menjalaninya tidak sepenuh hati, namun karena sejalan dengan takdir, maka semuanya terasa mudah ku dapatkan, hingga akhirnya namaku tertulis diantara 30 orang penerima beasiswa santri di UIN SUNAN AMPEL.
            Mendungpun kembali merajut diatas langit Surabaya , sore ini begitu mendung, langit begitu kelabu, ditambah pula gemuruh Guntur dan suara solawatan gusdur yang sengaja diputar sebelum waktu solat  di kebanyakan masjid di Surabaya. Sehabis solat dzuhur, kuraih mushaf yang kutruh diatas lemari kitab-kitabku. Degan niat menambah hafalanku,  ku baca dengan lirih hawatir temanku akan terbangun mendengar suaraku. Ayat-demi ayat telah selesai ku baca dan ku letakkan kembali mushaf ku sebagaimana asalnya. Kurasakan hari ini tubuhku begitu lemah dan sedikit panas. Keadaan itu membuat kepalaku selalu ingin berbaring. Namun aku tak membiarkannya, karena jika waktu senggang ku hanya aku habiskan untuk tidur, maka rugilah diriku. Karena waktu yang telah habis terbuang tidak kan mungkin bisa untuk didaur ulang. Itulah yang kupelajari dari pengalamanku hidup selama 19 tahun hingga  saat ini. Aku banyak belajar dari para cendikiawan yang kutemui di Surabaya.
            Tak terasa aku tertidur pulas setelah solat dzuhur. Niatnya nungguin waktu ‘asar, namun karena rasa lelah dan kantukku, akupun tertidur. Panggilan Adzan asar pun tak mendapat sahutan dariku, aku tetap dalam mimpiku di sore ini. Hingga akhirnya aku merasa tubuhku terasa lebih ringan.” Ya allah, ada apa dengan diriku hari ini? Aku begitu lemah, aku tak bergairah,” aku berbisik dalam hati. Ku kalahkan rasa malasku, dan bangun seraya mengambil batang sabun dan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudu. Cukup lima menit, aku telah kembali ke kamar dan segera mengambil mukenah yang biasa ku pakai untuk solat. Dengan sejadah ungu bergambarkan ka’bah, ku tundukkan kepalaku yang masih terasa hangat. Kali ini kurasakan sujudku begitu nikmat sekali sampai aku merasa tak ingin bangkit dari sujud ku. Aku tundukkan kepalaku dihadapan dzat yang begitu sempurna.
            Ku uraikan segala salah dan khilaf yang telah ku perbuat. Di hadapannya, ku tampakkan lemah ku dan Ku akui kesalahanku. Tak dapat sedikitpun aku berkutik dihadapan dia yang maha sempurna, lidah ini terasa kelu untuk berkata, apalagi untuk berbohong, aku tidaklah seberani itu. Ku pampang semua noda yang ku buat disetiap detikku, berharap ia kan sudi untuk memaafkanku, karena ku tahu dia maha pemaaf, Dia maha penyayang, dia yang begitu mengerti akan diriku, dia yang begitu setia menemaniku, itulah mengapa aku selalu berharap bahwa aku bisa selalu menjadi hambanya, dan aku berharap dia sudi memperlihatkan keindahannya padaku ketika dia telah memanggilku ke hadapannya.
            Detik ini aku mengingat sosok ibuku, ia yang begitu tulus menyayangiku, ia yang begitu gagah menggantikan posisi ayah yang telah kembali ke Rahmatulloh.aku begitu menyayanginya, aku takut kehilangannya, aku takut terluka lagi lantaran ayah telah meninggalkan ku, aku ingin melukis senyum di bibirnya. Aku ingin membuatnya menangis, tapi bukan tangisa kecewa, bukan pula tangisan kesedihan, melainkan tangisan penuh kebanggaan, tangisan penuh haru lantaran prestasi ku. Anak yang selalu ia kasihi, anak yang selama ini ia rawat dengan penuh kasih sayang, anak yang begitu ingin memeluknya, anak yang begitu merindukannya.
            Aku tak mampu membayangkan betapa sepinya hidupnya setelah ditinggal ayah. Walaupun ia tak pernah menangis di hadapanku, tapi aku tau ada tangis kerinduan yang ia sebunyikan dimatanya. Sungguh ketika aku mengingat dan merindunya, ada gemuruh hujan di hatiku, ada genangan airmata di kelopak mata ku. Aku hanya bisa mendoakan ibu dan ayah dari kejauhan . aku hanya bisa berharap tuhan kan menjaga mereka. Aku berharap pada akhirnya tuhan menyatukan mereka di surga, walaupun saat ini mereka berada di dua alam yang berbeda.
            “sudahlah!!! semua rintihan, semua tangisan dan semua rinduku takkan berarti apa-apa bagi mereka, karena yang mereka butuhkan saat ini adalah doa yang tulus dan ikhlas dari ku.”. ego ku coba netralkan perasaan hingar bingar yang terdapat dalam hatiku. Mungkin dengan belajar yang rajin dan selalu berbuat kebaikan, aku dapat menghapus peluhnya. Dan mungkin dengan peluh dan semangatku aku dapat membayar airmata ketulusannya. “oh tuhan,…. Bantulah hamba mu yang lemah ini untuk bisa melukis senyum di hati mereka, mereka yang begitu ikhlas merawat dan mendidikku, mereka yang mampu bertahan dari teriknya mentari siang hanya karena ingin menaungiku dan membuatku tidak merasakan pahit yang mereka rasakan.
            “katakanlah (Muhammad)! Aku berlindung kepada tuhan pemilik waktu subuh.” Surat yang turun ketika rasululloh terkena sihir oleh salah seorang yahudi ini menjadi doa pagi dalam dua rakaat subuhku. Angin subuh yang membuat otak terasa sejuk tengah ku hirup. Pagi ini aku berharap tuhanku memudahkanku dalam segala urusanku, memberiku sebuah ide yang mengalir hingga aku dapat mendramatisir keadaan yang begitu menegangkan.
            Pria berkacamata itu masuk dengan membawa setumpuk buku di tangan kanannya, dengan senyum yang terukir dari bibirnya yang berbentuk huruf mim  dia berjalan menuju kursi yang telah disediakan untuknya. Badannya yang tegap dan gagah membuatnya tidak tampak seperti lelaki berumur 50-an keatas. Wajahnya yang bersih dan penuh dengan cahaya tampak selalu tersenyum. Dia yang menjadi idola bagi seluruh mahasiswanya, selalu mempersiapkan kata-kata motivasi untuk mereka. Termasuk pula untuk kelas kami. Hampir di setiap pertemuan, dia selalu menebar benih-benih keyakinan dihati kami yang rentan dengan rasa keraguan.
            Ia membuat kami semakin yakin akan takdir tuhan, ia  selalu meyakinkan kami akan kebesaran tuhan. Semangatnya bagai semangat pemuda ketika mereka melakukan sumpah pemuda. Keyakinannya bagai keyakinan soekarno untuk kemerdekaan Indonesia. Dia selalu mengatakan bahwa dia yakin kita semua (mahasiswanya) akan menjadi orang-orang hebat. Akupun heran, mengapa dia begitu yakin terhadap kita, sedangkan kami sendiri tidak yakin akan hal itu.
            Ia bagai ayah yang selalu mencurahkan perhatian pada anaknya, ia adalah sosok yang selama ini menjadi idola saya. ia yang dengan suara merdunya membuat hatiku tertunduk dihadapannya. Bersamanya, menjadi muridnya, mendengarkan nasehatnya, merupakan momen indah yang tak ingin ku biarkan untuk berlalu. Aku banyak belajar darinya, aku banyak melihat dari jejak kakinya. Ia bahkan dengan kesuksesan yang ia dapat sekarang, tetap begitu rajin belajar, menulis, dan menginterpretasikan fikiranya. Ia selalu melangkah berataskan namakan tuhan. Dan itulah yang membuat dia selalu yakin dalam setiap keputusannya.
            Di pertemuan terakhir kemaren dia mengatakan sesuatu yang sangat membuatku senang, “untuk pertemuan terakhir, bagaimana kalau saya undang temanku yang dari mesir? Kebetulan dia ada di Indonesia dan akan kembali ke mesir dua bulan lagi”. Aku begitu senang mendengarnya, aku sangat ingin melihat orang mesir dan mengobrol dengan mereka sebelum akhirnya aku menetap di mesir (amiinnnn, aminin dong!!!). “ia prof….” aku berteriak histeris. Kami semua sangat berantusias mendengar ucapan pak prof.
            Fikiranku langsung terbang ke mesir, aku berharap jika teman pak prof beneran masuk kelas ku, aku harap aku bisa mengobrol panjang dengannya. Aku bisa mencurahkan perasaanku terhadap kairo. Aku juga berharap bahwa aku akan mengenalnya dan dia mengenaliku. “oh tuhann… tolonglah hambamu ini, wujudkanlah apa yang menjadi harapannya, sayangi dia bukan hanya sebagai ciptaanmu, melainkan sayangi dia layaknya kau menyayangi anak yatim dan orang faqir, karena ana yatiymul ‘ilmi wal maali wal abi” butiran-butiran doa yang bersumber dari hati selalu ku panjatkan kepadanya, tuhanku. Namun keikhlasan doa tersebut hanya tuhan yang tahu. Karena ikhlas tak bisa didefinisikan dengan lisan, karena ikhlas tak dapat diketahui manusia, karena yang menjadi alasan keikhlasan itu sendirilah yang tau bagaimana keikhlasan itu sendiri.
            Kembali lagi ke prof, setiap pertemuan aku selalu menilitinya dan yang ku temukan dari dirinya ialah ia selalu tau apa yang terjadi pada kita selama seminggu. Apa yang terjadi? Apakah dia memata-matai kita? Apakah dia seorang dukun? Apakah dia seorang paranormal? Sehingga dia mengetahui apa yang terjadi walau dia tak menyaksikannya, ataukah dia sudah menjadi ahli hikmah yang telah Allah bukakan hijab untuknya? Entahlah aku tak mengerti, aku hanya menerka-nerka dari apa yang selama ini ku lihat dalam dirinya, karena sampai detik ini aku sudah hamper satu tahun bersamanya. Dan untuk hal tadi, wallohu a’lam bish-shawab.
            Maha suci Allah yang selalu mempertemukan orang yang mulia hatinya dengan seseorang yang sejenis. Maha suci Allah yang berfirman “attoyyibuwna li-ttoyyibbati.. al aayah”. Hari ini, diantara rintihan-rintihan gerimis , ku berjalan menuju masjid ulul albab yang menjadi tempat untuk kelas tambahan hari ini. Aku, dengan jas cssmora yang ku kenakan, menerobos percikan-percikan air disepanjang jalan rektorat. Ku cari sosok Ainul Yaqin distiap bagian masjid. Timur ke barat, selatan ke utara, tak kunjung aku berjumpa. “ ah… dia belum datang” ucapku lirih. Ku putuskan untuk menunggunya disebelah kiri masjid.
            Selang beberapa menit kemudian, terdengar deru motor dari arah barat, dan tampaklah wajah seseorang dengan helm yang mungkin menjadi pengganti kopyah untuknya. Yah,, dia bapak ainul yaqin, asisten kesayangan pak prof, dia sudah datang. Sebelum mulai membahas materi kali ini, dia membagikan kertas teman-teman yang minggu kemaren dikumpulkan. Satu-persatu dia memanggil nama-nama yang sesuai dengan nama yang terpampang di kertas tersebut. Sebelum membagikannya satu per satu, dia bertanya tentang contoh dan definisi idlofah, maf’ul bih, ‘amil nawasikh. Entah mungkin karena tugas yang ia bagikan minggu kemaren membuatnya meragukan kemampuan kami dalam ilmu nahwu, atau kenapa, entahlah….
            Dia, dengan ilmu yang mungkin sudah memenuhi otaknya, dengan kefasihannya dalam berbahasa arab, mulai menjelaskan isi lembaran itu secara global. “ orang yang dalam solatnya dia tidak khusyu’, tidak merasakan adanya nabi Muhammad ketika ia bersolawat dalam tasyahhudnya, adalah dia yang tidak tau berterimakasih, bagaimana bisa dia lupa bahw sebab allah menciptakannya adalah karena Muhammad, bagaimana dia lupa akan hal itu” suaranya yang tegas dan agak lantang, terdengar begitu menggebu-gebu. Wajahnya yang selalu ceria ketika membahas tentang rasululloh. Itukah cinta? Tanpa kata, namun menuai ceria?. Kulihat semangat yang begitu menggelora ketika mendengar ataupun menyebut nama rasululloh.
            Wajah seperti itulah yang kulihat dari raut wajah guruku. Mulai dari wajah pak prof, pak navis (dosen usul fiqh) hingga wajah bapak ainul yaqin. “oh tuhan…. Berilah aku kesempatan lebih lama lagi untuk bersama mereka, untuk belajar dengan mereka, untuk meneladani mereka, untuk mengikuti jejak mereka, berilah aku kesempatan ketiga untuk saelalu bersama mereka.” Aku terus berucap tanpa henti. Siapapu takkan rela kehilangan sosok guru, sosok murobbi, sosok idola seperti mereka.
            Adakalanya waktu membuat  sebuah jurang dalam perjalananku, adakalanya dia menutup dan merapikan nya kembali. Namun yang menjadi pertanyaannya, siapkah aku bertemu waktu, siapkah aku menunggunya, sabarkah aku dalam menunggu. Semua orang mengatakan bahwa semua kan terasa indah pada waktunya. Namun kini dapat  ku katakana bahwa semua takkan indah pada waktunya. Karena bisa saja apa yang  dahulu menjadi kebanggaan, apa yang dahulu terlihat begitu berkilau, apa yang dulu terlihat indah, seiring bergantinya ronde waktu semua kan terasa biasa saja, dan sudah tak indah lagi. itulah yang kusimpulkan dari kenyataan yang terjadi, itulah ringkasan dari pelangi.
 Pelangi terlihat indah hanya ketika rintik-rintik hujan terus bersamanya. Dan ketika ia sudah sendiri, semua tampak biasa saja, tak ada yang istimewa. Beginilah caraku meng-konseling diriku sendiri, dengan mencari referensi dari kehidupan oranglain dan menjadikan nya foot note yang dapat menghentikan langkahku ketika aku terlalu dalam melangkah. Walaupun berbagai proposal telah ku kirim pada tuhan, dengan berbagai judul yang bagiku begitu menarik. Namun yang didalamnya terdapat usaha dan kesungguhan hatilah yang ia terima tanpa adanya revisi. Sabarlah wahai diriku!!! Bukankah nabi ayub yang mendapat cobaan berat mampu bersabar? Apakah cobaanmu lebih  berat darinya?hingga kau tak mampu bersabar?.
Aisyah, wanita yang dinikahi rasululloh sebelum ia mukallaf. Wanita yang mendapat julukan humiroh dari suaminya, rasululloh. Wanita yang mendapat julukan ummul mu’miniyn itu. Fitnah yang terjadi ketika ia tertinggal dari rombongan ketika hendak kembali ke madinah. Ia sendirian di tempat yang sebelumnya ditempati untuk tenda rasululloh. Untungnya,  Shafwan bin Al-Muathal As-Sulamy          menemukannya dan membawanya kembali ke madinah. Shafwan yang memang bertugas  sebagai pengawal akhir rombongan. Namun malangnya ketika mereka sampai di madinah, terdapat isu dan fitnah yang kejam dan membuat aisyah merasa sakit.
Setelah kejadian fitnah itupun sifat rasululloh agak berubah, kelembutan Rasulullah terhadapnya mulai menipis dan tak seperti biasanya di saat dia  melawan demam dan sakitnya. Biasanya Rasulullah begitu memanjakannya kala ia sakit. Namun beliau sedikit berubah, Beliau hanya menyapanya dengan bertanya tentang keadaannya, lalu kemudian berlalu begitu saja.
Mengapa rasululloh berubah? Apakah rasululloh marah? Ataukah beliau cemburu? Rasululloh yang terkenal begitu menyayangi aisyah, apakah dia meragukan aisyah? Rasa cinta rasululloh terhadap aisyah terlihat jelas sebagaimana yang ibnu katsir ceritakan dalam tafsirnya tentang lafadz ghaasiq dalam surah al-falaq yang mana diwaktu malam, rasulullah memegang tangan aisyah dan menunjukkan bulan padanya seraya berkata, “itulah ghaasiq”. Begitu hlus dia memperlakukannya, Tidakkah itu cinta,? Memperlakukannya dengan begitu lembut.
Fitnah yang telah tersebar diantara penduduk madinah, membuat aisyah sakit selama satu bulan. Gambaran seperti itulah mungkin yang sesuai dengan firman allah “wal fitnatu asyaddu minal qatl”. Bagaimana tidak, jika kau berniat membunuh seseorang dan langsung menikamnya, mungkin sakitnya hanya ketika terkena tusukan ujung belati. Namun ketika kau memfitnah seseorang, kau akan membunuh hatinya terlebih dahulu, mematahkan hidupnya, lalu lama-kelamaan dia akan mati bersama kerapuhan hatinya. Bukankah itu lebih kejam dari pada membunuhnya secara langsung?.
Rasulullah yang cukup gusar akan suara-suara negative tentang istri dan rumah tangganya, ia meminta pendapat kepada Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid. Zaid berpendapat, “Pertahankanlah keluarga Anda, Kami hanya tahu satu kata dari keluarga Anda, yaitu kebaikan.”
“Wahai Rasulullah, Allah tidak mungkin menjadikanmu bersedih dalam perkara ini. Sesungguhnya wanita masih banyak. Tanyalah kepada seorang wanita yang dekat  dengan Aisyah supaya bisa meyakinkan Anda,” begitulah jawaban Ali. Rasulullah kemudian bertanya kepada Barirah tentang aisyah, apakah ada sesuatu yang meragukan darinya. Barirah memantapkan hati Rasulullah dengan menegaskan bahwa tak ada sesuatu yang meragukan pada diri aisyah. dia hanyalah seorang wanita yang masih muda yang pernah tidur bersama adonan makanan, lalu memakan adonan itu. Demikian Barirah menceritakan tentang aisyah di hadapan Rasulullah.
Airmata yang keluar dari mata aisyah dan juga kesabarnnya dalam menunggu keadilan tuhan, membuat tuhan mewahyukan kalamnya kepada nabi Muhammad. Barulah nabi Muhammad bertambah yakin akan kesetiaan dan kesucian aisyah. Aisyah begitu bersyukur karena pada akhirnya ­dzoharol-haqqu wa zahaqol-baatilu innal-baathila kaana zahuwqo.  Sekilas, itulah yang ku pahami hari ini. Sebuah kisah cinta yang berpondasikan agama. Adakah yang bisa menghancurkannya? Sedangkan agama, allah sendiri yang akan menjaganya. Sebuah kisah cinta yang berdasarkan wahyu, sebuah cinta yang tak beralaskan apapun selain allah. Adakah yang dapat meruntuhkannya.
Sekitar dua jam kita kajian, hingga jam menunujukkan jam 10. 00 WIB. Pertemuan kali ini di akhiri dengan penuh ketegangan. “ teman-teman, saya tidak berharap apa-apa dari antum semua, yang saya harapkan hanyalah doa dari antum semua. . .” ucap nya dengan nada sedikit pelan, sebelum beliau menyelesaikan perkataannya ada salah seorang dari kami nyeletuk. “ciye… udah nentuin tanggal pak?” katanya, celetukan itu mendapat sambutan yang meriah dari yang lainnya sehingga semua bertepuk tangan. Melihat kegaduan kami, pak ainul menyuruh kami jangan ramai karena posisi kami sedang berada di masjid. Lalu kemudian beliau melanjutkan kata-katanya. “ doakan saya semoga saya dimudahkan dalam segala urusan, masalah saya diberi jalan keluar, karena saya yakin doa dari antum di istijabah oleh allah, karena antum adalah musafiruun fil-‘ilmi, jauh dari orang tua, berjuang di jalan allah. Seperti halnya yang biasa dilakukan oleh mahasiswa mesir, mereka selalu meminta doa kepada seorang musafir”. Dia berucap panjang lebar. Dan di akhiri dengan kata amin serentak dari kami.
Sembari meng-amini doanya, aku bertanya dalam hati. “ jika sekarang aku seorang musafir, lantas adakah tuhan kan menerima doaku sebagaimana yang di katakan oleh bapak ainul yaqin, adakah dia kan meng-kuliahkan ku di al-azhar setelah ini, akankah dia memberikanku kesempatan untuk belajar agama lebih dalam di mesir,” aku menghujat. Setiap kali aku mendengar nama mesir yang ia sebutkan, ku sempatkan diri untuk memohon kepada tuhan. “ yaa robbi ballighnaa nazuwru..” sebuah doa yang ku dapat dari salah seorang guruku.
Aku berharap dari sekian kata amiyn yang ku ucap ketika guruku mendoakan agar bisa ke kairo, ada satu saat dimana lafadz amiyn tersebut begitu berarti. Dan mampu menembus tujuh lapis bumi. Aku berharap ada satu dari sekian banyak amal ku. Membuatku layak untuk kuliah di kairo. Mengapa begitu? Karena aku terlalu dalam mencintainya, karena sungguh, aku mencintainya. Jika ku ibaratkan dalam ilmu nahwu, bukan hanya terdapat lafadz inna dalam cinta ini, namun juga terdapat laamut-tawkiyd yang berarti bahwa cinta ini penuh kesungguhan dan bukanlah sebuah kebohongan.
Huuuff….. aku memang selalu kehabisan kata-kata ketika membahas tentang kairo. Namun sama seperti dulu, kairo masih saja menjadi topic terfaforit yang ingin selalu ku baca. Kairo yang kukenal ketika masih di tsanawiyah. Saat itu di pelajaran sejarah kebudayaan islam, ku lihat sebuah gambar masjid yang penuh dengan menara. Warnanya yang kuning kecoklatan begitu menarik perhatianku dank u lihat namanya, ternyata masjid al-azhar di kairo. Kisahpun berlanjut, ketika belajar tentang tokoh pembaharu islam, hampir semuanya alumni al-azhar. Jelaslah sudah kapan rasa cinta untuk al azhar ini tumbuh. Rasa ketertarikanku akan ilmu agama dan isu tentang keilmuan azhar, itulah yang menjadi pengikat kuat dihatiku. Hingga akhirnya akupun harus menangis ddi akhir kelas tiga aliyah. Aku tidak dapat melanjutkan kuliah ku disana. Waktu itu aku berharap kepada tuhan agar tidakmembuatnya begitu menyakitkan ketika aku memang belum ditakirkan kesana. Dan tuhanpun menjawab doaku, ia member alasan yang begitu sempurna yaitu kelulusanku belum diumumkan dan aku belum bisa mengikuti seleksi kesana. Bukankah itu alasan yang cukup sempurna untuk tetap membiarkanku tinggal disini, untuk mengatakan bahwa kairo tidaklah pantas buat ku.
Momen yang begitu indah, adalah ketika kita melihat sayup-sayup hujan yang tampak begitu ganas. Masih di jendela yang sama, di dalam kamarku. Aku melihat menara al-akbar yang tampak samar lantaran hujan berjatuhan dengan begitu kencang. Lampu-lampu di setiap rumah di sekitar asrama pun sudah mulai tampak terang. Atap fakultas syari’ah tampak berkilauan lantaran rintik hujan yang dipadukan dengan semburat kilat di penghujung siang ini. Dingin yang begitu dalam kurasakan memaksaku untuk duduk dan melipat kedua tanganku. Aku jadi teringat cerita bapak ainul yaqin. Ia berkata bahwa cuaca di mesir begitu dingin dan bagi mereka yang punya khuf mereka biasa memakainya di waktu tersebut.
Kembali ku teringat ucapan kak maqbul ketika ku Tanya kapan ia kan berangkat.“ mungkin nanti bulan agustus, kenapa? Mau ikut ta? Tapi harus nikah dulu sama kakak, hehe.. Ntar aku ajak ke sungai nil” ia berkata lirih dengan senyum di pipinya. Astaghfirulloh… aku terbangun dari lamunanku. Ana uriyd, huwa la yuriyd, wa lakin ‘asallohu yuriyd. Aku terlalu banyak menghayal, dan ku tahu itu tidak baik untuk hafalan ku. Tidak baik bagi hubungan ku dengan al-qur’an. Karena yang ku dengar, al-qur’an adalah sangat pencemburu. Dan bagaimana jika ia enggan tinggal bersamaku. Huhu jangan begitulah,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,..
Tentang mesir, aku hanya dapat melihat dari foto-foto yang di upload oleh mahasiswa yang sedang menempuh disana. Dengan berbagai pose yang mereka upload dan berlatarkan pyramid, mereka seakan menertawaiku. Aku yang hanya bisa melihatnya dari kejauhan, hanya bisa mengelus dada seraya berucap. “astaghfirulloh, ampunilah aku ya allah, karena aku begitu berambisi untuk bisa kuliah disana”. Bagaikan laut yang penuh dengan gelombang, rasa percayaku juga begitu. Kadang keinginanku itu menjadi redup ketika salah seorang teman lamaku mengatakan, “kalau s2 disana sulit, apalagi bagi yang S1-nya tidak disana”. Berubahlah raut wajahku.
Namun apa yang dikatakannya sangat berbeda dengan apa yang dikatakan dosen intensif bahasa arab ku, dia berkata” pelajarilah bahasa arab dan bahasa inggris, karena dengan begitu kalian bisa kuliah diluar negeri, baik di mesir, sudan ataupun yang lainnya, jangan pernah putus harapan, karena harapanlah yang menggerakkan hati, dan hatilah yang menggerakkan kaki, dan ketika kaki telah bergerak, entah itu cepat atau lambat pada akhirnya ia akan sampai pada tujuan, bersabarlah, karena dengan kesabaran, seseorang akan mendapat semua yang ingin  ia dapat, karena dengan kesabaran, seseorang bisa mencapai derajat yang tinggi.
Dinginlah perasaan ku. Dosen-dosen ku disini kebanyakan alumni luar negri, baik itu dari kairo, Saudi Arabia, sudan, atau bahkan wakil dekan yang alumni Australia. Dan kebanyakan dari mereka tidak membayar biaya kuliah sendiri, melainkan mereka mendapat beasiswa. Baik dari kementrian agama ataupun dari luar negri itu sendiri. Akupun ingin menjadi salah satu dari mereka. Sedang pak prof, guruku yang satu ini mendapat gelar guru besar karena penemuan dan karyanya terapi solat bahagia . walaupun dia bukan alumni luar negri, akan tetapi dia sudah pernah berkunjung keberbagai negri di belahan dunia seperti: London, Taiwan, cina, hongkong, dll. Pada bulan Ramadan, merupakan kebiasaannya pergi keluar negri untuk menjadi khotib ataupun imam di masjid-masjid di luar negri. Kepandaiannya dalam berbahasa inggris membuatnya menjadi guru internasional. Takwanya kepada tuhan, membuat ia memperoleh derajat tinggi disisi tuhannya. Hal itu dapat dilihat dari tingginya derajat pak prof di hati mahasiswanya. Mengenal pak prof adalah suatu anugerah terindah yang tuhan berikan dalam hidupku. Aku berharap tuhan memberiku kesempatan ketiga, keempat, dan seterusnya. Hingga pada semester selanjutnya aku masih selalu bersamanya.
“Tuhan, kabulkanlah harapan ku, tetapkanlah pak prof dalam kelas ku selama aku masih berada di dalam kelas kampus ini, karena aku masih ingin bersamanya, tolong jangan ambil dia dari kelas ku tuhan, aku takut cahaya dihati ini padam ketika aku terlalu lama jauh dari seseorang se-soleh dia” ucapku penuh harap. Bagaimana mungkin kita sebagai mahasiswa nya bisa jauh darinya. Ia yang begitu perhatian terhadap mahasisiwa nya, memang layak mendapat tempat khusus di hati kami, ia memang layak mendapat gelar guru besar. Namun bagi ku masih belum cukup, ia bukan hanya guru besar, akan tetapi dia adalah guru pembesar, pembesar hati kami yang hari-demi hari kian ciut dan mengecil.
Banyak yang dapat ku lihat dari sosok dirinya. Wibawanya, kearifannya, dan juga kepeduliannya terhadap kami. Ketika dia menghadiri sebuah acara di Jakarta, dan kelasnya diganti oleh asdosnya, ia sempatkan diri untuk nelfon asdos tersebut dan menanyakan tentang kami. Kami segera berkumpul mendengarkan suara pak prof dari dalam telfon. Diantara padatnya jadwal, ia masih sempat menelfon dan memberi semangat pada kami. Subhanalloh, pernahkah kalian mempunyai guru seperti itu? Atau adakah guru seperti itu dimasa kini? Aku selalu berharap, bahwa suatu saat aku akan sukses dan bisa mengikuti langkahnya. Ia yang tak hanya pandai berkata-kata. Ia yang tak hanya menyuruh orang lain, namun dia yang juga menyuruh dirinya sendiri.
Aku percaya bahwa masih ada warisan para nabi yang tersisa hingga saat ini. Warisan itu adalah para ulama’ yang memang menjalankan syari’at dengan sebenar-benarnya. Sebagamana yang dikatakan rasululloh al-ulama’ warotsatul anbiyaa’ . karena lewat merekalah, kita bisa mengenal siapa nabi Muhammad, bagaimana perjalanannya, dan bagaimana ahlaknya. Dan tentang ahlak rasululloh sebagaimana yang diriwayatkan oleh aisyah ra. Ketika ditanya tentang ahlak rasululloh yaitu bahwa al-qur’an adalah ahlak rasululloh. Yang mana hal itu berarti bahwa semua yang rasululloh amalkan berasal atau bersumber dari al-qur’an yang diturunkan kepadanya.
Terkadang aku berhayal, andai aku hidup di masa rasululloh. Andai aku bisa melihat wajah rasululloh. Namun saat aku berhayal seperti itu, aku seakan ditentang oleh suatu bisikan “ engkau berhayal untuk hidup di masa rasululloh, lalu bagaimana jika iya,  akan tetapi misalkan pada saat itu engkau berperan sebagai seseorang yang ingkar terhadapnya, bersyukurlah karena walaupun kau tidak hidup di masanya namun kau beriman kepadanya, kurang apa dirimu? ” memang benar apa yang dikatakan oleh bisikan tersebut. Untuk apa aku hidup di masa rasululloh, melihat wajahnya, jika aku tidak beriman kepadanya. Apakah aku akan mendapat gelar sahabat rasul? Dan akan hidup dengannya di surga? Tidak! Karena sahabat adalah mereka yang pernah bertemu rasululloh dan beriman kepadanya.
Aku jadi teringat cerita pak ainul yaqin tentang rasululloh yang mana dia pernah bersabda “ikhwaaniy, ikhwaniy, ayna ikhwaniy?” hal itu juga kutemukan dikitab al-mawaa’idzul ‘ushfuwriyah , kitab yang juga menjadi motifasi untukku. Disana disebutkan bahwa iman yang paling menakjubkan adalah imannya ikkhwanu rosulillah, siapakah mereka? Disebutkan pula bahwa ikhwan adalah mereka yang hidup setelah rasululloh dan tidak melihat rasululloh, namun mereka beriman kepadanya dan membenarkan kerasulannya dan semua yang dibawa oleh rasululloh. Masyaallah, begitu adilnya agama ini. Terkadang aku berfikir. ” enak ya, hidup bersama rasululloh, bisa langsung bertanya tentang nasib yang akan diperoleh di akhirat, apakah surga ataukah neraka?” namun akupun bersyukur karena mengetahui apa yang rasululloh katakana tentang umatnya yang hidup dimasa kini. Alhamdulillah.
“terdapat dua kenikmatan yang lebih nikmat dari nikmatnya sehat yaitu nikmatnya iman dan islam dan juga nikmatnya menjadi umat nabi Muhammad” itulah yang selalu ku dengar dari pak ainul yaqin. Aku jadi teringat kisah rasululloh ketika dia sakit dan mendekati ajalnya. Bukan keluarganya yang ia cari, bukan anaknya yang ia khawatirkan, tapi apa? “ ummatiy…ummatiy…ummatiy…” ia menghawatirkan dan memikirkan umatnya bahkan ketika ia hendak merasakan sakitnya naza’ . dia memohon kepada allah agar allah melimpahkan kepadanya semua rasa sakit yang akan diderita umatnya ketika dalam sakarotul maut. Allohumma solli ‘ala Muhammad.
Ya allah orang sebaik itukah, orang semulia itukah yang ingin dibunuh oleh orang kafir, betapa kejamnya mereka. Kini aku mengerti, kenapa semua sahabatnya rela mempertaruhkan nyawanya untuk rasululloh, menemaninya di hari-hari rasululloh. Karena dia memang pantas mendapatkannya, dia memang layak untuk itu. Dia yang menjadi alasan diciptakannya alam semesta ini sebagaimana yang disebutkan dalam hadits qudsi lawlaaka..lawlaaka yaa Muhammad, lamaa kholaqtul-aflaaq.
Ketika mendengar kisah tentang rasululloh, seakan semua hati kan terpana. Jika nabi yusuf membuat semua orang terpana dengan ketampanan wajahnya, nabi daud dapat menghentikan air yang mengalir dengan kemerduan suaranya, nabi sulaiman dengan kekayaan dan kewibawaanya, maka rasululloh hanya dengan keagungan namanya, dia mampu memesona dan menarik semua hati, yaitu hati mereka yang memang bersih, hati yang memang mengharap keridloan allah. Pagi ini, biarkanlah aku bersajak sebuah syair yang ditulis oleh imam al-busiri. Sebuah syair yang berisi  tentang rasululloh dan semua keindahannya,
Mawlaaya solli wa sallim daaiman abadaa # ‘ala habiybika khoyril kholqi kullihimi
Amin tadzakuri jiyronin bidziy salami # mazajta dam’an jaroo min muqlatin bi damii
            Pagi ini aku begitu bergelora, mengingatnya membawa keindahan tersendiri. Kitab  berwarna kuning yang berjudul Muhammad berisi tentang ciri-ciri dan sifat-sifat rasululloh. Kitab yang ku pinjam dari om ku itu menjadi referensi tentang rasululloh. Tapi sayangnya, aku lupa membawanya bersamaku ke Surabaya ini. Karena andai aku memahami secara detail apa yang dicirikan tentang rasululloh oleh kitab itu, sedikit mungkin aku tergambar tentang rasululloh. Di Surabaya ini, aku bersyukur kepada allah yang telah mempertemukan dengan orang yang begitu sangat mencintai nabi Muhammad, menampakkan senyum yang lebar ketika mendengar nama rasululloh, hingga lisannya tiada henti bersolawat atas dirinya.
            Bersolawat kepada rasululloh bagaikan sebuah cangkir yang dibawahnya terdapat piring kecil. Jika diIbaratkan rasululloh adalah cangkir tersebut, dan kita adalah piring yang berada dibawahnya, sedangkan solawat yang kita persembahkan baginya adalah teh yang mengisi gelas tersebut. Kemenakah larinya teh tersebut ketika sudah penuh? Bukankah ke tempat yang paling dekat dengan gelas tersebut?. Itu artinya walaupun kita bersolawat kepada rasululloh, namun manfaatnya tetap sampai pada kita. Karena tanpa solawat dari kita, rasululloh sudah jelas masuk surga. Lantas untuk apakah solawat dan salam kita kepada rasululloh?. Rasul menyebutkan bahwa orang yang paling bakhiyl ialah orang yang jika mendengar nama rasululloh disebut, ia tidak bersalawat kepadanya. Maukah kita mendapat gelar abkholun-naasi?. Pastinya tidak kan??? Maka mari kita biasakan diri dengan solawat. Lagipula karena rasul bersabda. ” man solla ‘alayya waahidatan, sollallohu ‘alayhi ‘asyron”.
            Pagi ini, ditemani dengan suara dzikir yang menggelegar dari suatu masjid di belakang asrama. Aku melihat tingginya langit dan kekokohannya. Begitu kuasanya tuhan yang telah membuatnya dengan dekorasi yang begitu indah. Terdengar deringan yang berasal dari telfon ku. Ku lihat ternyata ada yang menelfonku. Nomer yang tampak seperti nomer Malaysia adalah nomer ibuku. Hari ini dia menelfon ku. “halo, assalamu’alaikum nak” terdengar suaranya yang sangat ku rindu. “iya ibu, waalaikum salam” aku menjawab salamnya. “bagaimana kabar mu nak? Sedang apa disana sekarang?”. Dia bertanya keadaanku. Mungkin karena sudah beberapa hari ini dia jarang menelfon ku. Akupun memahaminya karena tarif nelfon dari Malaysia ke Indonesia sangat mahal. “Alhamdulillah baik bu, ini sedang ngetik. Ada tugas yang harus ku selesaikan besok, ibu lagi apa? Enggak kerja” aku balik bertanya. Ia yang hanya bekerja sebagai kuli bangunan, namun aku begitu sangat menyayanginya. Sayangilah dia ya tuhan, jagalah dia, sehatkanlah selalu dirinya.
            “enggak, ibu enggak kerja, karena om mu lagi sakit, jadi ibu enggak kerja”. Jawabnya lirih. ” sakit? Sakit apa bu?” tanyaku dengan penuh rasa ke hawatiran. “ini, kayak ada benjolan gitu di pipinya, sudah tiga hari.. oh ya kamu udah tau enggak  kalau mbak mu mau di operasi?” katanya. “di operasi? Kapan bu?” aku bertanya lagi. “masih belum tau, masih nunggu hasil cek besok”. Jawabnya. Panjang lebar aku mengobrol dengannya hingga membicarakan masalah liburan semester ku yang akan mendatang. “aku pengen cari pondok yang dikhususkan ubtuk ngaji kitab atau tahfidz qur’an bu, mumpung Ramadan dan liburannya agak lama” curhatku padanya. “ nanti kalau misalkan biaya operas mbak mu tidak  begitu mahal, ibu usahain biayain kamu nak” katanya merespon ku. “iya bu, ya walaupun gak jadi mondok romadon, aku tetap akan mengaji kitab kuning pada aba salim bu. Karena alfiyah yang ku pelajari darinya belum hatam. Tapi jika ada kesempatan, saya pengen belajar kitab yang belum pernah saya pelajari agar pengetahuanku lebih luas”.
            “iya nak, insyaalah. Doain saja ibumu ini, agar mendapat rizqi yang banyak sehingga dapat membiayai mu, selama kamu masih di jalan allah jangan pernah berputus asa” ucapnya menasehati ku. “iya bu, insyaalah. Aku mohon doa ibu”. “ yaudah dulu nak, jaga dirimu baik-baik, jaga kesehatan, jangan terlalu banyak mikir agar kamu gak sampai sakit, assalamu’alaikum” ucapnya mengkhiri percakapan pagi ini.  “iya bu, waalaikumussalam” jawabku dank u matikan telfonnya.
            Begitulah hebatnya seorang ibu. Walaupun ia sedang menangis tersedu-sedu namun ketika anaknya hendak mengetahui tangisnya, ia dengan sepontan mengubah tangisannya menjadi tawa. Lalu bagaimanakah dengan seorang anak? Mampukah dia berbuat demikian? Maukah dia berkorban untuk ibunya? Maukah dia mengusap air matanya?. Disebutkan, bahwa seorang anak tidaklah akan mampu membalas jasa kedua oang tuanya, hanya saja ketika ia istiqomah membaca doa robbi ighfirliy dzunuwbi wa liwalidayya warham huma kama robbaya niy soghiyroo  untuk kedua orang tuanya di setiap selesai solat lima waktu pahalanya akan menyamai jasa mereka dan bukan berarti kita sudah membalas jasanya. Oleh karena itu, sayangilah kedua orang tua, sebelum terlambat! Sebelum kalian tahu bagaimana sakitnya ditinggalkan oleh mereka, sebelum kalian kehilangan kasih sayang yang tulus dari mereka. Karena kau takkan pernah tau betapa berartinya mereka dalam hidup ini, sampai kau merasakan betapa hampanya hidup ini tampa mereka, begitu keras dan kejamnya hidup ini. Dan kau kan melalui dan menghadapinya tanpa mereka yang begitu dalam mencintai, begitu tulus mengasihi. Jangan lupakan hadits rasul yang berbunyi birru aabaa’akum tabirrukum abnaa’ukum.
            Jari-jemari ini telah lelah berolahraga diatas tombol-tombol keyboard. Fikiranku pun telah kaku terbawa oleh dinginnya  pagi ini. Aku kehabisan pembendaharaan kata.  Hingga aku harus termenung terbawa keadaan. Terkadang aku merasa lelah menunggu. Menunggu saat aku akan terbang ke luar negri untuk mencari ilmu. Namun setelah aku kembali padaa kenyataan, akupun merasa takut, akupun masih ragu akan kesanggupanku. Detik ini, kumpulan tugas yang memenuhi mejaku, membuat pening kepalaku. Hingga akupun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
            Terdengar suara palu membentur paku, bak bunyi pedang yang diadu dalam sebuah peperangan. Suara yang berasal dari sudut timur asrama itu membangunkan lamunanku. Ia menyadarkanku bahwa aku harus melihat apa yang ku dengar. Aku mulai mengintip dari jendela dan kulihat para kuli bangunan sedang menukar peluh mereka dengan uang. Mereka mengingatkanku pada pekerjaan ibuku, mungkin hal semacam itulah yang menjadi pekerjaan itbuku. Airmata ini meleleh tak tertahankan, mengingat wajah ibuku yang mungkin di setiap harinya ia berada di sekian banyak lantai untuk bekerja. Hanya tuhan yang mampu menjaganya, oh tuhan, jagalah ia. Karena dia begitu berharga dalam hidupku.
            “berterima kasihlah kepada tuhan, karena ia memberimu ibu yang hebat, dan berterimakasihlah kepada ibumu atas apa yang ia berikan untukmu, semua kebutuhanmu yang ia tanggung sebenarnya bukanlah kewajibannya, hanya saja kasih sayangnya yang membuat ia melakukannya, karena engkau sudah mukallaf” kata-kata itulah yang ku ingat dari Aba Salim, om ku sekaligus guruku. Terkadang aku merasa tidak nyaman untuk meminta sesuatu kepada ibuku, karena aku tau dia bukanlah orang yang bergelimang harta. Hanya saja kerapuhan diriku membuat ku belum mampu untuk memenuhi kebutuhan diriku sendiri apalagi untuk membantu orang tuaku.
            Rajin belajar, itulah yang selalu ibu ucapkan padaku. Dan aku harap tuhan membantuku untuk menjalankan pesannya. Karena ku tahu tuhanlah yang dapat melakukan semua itu. Memang, hidup itu kadang tak sejalan dengan apa yang kita harapkan, namun apakah karena hakikat hidup seperti itu, apakah kau akan memilih untuk mati? Hidup dan mati bukanlah pilihan, yang terpenting adalah kita mampu melakukan yang terbaik selama hidup ini. Menangis dan meratap ialah hakikat doa kita kepada tuhan, karena terkadang tuhan hendak melihat ratapan dan tangisan mereka didepannya.
            “Semua orang berhak memilih dan menentukan jalan hidupnya. Dan pilihan awal adalah sebagai penentu hasil akhir. Jangan pernah salah memilih, karena setiap pilihan ada resiko dan pertanggung  jawabannya. Lihatlah, selagi engkau bisa melihat. Dengarkanlah selagi engkau mendengar, dan menangislah selagi tuhan memberikanmu kesempatan untuk menangis. Jangan pernah ragukan keputusan tuhan. Karena dia adalah tuhanmu, dia yang merawatmu, dia yang mengatur hidupmu”. Sore ini aku bertingkah layaknya lukmanul hakim. Namun begitulah caraku mendorong diriku. Caraku memberitahu nafsuku. Dan tentang harapanku, aku masih saja menunggu keputusan tuhan, karena al-insaan bit-tafkiir wallohu bit-tadbiir.  Mungkin kata itulah yang dapat mewakili semua renaungan ku tentang masa depanku. Tentang masa depan yang akan ku tempuh. Semoga saja selalu ada kesempatan untukku menjadi wanita yang berbakti kepada orang tua dan untuk menjadi seorang professor wanita. Namun keinginan terbesarku untuk saat ini adalah agar aku hafal al-qur’an sehingga aku apat member syafa’at terhadap Sembilan anggota keluargaku sebagaimana yang selalu om ku katakana.
Tafsir Bki adalah mata kuliah yang dipegang pak prof untuk semester ini. Mata kuliah yang berisi tentang acuan dan dasar-dasar bki yang bersumber dari ayat al-qur’an. Metode diskusi untuk kali ini berbeda dengan metode pada semester satu. Jika pada semester awal mekanismenya dengan cara membuat makalah lalu mempresentasikannya didepan kelas, kali ini dia hanya meminta kita untuk mengambil dari satu referensi tafsir. Kali ini dia hanya menyuruh kami untuk menulis munasabah dan tafsir dari ayat yang menjadi landasan bki tersebut lalu kemudian memberikannya kesimpulan.
            Ia membagi kami yang berjumlah tigapuluh orang kedalam tiga kelompok. Setiap kelompok diminta untuk memilih salah satu dari ketiga tafsir yang ia ajukan yaitu: tafsir al-munir, tafsir al-azhar dan tafsir ibnu katsir. Aku memilih tafsir al-munir untuk ku jadikan referensi karena hanya al-munir lah yang berbahasa arab. Lagipula disamping aku belajar tafsir ayatnya, aku juga bisa menambah kosakata bahasa arab ku. Karena jika aku menemukan arti lafadz yang tidak ku pahami artinya, otomatis aku akan mencari tahu. Baik dari kamus al-munawwir yang baru-baru ini menjadi milikku ataupun dari kamus berjalan yaitu guruku.
            Awalnya memang terasa berat, namun setelah dijalani semuanya terasa mengalir begitu saja. Metode diskusi kali ini yaitu dengan membacakan satu ayat lalu dari setiap kelompok tafsir membacakan munasabah, tafsir, dan kesimpulan masing-masing. Baru kemudian setelah itu ada penjelasan secara mendalam oleh pak prof ataupun dari bapak ainul yaqin. Penjelasan yang terlihat begitu serius dari bapak ainul yaqin menampakkan kedalaman ilmu yang ia timba dari kairo. Ah… kairo lagi, mulai deh!!! Sudahlah kairo, jangan goda aku lagi!!
            Setelah beberapa minggu kemudian kami diberitahukan tentang ujian tafsir tersebut. Ujiannya pun masih seperti semester kemaren. Ujian tulis yang diadakan setiap minggu. Kisi-kisi soalpun masih sama, kita hanya disuruh memilih jawaban benar atau salah dan meneruskan ayat yang dibacakan. Namun yang berbeda, kali ini yang membuat soal adalah pak ainul yaqin. Karena pak prof telah mempercayakannya pada pak ainul yaqin. Masih sama sih sebenarnya dengan soal-soal pak prof, namun disini soalnya banyak sekali menipu. Kalau kita tidak jeli pastilah kita tertipu. Ya iyalah wong pilihannya benar salah aja, coba ada  pilihan bisa jadi pasti semua kertas terisi dengan pilihan itu.
            Sementara pak prof, awalnya dia tidak menentukan batas akhir dari pengumpulan tugas. Hanya saja setiap minggu ia mengoreksi dan melihat sudah seberapa jauh soal itu di kerjakan. Walaupun kami sudah begitu berhati-hati dalam pemilihan kata yang tepat ataupun dari hal kepenulisan, namun ada saja kesalahan yang ditemukan oleh pak prof setiap minggunya. Mungkin karena pak prof lebih teliti dan dia lebih berpenglaman disbanding kami. Ya iyalah, siapa dulu pak prof gitu lohh!!! . akupun sampai keheranan jadinya. Hingga akhirnya ia menentukan dua minggu lagi adalah batas terakhir dari pengumpulan tugas dan itu merupakan hasil akhir dari tugas tafsir tersebut.
            Memang ilmu itu merupakan perhiasan bagi seorang pemuda. Orang berilmu tampak berkilau indah, walaupun ia tak seindah itu. Ilmu lah yang menghiasinya. Pembahasan dari pak ainul yaqin terdengar sangat begitu jelas. Cara dia melafadzkan ayat al-qur’an pun begitu fasih terdengar ditelinga. Hanya telinga mereka yang disumpal menggunakan headset lah yang mungkin tidakkan mendengar. Andai aku bisa sepintar pak prof dan pak ainul. Aku pasti memiliki dasar dari setiap yang ku ucapkan baik itu dari al-qur’an ataupun hadits. Kisah-kisah yang selalu diceritakan oleh pak ainul begitu kuat membangitkan semangat. Andai,,,,,
            Aku sempat berfikir dan membandingkan. Bapak ainul yaqin kuliah di al-azhar jurusan hadits begitu luas pengetahuannya tentang al-qur’an. Lalu bagaimana dengan kak maqbul yang jurusannya memang murni tafsir dan sekarang sedang menempuh s2 disana. Wah..wah..wah.. aku sampai tak mampu membayangkannya. Andai saja,… ah ..sudahlah jangan terlalu banyak berandai-andai. Seperti kata lagu kesukaan ku.  Menghayal, jangan tinggi-tinggi, takut jatuh gak punya gigi. Hehe. Sudahlah kembali lagi ke pak ainul, nanti kalau membahas kak maqbul akan membutuhkan banyak tinta dan lembar.
            Sudahlah berhenti melayangkan pikiran!!! Nanti kalau jatuh beneran sakit loh!!! Suara adzan asar membangkitkan ku dari berbaring penuh kesungguhan. Entah berapa lembar lagi yang harus aku tulis, namun suara adzan sudah memamnggilku. Aku kerahkan seluruh fikiranku untuk segera menyelesaikan tugas ini. Karena aku belum belajar buat persiapan ujian tafsir besok. Oh tuhan aku lelah sekali. Seperti yang dikatakan oleh salah seorang dosen ketika matrikulasi di hotel GREEN SA bahwa cara belajar  mahasiswa untuk saat ini ialah sistem SKS yaitu singkatan dari Sistem Kebut Semalam. Ujian besok, baru mala mini semalaman belajar, ngebut lagi. namun sebenarnya itu bukan kebiasaan ku, hanya saja karena cuaca tidak mendukung, mungkin malam ini harus ku praktekkan sistem SKS tersebut, ah… ibu dosen tau aja…
Bertanyalah aku pada waktu
Tentang cepatnya  ia berlalu
Bertanyalah aku pada  nafas
Tentang spontannya ia berhenti
Namun adakah mereka menjawab?
Tidak,, semuanya membisu,  karena mereka tidak juga tahu
            Sore ini aku berjalan memburu waktu, mengejar senja yang perlahan-lahan mulai berubah warna. Segerombolan capung membisikkanku tentang malam yang jika allah izinkan akan berlabuh. Dimanakah ku berjalan kini? Mengapa jalan ini begitu keruh? Mengapa jalan ini begitu bising? Aku melangkah di tepian jalan. Waktu tanpa henti terus berlalu membelakangiku. Haruskah aku berlari cepat, ataukah waktu akan bermurah hati menungguku.
            Masaku untuk tinggal di asrama kampus, kini sudah mulai mendekati ajalnya. Mungkin dua bulan lagi aku sudah tidak perlu menapaki berpuluh-puluh anak tangga layaknya yang kuhadapi sekarang. Tapi aku masih bingung, dimana aku akan memilih untuk tinggal. Apakah di pondok, atau di rumah dosen atau di kontrakan? Entahlah… aku masih dalam dilema. Namun apapun tempat yang akan ku tempati, aku berharap takkan ada sesuatu yang menjerumuskan ku pada dosa. Aku takut jika harus tinggal di kos-an ataupun tinggal di tempat yang dipenuhi berbagai macam manusia.
            Aku tak ingin apa yang ku lihat di tempat kos waktu itu terjadi pada diriku. Mereka berbaur antara lelaki dan wanita tanpa perduli batas-batas yang seharusnya tidak di lampaui. Si perempuan pun dengan kaos pendeknya sudah tidak malu lagi untuk bersandar kepada si pria. Mereka sudah terlihat seperti suami istri saja. Sungguh aku begitu takut kejadian itu akan menimpaku. Aku takut rasa cinta merusakku. Oh tuhan,, jagalah aku, kumpulkan lah aku bersama orang-orang soleh yang semakin menguatkan iman ku dan bukan melemahkannya. Aku tau bahwa imanku tidak seteguh iman nabi musa yang walaupun ia dirawat oleh fir’aun, namun ia tetap bertuhankan Allah. Lingkungan yang ku tempati, mungkin saja membawaku pada kenistaan.
            Namun ketika allah menjaga dan memberiku hidayahnya, takkan ada yang bisa menyesatkanku. Karena man yahdillahu fa laa mudlilla lahu, wa man yudllilhu  fa laa haadiya lahu  allah lah yang membolak-balikkan hati seseorang, dan dia pulalah yang dapat menetapkan hati seseorang. Allohumma tsabbit quluwbana ‘ala diynika!!! . sungguh aku begitu hawatir jika tinggal di kos-an, karena walaupun kita tidak ada niat untuk berbuat miring, kadangkala ada orang iseng yang meniatkannya, sehingga kadang kita pun bisa terjerumus kedalam dosa.
            Kehawatiran ini sedikit mulai reda. Karena pada saat ada kumpul bersama, aku utarakan keinginan dan alasan ku kepada bapak agus sebagai pengelola PBSB di UIN SA. Aku utarakan maksudku untuk tinggal di pondok  jam’iyatul huffadz yang berada tepat di belakang asrama yang ku tempati sekarang. Ia merespon bahwa dari dulu, dari tahun-tahun sebelumnya, dia memang punya rencana untuk menempatkan kami di pondok, atau di rumah para dosen. Namun karena berbagai kendala, rencana tersebut dibatalkan. Dan untuk saat ini aku menunggu keputusan pak agus. Aku berharap aku bisa tinggal di asrama JH tersebut. Akupun banyak bertanya tentang JH kepada ustadzah naily, musyrifah lantai lima yang  juga merupakan Alumni JH. Ustadzah  berparas cantik yang biasa menyema’ hafalanku. Katanya untuk masuk ke JH, persyaratannya harus hafal lima juz. Akupun tidak terlalu keberatan. Ustadzah nailiy yang kini mungkin sudah menghafal 30 juz, dulu juga tinggal di asrama JH. Aku ingin mengikuti langkahnya, aku benar-benar ingin menghafalnya hingga benar-benar melekat dihatiku dan bisa ku amalkan dalam keseharianku.
Ah.. malam ini asrama begitu gelap, semua lampu di asrama dimatikan sehingga membentuk gelap yang begitu menyeramkan. Malam ini di PESMA ada lomba MHQ yang diadakan oleh pusat ma’had al-jami’ah sebagai lomba tahunan yang selalu ditempatkan di akhir tahun sebagai acara perpisahan. Pengumuman dari  dewan mahsiswa begitu memekakan telinga. “assalamu’alaikum, kepada semua mahasiswa agar bersiap-siap untuk berangkat ke pesma, dan apabila tidak segera turun maka lampu-lampu akan dimatikan” begitulah isi pesan yang kami terima dari speaker/ pengeras suara. Aku begitu malas mengikuti acara tersebut, disamping karena tugasku belum selesai, aku juga belum belajar buat besok. Jadi maafkan aku ya mbak-mbak, bukan berniat tidak menghargai, tapi coba pahamilah….
Waduhhhh… gelapnya malam ini begitu mencekam. Hingga membuat mata ini takut untuk membuka. Aku teruskan perjalananku diatas muka bumi dengan mengatas namakan cinta tanpa ku sadari aku menginjak duri_duri yang bertaburan dalam hidupku. Ku arahkan seluruh pandangan ku ke atas tingginya langit tanpa peduli berapa kali aku terperosok kedalam jurang_jurang yang terdapat disepanjang jalanku dalam hidup ini. Ku tak ingin menghentikan harapanku yang menjadi jembatan untuk kebahagiaanku, aku lebih ingin menangis sebab keputusanmu ya robb daripada aku harus menangis karena telah menghentikan harapan yang telah membaur di setiap nafas yang telah ku hembuskan.
Aku memang ingin mencapai cita-citaku itu ya robb, aku hanya ingin menjadi wanita solehah dan mengenal semua tentangmu hingga aku dapat berkisah kepada semua orang tentang agungnya cintaku, tentang keindahanmu, tentang bahagiaku mengenalmu.Bahkan saat aku gagal mendapatkan semua itu dengan harapan ku yang ini, aku mohon beri aku cara lain untuk mendapatkan cinta mu, aku hanya ingin merasakan bagaimana manisnya mencintaimu sebagaimana hambahamba pilihanmu yang telah merasakannya.Aku bagai  daun kering yang di gugurkan pohon jati saat musim kemarau, aku pun tak menyalahkannya karena ia melakukan itu sebatas ia menjalani kodratnya sebagai pohon jati.
Adakah angin malam berkisah tentangku padamu, adakah deburan ombak sungai nil membisikkan mu. Ataukah butiran debu menyapa kedua matamu dan membuat kau menyadari. “ ku telah miliki, rasa indahnya perih ku, rasa hancurnya harapku tuk lepas cintaku, rasakan abadi, sekalipun kau mengerti, sekalipun kau pahami, ku fikir ku salah mengertimu. ho wo aku hanya ingin kau tahu besarnya cintaku, tingginya hayalku bersama mu, tuk lalui waktu yang tersisa kini, disetiap hariku, disisa akhir  nafas hidupku. Walaupun semua hanya ada dalam mimpiku, hanya ada dalam anganku, ku lewati itu….” Hanya ingin ku tahu, lagu grup band republik malam ini menemaniku.
Perutku yang mulai tadi pagi bersentuhan dengan lantai begitu kaku kurasa. Lelahnya malam ini begitu membebaniku. Seharian ini aku sampai tidak punya kesempatan untuk mengaji karena sehabis solat aku langsung meraih leptop untuk melanjutkan mengetik. Makalah dinamika kelompok yang  akan ku presentasikan hari selasa lusa juga belum aku buat. Ah.. sekeras inikah hidup?. Persendian ku juga mulai terasa kaku. Lidahku pun begitu kelu. Kapankah aku akan sampai pada lembar terakhir hingga aku dapat merapatkan kedua pipiku diatas bantal, membenamkannya diatas empuknya kasur yang ku tempati. Seharian inipun aku hanya bermodalkan mie instan yang memang aku selalu siagakan untuk rasa lapar yang terkadang datang secara tiba-tiba. Aku tidak tahu bagaimana nasib perutku berikutnya, yang paling penting adalah aku mempunyai energi  untuk menyelesaikan dan tetap kuat untuk melanjutkan. Ah… aku lelah sekali ya allah…
                                                           

Terima Kasih
Anda Sudah Terdaftar dan Telah Mendapatkan Nomor Pendaftaran/Registrasi.
Nomor Registrasi Seleksi Timur Tengah BERLAKU jika kelengkapan berkas pendaftaran
telah diserahkan dan divalidasi oleh pada Panitia Setempat.
Kartu Peserta sewaktu-waktu dapat dicetak melalui fasilitas pencarian Nama atau dari menu Data Pendaftar
dengan memilih kolom No.Registrasi pada tabel Data Pendaftar

















KARTU PESERTA
SELEKSI MAHASISWA TIMUR TENGAH 2014/2015
[ Mesir ]

Foto 3 x 4

Nomor Registrasi :
MS -802/1176/DIKTIS/2014

Nama :
SOFIATUL JANNAH

Asal Sekolah : MA NURUL ULUM
JADWAL UJIAN
Hari dan Tanggal Ujian
Ujian
WIB
WITA
Sabtu, 24 Mei 2014 (Tahap I)
a. Tulis
b. Lisan
09.00 - 11.00
12.00 - selesai
10.00 - 12.00
13.00 - selesai
Sabtu, 14 Juni 2014 (Tahap II) ** (Khusus Mesir)
a. Tulis
b. Lisan
09.00 - 11.00
12.00 - selesai


...........,...............................


Lokasi Ujian : UIN Malang
( ........................... )
*) Kartu Harap dibawa Selama Ujian
**) tahap II Lokasi Ujian di UIN Jakarta

Top of Form
Bottom of Form


           

            Huff…aku kembali pada kisah bulan mei tahun lalu, dimana aku gagal mengikuti seleksi. Karena memang tak ada kesempatan bagiku. Aku tiada henti menunggu saat dimana tuhan akan memberiku kesempatan untuk kembali mendaftar dan mengikuti seleksi. Walaupun aku tidak lulus di tahap seleksi, setidaknya aku tau bahwa alasan kegagalan ku memang karena dari diriku yang mungkin belum punya banyak ilmu. Dan kini  Aku terbaring mengapusi hati yang tengah merintih menderita karena cita. Cita yang seharusnya telah hilang  terbawa kencangnya arus angin selama setahun ini bersama hilangnya satu orang dari kaum adam yang pernah memberitahuku bagaimana manisnya cita hingga lupa memberitahuku bahwa dalam cita juga ada rasa pahit. Kini, ku terpuruk bersama luka yang tak kunjung mengering.
            Detik ini aku merasa ronggaku mulai sesak, deru pesawat yang barusaja lepas landas dari bandara juanda menyapa telingaku. Kembali ku tertegun dan mengucap sebuah doa dalam hati “ ya tuhan, kapankah pesawat itu akan membawa aku ke kairo? Adakah kau kan memberiku kesempatan?”. Aku terus memohon. “dek, mohon doanya ya dek, adikku lagi ikut test ke kairo juga, doain dia ya semoga lulus” ku ingat kata-kata kak maqbul yang sudah hampir satu tahun yang lalu. “iya kak, pasti aku doakan”.ucapku.
            Nurul Ida Hidayati, dia adalah adik kak maqbul yang kini sudah berada di kairo. Ketika pengumuman kelulusan seleksi PBSB, pada saat yang bersamaan pengumuman seleksi timur tengah sudah di pampang. Ku download kedua soft file yang keduanya berisi pengumuman kelulusan. Dan inilah cara takdir mempermainkan ku. AKU lulus PBSB, dan nama NURUL IDA HIDAYATI , namanya berada diantara deretan-deretan dalam pengumuman kelulusan seleksi timur tengah.
            Bagai lagu cita-citata yang berbunyi SAKITNYA TUH DISINI aku terluka. Bukan karena aku hasud, namun karena aku tak tahan. Ketika aku matrikulasi di hotel GREEN SA aku mendapat sms dari kak maqbul. “dek, saya sudah di Jakarta… besok berangkat. Doain yah semoga selamat sampai tujuan”. Bertambahlah semua derita. Hotel yang dekat dengan bandara juanda tersebut membuat telingaku tak asing dengan deru pesawat. Dan hari itu, mungkin salah satu pesawat yang ku pandangi didalamnya ada kak maqbul, mbak ida, beserta rombongannya. Jika mereka saat itu melihat ku dari jendela peswat, aku hanya dapat melihat mereka dari jendela.
            Diatas putihnya kasur dan selimut yang tengah membalutku, aku menangis sendiri. Malam itu, ku rasa tubuhku memanas di bawah dinginnya AC. Ku palingkan wajahku kearah timur yang terdapat berbagai kerlap-kerlip lampu. Waktu itu, sungguh kurasa aku begitu putus asa. Aku begitu dalam terluka. Entah siapa yang menyakiti, namun yang ku tahu saat itu aku begitu teriris. Sudahlah! Cukup sampai disini saja. Karena untuk mengingat masa lalu yang lebih dalam lagi, aku membutuhkan kesiapan hati dan kesiapan perasaan. Biarkanlah masa lalu menjadi bara yang selalu membakar semangat untuk terus melangkah menuju masa depan. Akan tetapi, jangan pernah melupakan sejarah masa lalu, karena jika seseorang melupakan sejarah maka ia akan kembali pada masa lalu itu.

Hati ini mungkin telah hangus terbakar, lantaran cita yang terus membara. Aku selalu menangis sebagai hamba yang rapuh. Impianku yang sudah berumur cukup panjang, tak jua menyerah untuk menyakitiku. Adakah yang mengerti akan diriku? Adakah angin malam paham akan semua rasa yang begitu masam terasa? Ada apa dengan rasa ini? Mengapa begitu sulit ku ingkari? Belum cukupkah tuhan menyiksaku dengan perasaan yang begitu menyakitkan. Salah apa diriku padanya hingga dia begitu lama menggantung diriku dalam harapan yang mungkin takkan pernah menjadi nyata. Apa yang ia inginkan dengan perasaan ini? Apa yang hendak ia beritahukan padaku dengan perasaan ini?
            Bagaimanakah caraku untuk melepaskan diri? Dari perasaan yang tiada berarti. Untuk apa aku terus bertahan diatas cita yang memang tidak tuhan takdirkan? Lalu siapakah seharusnya yang dapat ku salahkan? Siapa dalang di balik semua ini? Siapa yang bertanggung jawab atas rasa yang telah menyatu akan diri? Begitu tegakah rasa ini terus menggelitiku? Ah….siapapun itu, bantulah diriku!!!! Rasa ku yang begitu dalam, akankah membuatku lemah, rasaku yang tak juga mendapat jawaban, akankah membuatku lemah?.
            Kemaren, aku ditandai oleh seorang teman yang sedang berada di kairo dalam sebuah tautan. Dalam tautan tersebut termuat kabar tentang seleksi al-azhar. Ah… tak terasa luka yang ku derita di penghujung tahun, sebentar lagi akan ku rasakan kembali. Bagaimana tidak, sedang rasa ku masih saja bertahan walaupun waktu telah berputar dan terus berusaha menyembuhkan hati tempat rasa bergantung. Mengapa begitu dalam luka yang ku derita? Bukankah ia tuhanku yang perannya adalah menjaga dan mendidikku? Lalu mengapa dia membiarkan hatiku terus terluka? Apa yang telah aku lakukan hingga ia seakan begitu berat menghukumku. Apa salah yang telah ku lakukan yang tak mendapat maaf darinya. Mengertikah dia bahwa aku terluka? Ibakah dia akan diriku yang merana?
            Kisahku telah berhasil membuka mataku bahwa aku bukanlah apa-apa. Aku hanyalah insan dengan cinta yang tak pernah pudar. Cinta yang terus menggantung tanpa pernah terjawab. Terus berlarut dalam gelapnya malam yang kian mencekam. Hujanpun seakan enggan temani malam ku. Angin malam, kicauan jangkrik, semuanya berlalu dalam kelam. Mungkin dengan tuhan menakdirkan ku kuliah di jurusan BKI ini, aku dapat meng-konseling diriku sendiri. Meng-konseling hatiku yang kian mengalami troubles. DIA yang membuatku terdampar di Surabaya, lama mengapung diatas lautan garam yang semakin membuat perih lukaku.
            Terkadang ku berfikir, untuk apa tuhan mengenalkan aku pada kairo dan membiarkannya tetap ada. Sedang kairo tidak IA maksudkan untukku. Aku tahu tuhanku maha penyayang, aku tahu DIA mustahil untuk berlaku dzolim, namun yang ku tak tahu maksud dan arah jalan yang ia berikan padaku. Terkadang aku menggugat padaNYA dalam doa-doa yang biasa ku utarakan untukNYA. “oh tuhan… mengapakah ini? Mengapakah diriku? Mengapakah semua ini? Aku sudah tak sanggup lagi tuhan.. tidakkah kau mau mengakhiri luka yang berujung pada derasnya air mata. Oh tuhanku,,,, yang menyinari seluruh hatiku, lihatlah betapa gelap hati ini membuta! Lihatlah diriku sang pendamba! Dedaunan mungkin saja bisa kering dengan sinar mentar, lalu mengapakah perasaan ini? Mengapa kian menggebu? Sehingga dapat membutakan mata hatiku! Wahai tuhanku tempat aku meminta, wahai tuhanku tempat aku bercurah, wahai tuhanku teman yang begitu setia, wahai tuhanku yang begitu menyayangiku, wahai tuhan yang merajai kerajaan langit, wahai tuhanku,,, wahai cahayaku, wahai anugerah ku,,,,lihatlah bagaimana lisan ini bertasbih, lihatlah bagaimana mata ini berdarah! Lihatlah bagaimana kedua bibir ini membeku! Lihatlah betapa hati ini meluka.” Oh tuhan….
 Huh sudahlah..biarkan angin pagi mengusirnya. Sabtu kemaren masih sama seperti sabtu-sabtu sebelumnya, hanya saja masjid yang biasa kita gunakan sebagai tempat halaqoh kini begitu ramai terasa. Bunyi lentingan-lentingan besi yang berasal dari suara tabrakan palu dan paku begitu memekakan telinga, hingga begitu sulit terasa untuk mem-fokuskan pikiran dalam kondisi seperti itu. Kampus yang baru dalam tahap pembangunan memberikan sejuta mimpi untuk masa depan.bangunan yang dirancang untuk membentuk angka 99 yakni jumlah asma’ul husna kini masih terdiri dari rangkain besi, pasir, semen dan lain sebagainya.
Di depan gedung B fakultas adab, dengan tikar yang sudah terlihat sedikit berdebu, kami berkumpul seperti biasanya. Mendengar, menyimak lalu kemudian membayangkannya. Dengan tas kecil yang berisi kitab tentang pribadi Rasululloh, pak ainul yaqin berjalan penuh gemulai yang diiringi dengan langkah-langkah kecil teman-teman yang sudah sejak tadi menunggu di masjid. Masih saja dengan muka yang berbinar, ia mulai menduduki tikar yang telah disediakan. Seperi biasanya ia memulai dengan kata pengantar yang terbilang basa-basi. Dari raut wajahnya ia selalu terlihat begitu antusias mengajar pelajaran yang bertemakan dan berbau tentang Rasululloh.
            Ah… memang cinta tak bisa dibohongi. Sepandai apapun seseorang menyembunyikan cinta, sepandai itulah cinta memperlihatkan dirinya. Itulah yang terlihat dari sinar wajah guru ku yang satu ini. Mungkin kairo telah memupuk nya menjadi sang pecinta Rasululloh. Secara detail dia menjelaskan sifat-sifat Rasulullah sesuai apa yang terkandung dalam kitab tersebut. Saat itu, ia pun menjelaskan tentang sikap Rasululloh terhadap istrinya. Tentang cintanya yang begitu dalam terhadap aisyah, tentang rasa sayangnya yg begtu kuat terhadap khadijah. Tentang motif dan tujuan dia menikah. Semuanya terasa begitu nyata dijelaskan oleh pak ainul yaqin.
            Memang tidak salah lagi pak prof menjadikannya sebagai asistennya, karena dia sangat pintar, begitu fasih bertutur kata, dan begitu jelas menafsirkan sesuatu. Karena keasyikan mendengarkan penjelasan darinya hingga kami tidak menyadari sinar mentari yang sudah sedikit meninggi. Karena sinarnya yang sudah mulai memanasi tubuh kami, hingga akhirnya kami menggeser tikar ke bawah pohon yang sedikit rindang.
            Bunyi sendok yang membentur mangkok terdengar kian mendekati tempat kami berkumpul. Seorang penjual bakso mendekat kearah kami. Salah seorang dari teman ku meminta izin kepada pak ainul yaqin untuk mebeli bakso. Lalu kemudian ia mengizinkan nya karena pelajaran telah selesai. Tak hanya berhenti disitu, teman-teman putra yang lain juga ikut membeli dan memakan bakso tersebut. Kami yang putrid hanya diam dan melihat, disamping malu untuk makan di depan pak ainul, juga karena tidak membawa uang.
            Selang beberapa menit, salah seorang temanku tadi, ia berkata bahwa ia akan mentraktir kami. Dengan keterbatasan mangkok yang disediakan oleh penjual bakso tersebut, kami bergantian menunggu mangkok yang kosong bekas kuah bakso yang menjadi pengganjal perut di pagi yang sudah menjelang siang ini. Hingga mangkok terakhir buat pak ainul yaqin. Dengan jus jeruk yang menemani semangkok bakso di depannya, ia melahap bakso yang masih sedikit panas. Ia bercerita tentang berbagai hal, hingga kemudian ia menanyakan tentang tempat tinggal yang akan kami tempati setelah setahun di asrama. ia berkata bahwa ia akan tetap meneruskan halaqoh sabtiyah (sabtu-an) yang menjadi jadwal baru. Dia berkata bahwa ia bersedia untuk datang ke kontrakan putra hanya untuk mengajarkan kami ilmu yang ia ketahui. Ah..masih saja tuhan menyisakan seseorang seperti itu di abad ini.
Aku bertanya pada rintihan air hujan
Tentang cinta ataupun cita yang harus terpendam
Aku berdebat dengan deburan ombak
Tentang hati yang kini tersibak
Adakah telinganya mendengar?
Adakah hatinya merasa?
            Malam ini aku berpujangga di bawah rentetan lampu yang tergantung diatas atap kamar-kamar asrama. berkisah tentang kisah pagi yang membuat tubuh terasa lelah. Pagi itu, dengan angkot kuning-hijau yang menjadi ciri has taksi mahasiswa, kami duapuluh delapan orang hendak pergi menuju rumah pak ainul. Dengan dikawal oleh pak ainul sendiri yang saat itu mengendarai sepeda motor, dua mobil yang kita tumpangi bergerak mengikutinya. Kami dengan jumlah sebanyak itu dibagi menjadi dua. Cowok dipisah dengan cewek atau cowok sendiri dan cewek sendiri. Dengan perut yang belum terisi apapun, aku berangkat. Hanya angin segar yang berasal dari pepohonan hijau disepanjang jalan menjadi menu sarapan pagi.
            Sekitar lima belas menit, melewati belokan kanan-kiri, lampu lalu lintas yang bergantian warna, akhirnya sepeda motor pak ainul berhenti. Ia berhenti didepan rumah mewah yang berdiri kokoh dengan tiang-tiang yang terukir indah. Dinding-dindingnya yang penuh dengan ukiran dari berbagai macam warna. Bangunannya yang megah bagai istana, di depannya dilindungi oleh pagar besi yang semakin menambah pemandangan lebih indah.
            Tak sampai satu menit, sepeda motornya kembali bergerak dan sebentar kemudian berhenti kembali di depan rumah sederhana yang tampak asri. Kali ini motor yang ia tumpangi benar-benar berhenti. Lalu kami semuapun turun dan mengikuti langkahnya. Didepan rumah sederhana yang berlantaikan dua itu, tampak seorang lelaki yang sudah kelihatan tidak muda. Wajahnya yang menghitam tampak berbeda, kelihatannya warna hitam yang ada pada wajahnya tidak tampak seperti warna hitam pada kulit seseorang pada umumnya. Ia tampak kuarang sehat, terlihat dari cara duduknya yang terlihat kaku.
            Tanpa berpikir panjang, teman-teman putra satu-persatu menyalami dan mencium tangannya. Tak lama kemudian seorang wanita keluar menemui teman-teman putri lalu menyalami kami satu-persatu. Dengan kerudung hitam  yang ia kenakan, ia tampak begitu kalem dan ramah. Awalnya kami berpikir kalau dia adalah ibunya pak ainul, akan tetapi ia mengubah perasangka kami dengan berkata bahwa ia adalah kakak perempuan pak ainul yaqin. Wajahnya tampak bersih sama seperti wajah pak ainul. Dengan senyum yang tampak begitu manis. Dari dalam, terdengar bunyi tapak kaki yang lama-kelamaan terdengar semakin dekat. Sejenak ku menoleh kearah sumber bunyi tersebut, dan seoarang wanita yang tampak berumur sekitar empat puluhan mendekat diiringi dengan senyum dari kedua bibirnya. Dia adalah ibunya pak ainul, seorang wanita yang kerap kali menjadi topik pembicaraannya disela-sela pelajaran. Wanita tersebut masih sangat kelihatan sehat. Terlihat dari cara dia menyambut uluran tangan kami. Kami lalu dipersilahkan duduk diatas karpet yang bergambarkan bunga-bunga. Dengan warna merah yang sangat terang, ruangan nya terlihat indah. Ditambah lagi dengan lukisan ayat al-qur’an yang menggantung di atas dinding.
            Dimulai dengan ngobrol bersama yang ditemani dengan pisang goreng yang terjejer rapi diatas piring, kami semua menata barisan tempat kami duduk. Aku bersandar pada sofa yang berada di ujung timur ruangan ini. Sambil melihat kearah lemari yang didalamnya terdapat serentetan kitab berjilid-jilid. Disampingnnya terdapat banyak piala yang berwarna kuning keemasan. Foto para kiai yang terpampang di dinding. Ada foto syaykhuna Mohammad kholil Bangkalan, KH Abdulloh Sahal, Syeikh Abdul Qodir Al-jaylani, dan masih banyak foto lainnya.walaupun tampak tak begitu besar, rumah ini sudah ideal menurut ku. Karena rumah ini terisi oleh berbagai hal yang berbau ilmu hingga membuatnya terlihat menarik.
            Pak Ainul datang membawa kitab yang biasa dikajinya. Dengan bacaan bismillah, ia lalu memulai menjelaskan secara rinci. Dengan kondisi yang agak sedikit kesempitan karena dihimpit oleh kedua temanku tang bertubuh sedikit besar ketimbang diriku, aku hanya dapat mendengarkan tanpa mencatat apa yang ia jelaskan. Sementara itu, ibunya sibuk menyiapkan makanan untuk kita. Menyajikannya dalam duapuluh delapan piring hingga terasa agak begitu lama. Namun karena dijalani sambil mendengarkan kisah rasul, semua berlalu tanpa terasa. Karena rasululloh memang selalu membawa pada keindahan,. Perut yang mulanya tidak sabaran, kini menjadi sedikit tenang menunggu.
            Tak lama setelah pelajaran selesai, pak ainul berkata dengan suara yang agak keras. : ibu, bagaimana? Sudah siap?” ia bertanya kepada ibunya. “iya, sudah siap” terdengar sahutan dari dalam dapur yang berarti bahwa makanannya sudah siap. Sebentar kemudian ibunya membawa dua piring nasi yang berisi rawon. Teman-teman lalu kemudaian membantu mengambil dan membawakan piring-piring itu keruangan tempat kami duduk lalu kemudian membagikannya satu-satu. Disusul kemudian dengan es kolak yang terasa dingin lantaran dicampurkan es batu kedalamnya. Wah!!! Panasnya cuaca siang ini, panasnya kuah rawon, dan dinginnya es kolak, bersatu padu dalam satu sendokan pertama lalu kemudian diikuti dengan sendokan-sendokan berikutnya. Kami melahap dengan penuh antusias hingga tak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan satu piring nasi. Teman-teman yang masih belum kenyang dengan satu piring nasi, tanpa rasa malu mengambil satu piring lagi untuk semakin membuat perut penuh sesak. Karena keramahan sambutan yang kami terima, hingga kami serasa makan dirumah sendiri tanpa rasa malu ataupun ragu. Selamatlah uang makan pagi ini!!! He. He.. he….
            Setelah kami merasa sudah cukup kenyang, dan piring-piring pun sudah pada kehilangan isinya, lalu kami mencukupkan sarapan pagi menuju siang kali ini. Piring-piring kotor bekas makan kitapun mulai disusun kembali untuk kemudian diangkut kembali ke dapur tempat ia berasal. Tak berhenti disitu, selesai makan pak ainul kembali bercerita tentang kairo, tentang foto-foto yang ada di album fotonya. Ia menjelaskan piala yang tadi berjejer rapi diatas lemari.sambil menunggu adzan dzuhur, kami habiskan waktu untuk berbincang-bincang. Selang 20 menit kira-kira, suara adzan mulai terdengar dari masjid yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Teman-teman cewek yang sedang tidak udzur segera mengambil air wudu di rumah pak ainul yaqin karena katanya dimasjid tidak disediakan tempat wudu wanita. Sebentar kemudian mereka berangkat ke mesjid dan menunaikan salat dzuhur berjemaah disana. Setelah kembali ke rumah itu lagi, kamipun beranjak untuk pulang. Namun momen ini tak kami biarkan berlalu tanpa ada bukti kenangan yang terdapat di dalamnya. Dengan hp yang cukup terang untuk mengambil foto,kami semua berfoto ria diteras depan rumah pak ainul. Diawali dengan foto bersama lalu kemudian foto sendiri-sendiri. Yang putri dengan ibunya pak ainul dan yang putra dengan  pak ainul sendiri.
                                                                                                                          31, Mei 2015
Mebawa sebuah leptop yang berumur sudah agak tua, aku menuruni anak tangga asrama. dengan langkah penuh kehati-hatian ku berjalan menuju gedung fakultas syari’ah untuk wifi-an. Tugas yang menumpuk memaksaku melangkah walau lelah tak dapat ku tangkis. Mencari 50 komenan dari tulisan di blog ku dan juga menulis duapuluh halaman sisa hari yang lalu, membuat mataku iba untuk terlelap. Ku buka akun facebook dengan harapan aku akan bisa membagikan alamat blog ku kepada teman-teman fb. Mengirimi mereka pesan satu persatu, lalu meminta mereka mengecek dan mengomentarinya. Namanya juga manusia, ada yang langsung mengomentarinya tanpa harus bertanya, ada pula yang bertanya-tanya dulu lalu kemudian berkomentar, ada yang menanyakan manfaat untuk dirrinya jika berkomentar pada blog ku, dan ada yang hanya ngajak ngobrol basa-basi. Nanya kabar, nanyain udah punya pacar apa belum, nanyain anak mana, ah…semuanya pada gek jelas. Oh tuhan….ada-ada saja hamba-Mu itu.
Tak sampai lima hari, komenan di blogku sudah mencapai 50 komentar. Hanya saja isi komentarnya yang berbeda-beda. Namun yang ku ingat ada dua komentar yang membuatku kembali mengingat kairo dan salah seorang mahluk tuhan yang ada disana. Yang pertama adalah komentar dari mas yaqien yang dalam komentarnya dia mendoakan aku agar berjodoh dengan azhar, entah dengan cara aku kuliah disana atau aku selalu dipertemukan dengaan alumni sana. Aku berbisik dalam hati.”amiyn ya allah, kabulkan lah doanya! Bahagikan aku dengan azhar. Kalaulah dirimu tidak mendengarkan doaku, namun kali ini dengarlah doanya”. Ia juga membenarkan tulisanku yang disana tertulis bahwa al-waaqi’ah terdapat di juz 28 namun nyatanya surah tersebut terdapat dalam juz ke-27.aku berterimakasih atas komentarnya karena hanya itu yang dapat ku lakukan.
Yng kedua adalah komentar dari pembaca yang bernamakan setan. Dia adalah salah seorang temanku yang juga alumni al-azhar. Setelah ku chat dan menginterogasinya kenapa dia menamai setan, ia menjawab. “itu adalah julukanku di masa muda” katanya tertawa lepas. “ hmmm, kan itu julukan masa muda, lalu kenapa dipakainya sampai sekarang? Kan sudah tidak muda lagi?” ku selingi sedikit candaan. Dia hanya tertawa ria lalu kemudian berkata:” itu kisah nyata? Namanya kok nama asli mu? Itu cerita asli diri mu ya? “aku kebingungan mau jawab apa karena aku hawatir dia mengenali nama yang menjadi pelaku dalam tulisanku. “eh kepo!! Enggak kok kak, itu memang kisah nyata tapi ku buat dramatisir dan sedikit ku ubah, tentang nama, itu hanya karena biar tidak susah mencari nama yang cocok. Jadinya ku pakailah namaku dalam cerita itu” aku coba meyakinkan dan membenarkan kata-kata ku yang nyatanya berbohong.
Kehawatiranku terjadi, dia ternyata kenal sama kak maqbul. “maqbul? Kayaknya aku kenal sama nama itu? Orang Madura kan? Kamu akrab sama dia? Itu beneran kisah nyata apa bukan?” aku bingung mencari jawaban yang pas untuk menghindari pertanyaannya. “ih kakak sok tau ya kadang-kadang, enggak kok bukan siapa-siapa” kataku. “ayolah dek siapa dia kalau bukan maqbul? Namanya siapa? Entar kakak bentuin ngomong ke dia biar urusannya mudah” dia coba memamncingku bercerita namun sayangnya aku tetap tidak terpancing. “enggak kok kak bukan siapa-siapa, kalaupun saat ini aku masih menyimpan perasaan ataupun harapan pada dirinya, aku takkan lagi memperhatikannya, karena aku yakin bahwa waktu akan sembuhkan segalanya” aku berucap dengan hati yang luluh dan pasrah terhadap takdir tuhan saat ini, karena akupun tak yakin bahwa terdapat kafaa’ah antara aku dan kak maqbul. Itulah mengapa aku lebih memilih mencinta dalam diam.
Dengan sisa nafas yang masih terhembus, kembali kuurai cita dan cinta dihadapan sang maha dari keduanya. Kali ini ku istikharah kan keputusan ku untuk kembali mengikuti seleksi. dengan cara-cara yang kudapat dari mbak husna, salah seorang dewan maha santri di asramaku. Dimulai dengan khushushon kepada nabi, lalu syeikh Abdul qodir al-jaylani, lalu kemudian disusul dengan nama syeikh hasan Asy-syaybaaniy dan terakhir kepada kedua orangtua setelah itu baru berdoa agar ditunjukkan baik atau buruknya langkah yang akan saya ambil.
Tanpa harus disengaja, aku membuka sembarang tempat dalam al qur’an lalu kuhitung tujuh baris dari halaman samping kanan. Dan kulihat makna dari ayat yang terdapat pada baris ketujuh dari halaman tersebut. Kuulang dari awal hingga tigakali namun hasilnya masih samar-samar belum membuatku yakin, mungkin karena minimnya pengertianku tentang kata yang tersirat dalam al-qur’an atau biasa kita kenal dengan istilah majaziy.
Aku masih dalam dilema, bimbang antara melanjutkan atau berhenti. Namun satu yang ku pastikan yaitu bahwa aku akan tetap mengikuti seleksi tahun ini, entah apapun hasilnya aku tidak berharap hasil karena ku tahu ini mustahil. Hanya saja aku berharap setidaknya aku mendapat ketenangan setelah mengikuti seleksi walaupun aku gagal. Namun sebenarnya tidak karena kupikir ketika aku gagal dalam seleksi maka kairo takkan lagi membayangiku dan terus menakut-nakuti ku.
Dan tentang cinta, kini ku hanya bisa pasrah dan terus meyakinkan diriku untuk tetap melupakannya. Karena logikanya, untuk apa kak maqbul kembali menghampiriku. Sedang ia dikelilingi oleh berbagai macam wanita yang cantik dan pintar lagi mereka selalu bersama. Sedang diriku, apalah artinya bagi dirinya. Sudahlah tak perlu mengungkit hal-hal yang membuat hati menjadi sakit.berlarut dalam kesedihan hanya akan menambah beban perasaan. Beban  fisikku sudah terasa begitu berat, aku takkan lagi menambah beban dengan perasaanku. Akan tetapi….
“nanti kalau adek sudah di kairo, kakak akan bawa adek ke sungai nil” perkataan kak maqbul yang sudah hampir setahun serasa baru ku dengar kemaren. Tutur kata yang begitu lembut yang berasal dari ketulusan hatinya, begitu dalam terserap kedalam hatiku. Seperti hal nya ungkapan yang ku dengar dari salah seorang teman yang sedang belajar di yaman yaitu maa khoroja minal quluwb dakhola ilal quluwb. Saat itu, sesaat sebelum bertemu, ku sempatkan diri untuk berbisik pada tuhan. “ya allah, tolong jangan kecewakan aku dengan pertemuan ini, dan ampunilah diriku karena dia akan menjadi orang pertama dan terakhir yang akan ku temui dan juga pertemuan ini akan menjadi pertemuan pertama dan terakhir! Jagalah diriku selalu, jangan biarkan cinta yang timbul karena nafsu mengalahkan fitrah cintaku padamu”. Dengan hati berbunga-bunga diserai langkah teman-teman aku mulai mengayun langkah menuju masjid yang telah menjadi saksi.
Awalnya aku begitu senang karena masjid yang menjadi tempat kita berjumpa. Akan tetapi itu salah, aku salah dalam memahaminya. Aku seharusnya menjadikan masjid sebagai tempat untuk ku menghadap tuhanku, bukan untuk bertemu seseorang yang ku cintai apapun alasannya. Mungkin karena itulah, kini sesorang yang ku cintai hanya menjadi bayangan semu yang takkan pernah mungkin ku dapat menggapainya. Cintaku kini menjadi pelangi diatas tetesan air hujan yang membasahi bumi. Takkan ada yang mengerti seberapa besar bumi padang pasir mengharapkan hujan, walaupun ketika hujan datang, ia langsung menyerapnya dan menyembunyikannya didalam kalbu.
Teringat pesan yang terjadi beberapa hari sebelum dia kembali ke kairo. “kakak kapan berangkat?” aku bertanya menghindari kesunyian yang tercipta lantaran aku tak tau lagi untuk membalas pesannya. “ini masih  nunggu berkas-berkas adekku, ntar kalu dah kelar semuanya, baru deh kakak berangkat, kenapa? Mau ikut?” katanya tanpa ada sedikit keraguan.”ikut..”aku membalas perkataanya dengan nada merajuk. “Kalau mau ikut, adek harus nikah dulu sama kakak? Gimana?”katanya sedikit menggoda. lama aku tidak membalas pesannya hingga ia kembali mengirimi aku pesan. “dek, kok gak dibales? Adek marah ya? Maaf ya kakak cuman bercanda” dia merasa tidak enak. “mmm…enggak kok kak, gak marah kok, memangnya kakak mau punya istri kayak aku?” aku balik bertanya.
Ah.. percakapan ini terasa begitu panjang dan berkesan begitu dalam. Hingga dapat dipastikan bahwa aku akan membutuhkan banyak waktu untuk melupakannya. Cerita dari mbak ida, adeknya juga menjadi referensi bagiku tentang dia. “mbak ida memang dari dulu pengen ke kairo?” aku coba mencari-cari tau. “sejak kelas dua aliyah, kakak selalu menggodaku dan mengajakku untuk kuliah disana seperti dia” Jawabnya. “ohh.. enak mbak, kalau punya uang kuliah disana, mahal ta bayarnya?”sengaja ku buat basa-basi percakapan ku dengan nya. “ya lumayan dek, apalagi sekarang saya kan belum kuliah dek, masih masuk kursus bahasa dulu, buat persiapan masuk kuliah”.
“oh, mahal berarti ya mbak?” aku memastikan. “ iya dek, tapi ini  kakak yang bayarin” aku kaget mendengar jawabannya. Benarkah? Dia seorang hafidz,  Adakah waktu untuk mencari uang untuk membiayai adeknya disamping ia juga harus kuliah? Adakah seseorang yang begitu bersemangat dalam mendukung adeknya mencari ilmu?. “loh iya ta mbk? Berangkatnya juga kak maqbul yang bayarin?” aku tambah banyak bertanya. “kalau berangkatnya sih ummi yang bayarin, tapi setelah disini kakak yang bayarin”. “memangnya kakaknya kerja apa disana mbak?” ku suguhkan pertanyaan terakhir untuknya. “kurang tahu juga, soalnya saya tidak pernah nanya dia kerja apa” jawabnya.
Aku dapat membuat kesimpulan dari berbagai sumber yang ku dapatkan. Bahwa kak maqbul adalah seseorang yang begitu peduli dan penyayang terhadap adiknya. Mungkin karena disamping ia adalah kakaknya, ia juga sebagai ayah bagi adik-adiknya karena ayah kak maqbul telah meninggal. Seseorang seperti itulah yang banyak dicari dan dibutuhkan oleh banyak wanita. Hingga aku harus mengantri ataupun menunggu takdir tuhan jika tetap mengharapkannya. Seorang wanita yang kini berada dihatinya, sungguh beruntung wanita itu, siapakah dia? Mengapa tuhan berpihak padanya? Dan bukan diriku. Namun ku Tanya lagi siapakah aku? Mengharap pihakan dari tuhan.
Angin malam pun kini berhenti meniup jendela kamarku. Hewan-hewan kecil yang biasa beradu dalam sunyi kini terdiam membeku. Purnama telah mampu membuat mereka semua terbungkam dalam bisu. Membuat mereka terdiam tanpa kata. Bintang-bintang pun beradu dengan senja dalam peraduan malam yang mencekam. Tiadalah kata yang dapat terucap untuk memproklamasikan suara hati yang begitu samar terdengar. Hanya hati-hati yang bertelepatilah yang dapat segera tersambung walaupun jarak tak mengizinkannya. Malam ini begitu tenang terasa, tanpa suara yang pekakan telinga, tanpa debu yang merah-kan mata, tanpa aroma yang menyengat hidung. Semua terasa mengalir santai dibawah kaki langit bertabur kejora.rerumputan pun mulai membaringkan tubuhnya diatas tanah tempat ia biasa bercurah. Semua terdiam terpaku. Hanya bunyi deru-deru mobil yang mencemarkan suasana malam bak lailatu qodar di bulan puasa.
            Malam ini, biarkanlah aku berpuisi dibawah rinai hujan yang menyisakan embun.  Biarkanlah aku bersajak saat semua terbungkam tak berdaya. Mungkin manusia takkan bisa memahaminya, namun kali ini di depan sang maha cinta,  ku ucap sebuah kalimat bertajuk cinta, bertemakan rasa dan mengentaskan derita tiada henti. Dengarlah dan cobalah untuk memahami apa yang terlontar dari lubuk hati:
Aku begitu lemah di depan tatapan cinta
Tanganku rapuh menggenggam asa
Detak jantung seakan tak terdengar lagi
Nadiku berhenti tertusuk angin malam
Air mata jatuh tiada tertahan
           Saat duri menusuk lalu menggores hati
            Perih kurasa menggebu-gebu
            Hingga akhirnya aku tersungkur diatas sejadah cinta
Jihad cinta?
Adakah ini jihad cinta?
Mencinta dalam diam
Menangis tanpa air mata
                                                            Adakah rintik hujan kan mampu?
                                                            Menjadi perekat atas remuknya asa ku
                                                            Diriku lemah seakan tak bernafas
                                                            Hingga kematian kalbu seakan tak memberiku jeda
Dimanakah dua hati yang terpisah kan bertemu?
Dimanakah cinta yang membatin kan bermuara
Akankah cahaya bintang yang ku dapat
Seperti halnya cahaya bintang yang ia dapat?
                                                            Kapankah sang penyair kan mendapat balasan
                                                            Dari puisi-puisi yang ia keluarkan dari sudut kalbu
                                                            Adakah paruh dunia hembuskan nafas untuk dirinya?
                                                            Mengertilah!!! Kapankah kau kan memahami?
            Layaknya siang dan malam, begitulah dunia menggambarkan kehidupan. Terkadang kisah dari kebersamaan membuat kita tertawa  saat sendirian. Teringat kejadian di kelas saat pagi. Kala itu sedang intensive bahasa inggris. Seperti biasanya, karena sudah mendekati test TOEFEL ataupun TOAFEL maka dosen lebih banyak membahas tentang soal-soal yang sejenis dengan materi test. Saat itu ada suatu soal yang menanyakan tentang kata ganti subjek. Kalau tidak salah soalnya beginti the word “them” refers to…? Kala itu aku kebetulan beda pendapat dengan dosen sehingga menimbulkan diskusi yang cukup panjang. Teman-temanpun juga berbeda pendapat sehingga akhirnya aku berkata pada dosen ku “pak ini tetap B pak…”aku berkata dengan logat asli ku.
            Tiba-tiba dosen dan semua teman-teman ku sontak tertawa, entah apa yang mereka tertawakan, aku masih belum faham. “eb_be? Bukan ed_de? Sofi” ucap nya sambil tersenyum. Owalah ternyata mereka menertawakan logat maduraku. Ngerti dikit kenapa pak..pak! . belum selesai, kita masih berada dalam diskusi panjang, hingga akhirnya akupun mengalah. Tapi sebelum pasrah pada jawaban pak dosen aku menyatakan sebuah argument. “ loh pak, kan idza usykila ad-dlamir fa irji’ ila aqrobil-maqsuwd?” serentak teman-teman menghujaniku dengan kata “ciye..ciye…” yang memang menjadi kebiasaan mereka. “uhh…dasar jhube’… ada-ada aja”. Celoteh seorang temanku.
            Mereka biasa memanggilku jhube’. Entah karena memang aku jube’ beneran atau karena kata itu yang memang pertama kali ku ajarkan pada mereka saat mereka bertanya bahasa maduranya “jelek”. Seakan tak ingin kalah, aku membalas ledekannya. “biarin aku jube’, tapi kamu ajbe'” kataku . “apalagi tu ajbe’?” Tanya nya heran. “ajbe’ itu siyghat tafdlil dari jube’ seperti halnya jamiylun yang menjadi ajmal, maka jube’pun bisa di siyghat tafdil hehehe” aku tertawa lepas. Puas membalas ledekanya.”huuuuu …….dasar jubbe’ jubbe’…” 
            Perbedaan suku yang disatukan dalam satu kelas, terkadang mengisahkan cerita yang tiada bosan untuk ditertawakan. Teman-teman yang berasal dari beda-beda daerah, kini harus bersama karena adanya satu tujuan yaitu mengbdi pada ilmu yang menjadi sumber kebahagiaan manusia. Selalu ada tawa yang tersungging saat semua bergesekan. Entah karena adanya sebuah takdir kita bertemu, ataupula karena memang tak sengaja dipertemukan. Entahlah…. Semua berada dalam melodi yang sama. Mencari kisah yang begitu dalam terasa. Semua beradu dalam satu pacuan hingga akhirnya pergantian waktu kan memecah semuanya.
            Terkadang kita memang membutuhkan seorang sahabat, yang dapat memberikan lentera kala malam menjelma menjadi bayangan hitam yang menyeramkan. Memberikan kita pundak untuk kita bersandar saat kepala tak mampu lagi untuk di-dongakkan. Memberikan kita payung saat airhujan mengahruskan kita basah kuyup dalam kedinginan. Namun sahabat, bukanlah tentang apa yang bisa kita dapatkan dari persahabatan, akan tetapi sejauh mana kita berani berkorban untuk seorang sahabat,untuk kebahagiaannya. Itulah sahabat sejati, sahabat yang tak mengenal arti, sahabat yang ikhlas menukar hatinya walau dengan airmata darah sekalipun. Adakah seorang sahabat telah kita dapatkan? Ataukah adakah kita telah mampu menjadi sosok sahabat untuk seorang sahabat? Memang, sebelum kita berharap untuk mempunyai seorang sahabat yang sejati, kita harus memulainya dari diri sendiri, kita harus menjadi sahabat terlebih dahulu sebelum kemudia kita berharap untuk mempunyai seorang sahabat. Namun adakah saat ini seorang sahabat yang memang benar sanabat? Sedang di zaman ulama’ salaf pun sudah ada maqolah yang berbunyi: khoyrul quruwni fiz-zamaan al-kitab. Adakah manusia masa kini kan bisa menjadi seorang sahabat. Dan tentang sahabat…
Entah mengapa rasa benci dan sesal melanda hatiku. Aku serasa tak ingin melihat mukanya didepan mataku. Aku terasa begitu muak melihat wajahnya. Ingin ku delete semua cerita tentang ku dengan dia, seorang teman yang kini sangat ku benci. Aku tak tau darimanakah rasa ini berawal. Namun yang kurasakan saat ini aku tak ingin bertemu dengan dia ataupun berpapasan. Sungguh aku begitu membencinya.
            Seorang teman yang kurasa sudah tidak bersahabat lagi. seorang teman yang dulu saling bersandar dalam pilu. Kini ia takkan bisa lagi mengambil bahuku untuk tempatnya menuang airmata. Karena aku bahkan tak ingin mendengar desah nafasnya. Kejadian malam itu sungguh membuat hatiku tergores. Sikapnya malam itu membuatku begitu sakit hati. Bagaimana mungkin dia meninggalkan aku berjalan sendirian hanya karena rengekan anak kecil sok m         anja. Dia mengorbankan perasaanku hanya demi anak kecil tak tahu diri. Entah dia sengaja menyakiti perasaan ku atau karena dia memang tidak senang berteman dengan ku. Akan tetapi jika dia memang tidak senang berteman denganku, lalu mengapa dia selama ini selalu berbagi rasa denganku. Mengapakah dia malam itu? Mengapa dia begitu tega menyakitiku.
            Jujur, selama ini aku tidak pernah selama ini marah pada seseorang. Namun kali ini aku merasakan sakit yang amat dalam. Aku begitu terluka hingga tak cukup berjam-jam untuk melupakan kejadian ini. Aku bertanya kepada diriku sendiri, kepada sikapku, dan juga tingkah ku. Apakah yang ku lakukan hingga dia se-begitunya saama diriku? Bukankah aku sahabatnya? Sahabat yang pertama ia kenal di kota ini. Mengapa dia begitu tega menyakitiku dengan sikapnya. Dan yang paling membuatku sakit adalah alasannya hanya karena anak kecil yang tak tahu diri. Mengapakah aku sampai sebenci ini kepada dirinya? Hingga aku tak ingin mendengarkan sepatah katapun dari mulutnya.
            Aku tau dia tak berani untuk menyapaku ketika aku lagi marah. Oleh karena itu dia mengirimiku sms dan meminta maaf atas sikapnya jika itu membuatku marah. Aku tetap tak mengubrisnya dan mengacuhkan pesannya karena rasa marahku tak berkurang sedikitpun. Sebenarnya aku tak ingin melakukan ini, namun luka hati yang membuat aku melakukan ini. Sebanyak apapun dia berucap menyapaku, aku tetap tak membalas. Aku tak berniat memutus silaturrohim ataupun berniat memusuhinya. Aku hanya ingin dia mengerti apa kesalahannya tanpa harus bertanya pada diriku yang terluka. Lihatlah bagaimana hatiku begitu dalam  membencinya.
            Bahkan aku tak menghiraukan rengekan ataupun rayuannya ditelingaku, aku tetap membencinya. Biarlah aku sendiri dulu tanpa harus ada dia yang tak mengerti kesalahannya. Mengertilah! Aku sangat membencimu. Jangan pernah mendekat, karena tangan ini bisa saja menggamparmu jikau kau begitu rewel di dekatku. Apapun yang kau lakukan saat ini, aku akan tetap membenci semua itu. Dan selamanya akan tetap seperti itu kecuali waktu telah berhasil sembuhkan lukaku. Dan saat itu mungkin aku akan bisa memaafkan mu. Aku tak menyangka dia yang selama ini begitu perhatian padaku, begitu peduli pada keadaan ku, kini menjadi mantan sahabat ku. Aku tak mem-vonis bahwa ini adalah akhir dari persahabatan ku dengannya. Hanya saja untuk saat ini aku takkan mendekat dengannya. Biarlah ia menjalani hari-hari dengan sahabat yang mungkin membuatnya senang. Sahabat yang mungkin bisa mengerti keinginannya. tanpa aku harus merusak kebahagiaannya. Kan ku biarkan dia bahagia tanpa aku, karena mungkin selama ini aku gagal membuatnya bahagia disampingku ataupun aku gagal menjadi seorang sahabat untuknya. Mungkin sebagai sahabat aku terlalu banyak menyusahkannya, hingga ia tak ingin bersahabat lagi denganku.
            “ jangan perlakukan seperti ini, kalau aku punya salah katakanlah! Jangan kau diam seperti ini” pagi itu dia menghampiriku saat aku bermain-main dengan leptop di tanganku.” Apa gunanya aku mengatakannya? Kaupun takkan mengerti, betapa sakit diriku ini” mataku sembab seakan tak mampu lagi menahan airmata yang mungkin sebentar lagi kan terjatuh. “sof, jangan begitulah sof, kalau aku punya salah, bilang ke aku sof, biar aku tak terus mengulanginya dan membuat kamu seperti ini, katakan padaku! Jangan diam seperti ini! Kalau kamu melakukan kesalahan aku selalu mengingatkanmu, lalu mengapa kau hanya diam membiarkan aku terus melakukan kesalahanku?” sungguh aku tak setega itu membiarkan dirinya memelas dihadapan ku. Hanya saja aku harus menguatkan diri untuk tetap diam.
            “sof, aku minta maaf jika sikapku membuatmu marah, kamu jangan marah lah sof!” dia terus meminta. “ udah, jangan sentuh aku..nanti aku tampar kau” sifat maduraku mulai muncul. Aku bahkan tak ingin dia memegang bahuku. “ ayo, tampar sof, asal kamu jangan marah padaku, asal kamu tidak mendiami aku lagi”dia masih saja merayu dengan wajah memelas. “untuk apa aku mengatakan semua nya kepada kamu, apakah engkau sahabatku? Apakah engkau sahabat ku yang dulu? Berbagi apapun itu, entah duka atau lara? Apakah engkau masih sahabat ku? Bukankah aku tak layak bersahabat dengan mu, pergilah jangan mendekat, karena aku bahkan tak ingin melihat wajahmu, sekarang kau bisa jalani hidup kamu tanpa aku, anti bariy’ah ‘anniy” airmata jatuh tak tertahankan. Pahit memng namun itulah yang harus ku katakana. Kulihat wajahnya tertunduk lesu. Lalu kemudian dia pamit pergi meninggalkanku.
            Aku ingin melihat senyumnya saat ia tak lagi bersamaku. Dan jika memang ia mampu bahagia tanpa harus ada aku, maka aku takkan pernah lagi muncul dalam hidupnya. Aku takkan lagi menatap dirinya. Biarlah semoga dia bahagia tanpa diriku.dengan bercucuran airmata, aku harus mengikhlaskan dia pergi dari hidupku, biarlah aku sendiri bersama cahaya bintang kejora.biarlah kita menjalani hidup tanpa harus berdampingan. Karena aku yakin wanita sebaik dia akan mempunyai banyak teman. Namun aku tak bisa memastikan bahwa ia akan mempunyai sahabat yang dapat mengerti dirinya. Sebenarnya aku begitu sangat menyayanginya, karena dia adalah sahabat pertama ku di kota ini. Sahabat yang begitu dekat sebelum ada penyakit yang merusak persahabatan itu sendiri. Dan sayangnya, persahabatan ku dengannya harus terjeda Karen ada nya sahabat ketiga.memang benar, orang ketiga akan merusak segalanya. Namun biarlah, biarkan semua introspeksi diri, biarkan rasa marah yang ku rasa membeku oleh waktu hingga akhirnya semua akan menjadi baik-baik saja.
            Kerasnya hidup di kota begitu berbeda dengan kehidupan di desa. Mungkin hanya sedikit orang saja yang akan bisa memiliki sahabat yang sehati. Di kota takkan lagi ditemukan kepedulian yang memang tulus. Dikota yang bisa kita temukan adalah sseorang teman bukan sahabat. Teman adalah mereka yang bisa tertawa bersama. Namun sahabat adalah mereka yang bisa menangis bersama. Ah … sudahlah aku tak perlu lama-lama menggunjing, cukup hatiku yang memendam rasa sesal ini. Orang lain ataupun dirinya tak perlu tahu akan hal ini, biar aku tidak usah meminta maaf kepadanya. Aku tak tau setan apa yang sedang merasuki diriku, hingga aku begitu lama membungkam diri untuk berbicara dengannya. Apakah ini salahku? Ataukah ini karena hati terlalu dalam terluka? Atau bahkan ini balasan untuk diriku? Entahlah… biar derasnya hujan yang kan menjawab. Biarlah hijau dedaunan yang kan menjelaskan di musim semi nanti. Menunggu dan tetap diam adalah cara terbaik untuk menghindari luka. Menerima apapun itu adalah jalan terindah untuk menahan amarah, karena…. Semua akan indah pada waktunya, selagi waktu terus mendayung tanpa henti.
            Kembali ku menangis dalam pekatnya malam tanpa lentera. Pandanganku tertuju pada Sebuah foto yang sengaja kupajang di atas dipan tempat ku berbaring mengingatkanku pada kk maqbul. Derita cinta yang ku hadapi sungguh tak berdasarkan satu alasan pun. Entah bagaimana cinta itu mula-mula mendatangiku. Yang kurasakan kini, hanyalah ku ingin dia juga mencintaiku. Walau nyatanya semua hanyalah tamanni yang takkan mungkin pernah ku dapatkan. Saat mengingatnya, semua senyum ku seakan kembali meredup dan akupun terdiam. Adakah ini benar-benar cinta? Jika iya, lalu mengapa begitu sakit kurasa? Apakah cinta memang menyakitkan? Setega inikah cinta?.
            Sekali-kali aku berfikir untuk melupakannya, namun hati ini menolak. Entah apa yang masih ia harapkan dari sosok kak maqbul. Hati ini kadang berfikir, jika aku melupakan kak maqbul, lalu cinta macam apa ini? Cinta yang hilang karena terabaikan, itukah cinta? Lalu bagaimana dengan janji yang ku ucap pada sang pemilik kak maqbul? Bahwa aku telah meminta hati kak maqbul? Adakah semua itu palsu? Tidak! Aku memang mencintainya. Dan karena aku mencintainya maka aku harus melupakannya. mungkin hati terlalu berambisi untuk mendapatkannya. Tapi apakah cinta tak harus memiliki? Lalu bagaimana aku akan bertahan dalam cinta jika memang cinta begitu adanya.
            Satu hal yang sangat ku takuti tentang cinta ini, yaitu saat aku berlarut dalam cinta dan cinta itu sendiri membuatku lupa pada sang mencinta. Lalu apa alasanku mencintai kak maqbul? Mengapa aku mencintainya? Karena dia seorang hafidz? Karena dia seseorang yang haliym (sangat sabar)? Atau karena dia seseorang yang sangat penyayang? Ia…. Lalu apa yang aku harapkan dari dirinya? Ridla Allah. Bagaimana bisa engkau memperoleh ridla allah lantaran dirinya?. Dia seseorang yang sangat alim dan mengamalkan ilmunya, aku yakin dia bisa mengajak ataupun membantuku menuju ridla allah. Lalu apa yang terjadi kini? Bukankah semua yang terjadi dalam kehidupan ini adalah atas kehendak allah, termasuk cinta yang kamu rasakan kini?. Entahlah…barangkali dia hendak mengujiku tentang kedalaman cintaku.
            Semua berlarut dalam gelapnya langit yang telah kelam. Bintang-bintang tak lagi berkeliaran diatas sana. Hanya percikan air yang temaniku malam ini, Oh tuhan penguasa hatiku!!! Ada apa gerangan tentang malam ini? Mengapa hatiku terasa begitu hampa? Angin malam pun tak lagi berhembus dan berbisik di telinga. Lalu dengan apa malam ini ku bersurat padamu? Bagaimana aku kan berkisah tentang malam yang sebentar lagi kan berganti fajar. Mengapakah diri ini tuhan? Mengapa aku begitu sangat ingin memilikinya? Adakah ini dari dirimu? Ataukah ini dari nafsu yang kan membawaku pada kerusakan? Adakah cinta itu memang seperti ini.
            Hanya tuhan yang tahu betapa lemah diriku ini. Betapa aku sangat ingin melupakannya. melupakan kairo, dan juga melupakan kak maqbul. Aku harus bisa melakukan itu. Mengapa harus??? Karena aku takkan mungkin pernah bisa mendapatkan keduanya. Lalu untuk apa aku akan menghabiskan waktu untuk mencintai dan mengharapkan keduanya. Bukankah disini aku sudah memiliki penggantinya. Tidakkah menara kampus ini juga seperti menara al-azhar? Lagi pula bukankah sebelum berangkat ke Surabaya, aku telah membuat janji suci dengan seseorang? Janji untuk tetap menjaga hati? Janji tidak akan berkomunikasi? Dan janji untuk hanya sekedar mencari tahu kabar. Itukah balasan yang ku terima karena aku tak dapat menjaga hati ku seperti yang telah ku janjikan padanya. Namun yang ku pertanyakan kini, apakah dirinya masih ingat akan janji itu? Atau panasnya bangkalan membuat ia haus dan tak sabar untuk menunggu kepulangan ku? Ah.. entahlah akupun tak mengerti.
Hidup memang banyak ujian. Mengapa tidak? Karena saat ini memang musim UAS. Hari-riku dalam minggu ini mungkin akan terpakai dengan soal-soal UAS yang belum terselesaikan. Yang paling membuatku dag dig dug ialah dipenghujung minggu ini, yaitu waktunya untuk ikut test seperti yang ku katakan kemaren-kemaren. Jika allah memang mengizinkan, hari jum’at dan sabtu aku akan berangkat menuju kota malang dan kampus UIN Maulana Malik Ibrahim. Di kampus itulah, aku akan mengikuti seleksi. akupun tak berharap lebih, aku hanya ingin menambah pengalaman, akan tetapi syukur-syukur jika aku lolos dan mendapat beasiswa.
Lalu bagaimanakah dengan nasib beasiswa ku kini? Bagaimana jika aku lolos seleksi? apakah aku akan meninggalkan beasiswa ini dan membayar seluruh biaya hidupku yang ditanggung pemerintah selama satu tahun? Darimana aku akan punya uang sebanyak itu? Dan bagaimana aku akan membayar ongkos pergi? Sudahlah… aku belum memikirkan semua itu, yang ku fikirkan kini adalah bagaimana aku bisa pergi ke malang untuk ikut seleksi. aku belum memikirkan tentang hasilnya, karena aku tau ini tidak akan berhasil. Karena aku tahu siapalah diriku ini, ….aku mah apa atuh….
Bahkan jika aku gagal, disini aku akan mem-fokuskan semua pikiranku pada hafalan ku yang masih seumuran jagung. Aku akan melupakan kairo ataupun kak maqbul. Bukankah al-qur’an adalah obat dari segala lara? Akupun yakin bahw a lukaku akan segera sembuh, aku yakin al-qur’an bisa mengobatinya. Biarlah cinta ku pada kak maqbul mengkhiri kisah cinta dalam lembaran hidupku di abad ini. Dan juga cintaku pada kairo menjadi akhir dari cita-cita ku. Aku ikhlas meninggalkan semuanya, karena memang alasan ku menginginkan keduanya tidak lain adalah karena Allah. Aku berfikir bahwa ketika aku belajar di kairo, aku akan banyak memperoleh ilmu sebelum kemudian aku mengamalkannya. Namun ketika semua tak mengerti maksud dan tujuanku, yang ku lakukan hanyalah diam tanpa harus menjelaskan sepatah katapun.
Alasan aku ingin belajar disana ialah karena aku sangat suka belajar kitab, dan selamanya akan seperti itu. Jika di kampus-kampus Indonesia, aku takkan mendapatkannya, karena semua materi kuliah berbentuk buku, dan itu membuat aku malas belajar, ya walaupun pada akhirnya keadaan juga memaksaku untukmempelajarinya. Namun sudahlah… jika suatu saat tuhan berikanku kesempatan, pada saat itulah aku harus menggunakan kesempatan itu sebaik mungkin. Aku harus bersyukur atas apa yang tuhan berikan padaku saat ini. Karena tak semua orang bisa kuliah gratis tanpa harus mengeluarkan biaya sedikitpun, kalau tidak karena rahmat tuhan, aku yakin aku takkan bisa mendapatkan semua itu.
Yang harusnya kulakukan kini adalah tetap mempelajari ilmu yang diajarkan dosen. Suka tidak suka dengan pelajarannya, aku harus tetap semangat mempelajarinya karena tak ada ilmu yang tidak bermanfaat selagi kita mampu menggunakannya dengan baik . karena semua terjadi karena takdir allah yang telah ia putuskan di zaman azali. Dan kita hanya sebagai pemeran dan pelaksan apa yang telah digariskan pada hidup masing-masing. Karena semua orang mempunyai garis yang berbeda-beda, walau kadang mereka harus bergesekan dan menimbulkan percikan api yang bisa membuat tangan terbakar. Inilah saatnya BIMBINGAN KONSELING ISLAM jurusanku, membimbingku sesuai tuntutan agama. Karena konselor juga manusia, walaupun ia bertugas sebagai pembimbing ataupun pe-nyelesai masalah, terkadang ia juga membutuhkan bimbingan, nasehat, ataupun masukan-masukan dari orang lain.karena konselor juga manusia, ia mempunyai porsi airmata yang sama, hanya saja ia harus mampu mengubah airmat duka itu menjadi tangis bahagia yang pecahkan dunia.
Sungguh aku merasa tidak betah di tempat ini. Kondisi yang sangat bising dengan berbagai macam deru transportasi. Ditambah lagi dengan pemandangan yang berasal dari pembauran antar kaum adam dan hawa. Aku rindu kampungku, sederhana dan asri. Senyap tanpa suara namun tetap mempesona. Aku rindu bintang ku, bintang yang biasa ku tatap tatkala aku memimpi. Dimanakah bintang itu sekarang? Mengapa di Surabaya tak ada bintang? Aku seakan tak pernah menemukan keberadaan bintang di langit kota ini. Semua bintang telah berubah menjadi cahaya lampu yang menyilaukan mata.
Oh tuhan,,, bagaimanakah ini, apakah mimpi setahun lalu kini menjadi nyata? Kala itu aku bermimpi bahwa aku tidak betah di asrama yang ku tinggali dan aku menginginkan untuk pulang. Dan kini aku merasakannya menjadi nyata, aku sangat tidak nyaman dengan kondisiku saat ini. Tuhan, aku tidak betah… dulu aku memang menginginkan untuk kuliah,karena aku fikir,kuliah itu menyenangkan. Akan tetapi saat aku menghadapinya, ternyata kuliah tidak seindah mengaji kitab. Di dunia perkuliahan mahasiswa dituntut untuk mampu menjelaskan tanpa ada penjelasan terlebih dahulu dari dosen. Mungkin cara itu efektif bagi sebagian orang, namun se-level ku yang masih rendah, aku kesulitan memahami ataupun berkonsentrasi pada penjelasan selain dosen. Oh tuhanku!! Sang pemberi solusi!! Lihatlah diriku ini! Berikanlah solusi untuk masalah ku ini! Karena dirimu adalah The Greatest Counselor.
Mungkin hanya kesabaran yang dapat membuat keadaan menjadi tenang. Namun berapa lama aku akan mampu bersabar. Diam tanpa kata dan dipaksa harus mendengarkan. Karena aku bukanlah nabi ayub yang terkenal dengan kesabarannya. Di kota ini, sendirian adalah cara terbaik untuk tidak terluka. Walaupun keadaan begitu ramai, namun kesendirian yang ku rasakan. Aku tidak ingin membaur pada teman-teman. Aku hanya ingin sendiri meresapi hidup yang penuh dengan kesunyian, penderitaan, dan kekosongan.
Seseorang bilang bahwa orang hebat itu kebanyakan berasal dari masa lalu yang kelam. Mereka kenyang akan penderitaan hidup, penuh dengan kekurangan dan keterbatasan. Dan itulah seharusnya menjadi pecut yang dapat memacu mereka untuk lebih cepat berlari. Mereka tidak pernah lelah mencoba, peluh adalah airmatanya, doa yang menjadi penguatnya, hingga akhirnya tuhanlah yang menjadi penentunya. Seseorang tidak akan pernah tahu betapa berharganya hidup yang tuhan berikan kecuali ketika ia telah mengalami pahitnya kehilangan. Kepergian ayahku seharusnya tidak membuatku lemah, melainkan aku harus bersabar dan mencoba untuk tetap tegar. Dan kini aku merasakan indahnya memiliki sosok ayah setelah aku merasa perihnya kehilangan dirinya.
Terkadang aku heran, mengapa seorang anak bisa sampai membunuh orang tuanya. Apa yang ia pikirkan ? bagaimana ia bisa lupa atas jasa kedua orangtuanya. Mereka sanggup bertahan atas kerasnya air hujan, mereka membakar dirinya dibawah terik mentari yang dapat membakar wajah mereka. Masih kurangkah pengorbanan orang tua? Apalagi yang anak kurangkan dari kedua orangtuanya. Memang pantas jika neraka yang merupakan rumah derita menjadi ganjaran bagi mereka yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Kalaupun kita tidak dapat melakukan yang setimpal dengan apa yang mereka berikan, setidaknya kita tak menyakiti mereka sesakit saat ia merawat kita sejak kecil. Membesarkan kita dengan seluruh kasih sayangnya. Bayangkanlah seberapa besar pengorbanan untuk kita. Meninggalkan kebahagiaanya demi kebahagiaan anaknya. Menahan rasa lapar mereka untuk memberi makan anaknya. Oh tuhan,, ampunkan mereka, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kami, berikan surga terindah untuk mereka. Jagalah hati nya, jangan biarkan mereka terluka sedikitpun.
                                                                                                                                    08 juni 2015
            Prof. Dr Moh. Ali Azis M.ag, itlah nama lengkapnya. Nama agung yang telah diberikan oleh orang tuanya ketika ia baru lahir ke atas dunia. Memang benar kata nabi, bahwa nama adalah do’a. Ali adalah gambaran dari ketinggian hatinya, semangatnya, dan juga optimisnya dengan apa yang berada disisi Allah. Rendah diri adalah sifat yang paling tidak ia inginkan untuk berada dalam diri kami. Hingga ia pun meng-klaim bahwa rendah diri itu kafir. Kebanyakan seorang professor se-level beliau seakan tak punya waktu untuk bertemu langsung dan mendidik secara bertatap muka. Namun prof yang menjadi kebanggaanku ini sungguh berbeda sekali. Entah apa yang telah allah letakkan dalam hatinya sehingga beliau seakan begitu dalam menyayangi kami. Kamipun sudah tak dapat mengukur seberapa dalam kami menyayanginya. Dialah embun kala mentari Surabaya mengeringkan kerongkongan kami. Bahkan hanya dengan setetes tutur katanya, beliau mampu membangkitkan semangat ku yang telah hancur tiada bertepi.
            Bersamanya, seakan bukan seperti seorang dosen kepada muridnya. Ia sungguh begitu memperhatikan kami. “saya yakin anda bisa, sebenarnya anda berpotensi untuk menjadi orang hebat, namun sayang potensi tersebut hilang dikarenakan rasa malas dan rendah diri anda” kata-kata itulah yang sering kali ia ucapkan di beberapa pertemuan. Dia mengajarkan kami untuk terus menulis. Dan akupun tak percaya bahwa aku bisa menulis, akan tetapi begitulah dia, walaupun terkesan sedikit memaksa, namun begitulah cara dia untuk membuat kami menulis.walaupun dia bukan alumni luar negri namun ia melampaui mereka dengan kegigihan dan ketekunannya. Doa dan rasa percaya diri adalah modal terbesar dia dalam menjalani kehidupannya. Dia menjadi idola semua orang disetiap kalangan.
            Seringkali kita lupa, bahwa dibalik kesuksesan seseorang, pasti ada latar belakang yang pastinya tidak mudah. Aku jadi teringat ceritanya yang membuat ia mulai terkenal. Saat itu beliau memberanikan diri untuk mengajukan diri sebagai qori’ internasional yang mewakili Indonesia. Beliau berkata bahwa ia tidak pernah belajar qiro’ah, akan tetapi ia sering mendengar teman kamarnya qiro’ah hingga ia pun tak asing dengan lagu-lagu qori’. Keberaniannya untuk mengambil langkah itulah yang membuatnya kini di panggil oleh beberapa Negara di berbagai belahan dunia untuk menjadi penceramah ataupun imam masjid pada saat bulan puasa.
            Layaknya jiwa-jiwa pemenang, ia tak pernah pantang menyerah. Bahkan di usianya kini yang sudah tidak terbilang muda, ia tetap enjoy dalam berdakwah. Pengabdiannya kepada masyarakat begitu terlihat. Agama adalah alasannya dan tuhan adalah maksudnya. Andai tuhan memperpanjang lagi waktuku untuk bersamanya. Maka itulah salah satu nikmat terindah yang takkan pernah aku lupakan dalam hidupku. Bagiku, bersamanya adalah kesempatan emas yang sangat sayang untuk disia-siakan. Karena bagaimana mungkin aku menyia-nyiakan mutiara hikmah yang keluar dari lisan yang fasih dalam menyebut asma allah dan rasulnya. Doa-doanya yang mampu membuat semua kepala yang congkak menunduk haru. Membuat mata yang sering terbelalak pada kemaksiatan menjadi terpejam penuh dengan airmata. Satu huruf yang berasal dari lisannya, seakan berisi satu lembar nasehat yang mampu bertahan sebulan lamanya. Entah mantra apa yang telah ia keluarkan, yang kutahu kata-kata dan nasehatnya begitu menyihir hingga membuat kami terbawa suasana. Tak terukur seberapa panjang dia terbangun dalam malam-malamnya. Yang bisa ku lihat adalah ukiran kata yang berasal dari keikhlasan niatnya. Sungguh beruntung mereka yang memilikinya. Sungguh anugerah yang luar biasa menjadi mahasiswanya. Terima kasih ya allah,  kau pertemukan aku denga dirinya.
Andai waktuku bersamanya diperpanjang oleh sang pemiliknya, takkan terhitung lagi lembaran-lembaran kertas tentang mulianya hamba tuhan dan umat rasululloh yang satu ini. Dialah seorang ulama diantara ribuan pasir yang merusak mata. Bersamnya adalah impian semua orang. Akupun berteriak dalam hati, “TUHAN!!! BERIKAN AKU SATU PAK PROF DALAM SEMUA SEMESTER KU DI KAMPUS INI, MAKA KELAK AKU AKAN MELAHIRKAN BERIBU PAK PROF DI MUKA BUMI INI” bisakah? Batinku menentang.” Insyaallah, bi_idznillah” jawabku singkat.
Pagi tadi, dengan setumpuk buku yang ia pegang di tangan kanannya, ia terlihat begitu tenang berjalan mencari-cari ruangan yang kosong untuk diisi. Kebetulan hari ini, semua ruang kelas sengaja di kunci karena besok akan digunakan untuk pengujian calon mahasiswa baru di kampus ini. Satu-satunya ruangan yang memungkinkan untuk  di tempati adalah ruang sidang di lantai satu. Karena ruangan ini hanya digunakan pada saat acara tertentu. Dengan baju koko berwarna putih dan dipadukan dengan kopyah hitam yang menjadi ciri khas nya, ia terlihat begitu tampan mempesona. Bukan karena gelar yang sandangnya, namun karena kemuliaan hatinya.
Satu persatu dari kami ditanya tentang tugas menulis yang ia berikan. Usia nya yang sudah tidak muda, tidak membuatnya lupa pada tanggung jawabnya. Ia berkata bahwa ia merasa sangat bertanggung jawab pada kami untuk membuat kami menjadi orang sukses. Karena ia berfikir bahwa tuhan mengirim kami untuk di didiknya. Ah…andai tuhan memberi kami waktu lebih lama lagi untuk bersamanya. Andai tuhan tetap membiarkan bintang itu di sisi hati kami. andai tuhan tetap menempatkan dia disisi kami. oh tuhanku… jangan pernah kau ambil namanya dari hati kami, dan juga tetapkanlah kami di dalam hatinya. Sungai takkan pernah berhenti mengalir walaupun bebatuan menghadangnya. Ia tetap mencari celah untuk selalu memberikan manfaat pada sang peminatnya. Ia tak pernah berharap balasan dari apa yang telah berikan.
Malam ini, hatiku seakan tak lelah bertasbih. Keindahan ciptaan allah begitu tampak di depan mata. Aku bersyukur tuhan memberikan ku kesempatan untuk menyaksikannya. Kalau dipikir-pikir, ciptaannya saja sudah seindah ini, lalu bagaimana dengan sang penciptanya? Oh tuhan… berikan aku anugerah untuk bisa bertemu dengan dirimu. Bahkan  walau aku tak pantas, tetap lah karuniakan aku dengan ar-rahim yang menjadi sifat wajib mu. Mata ini mungkin terlalu penuh dengan pandangan yang engkau haramkan, kata-kata yang keluar dari lisan ini mungkin tak layak untuk engkau maafkan, fikiranku tentangmu juga mungkin mengandung banyak salah, namun keyakinan ku akan kemuliaan dan keagungan mu, tidak cukupkah itu untuk mendapat kasih sayang mu.
Dengan retorika yang masih terkesan buruk, ku coba merayu tuhan ku. Mengharap ampunan darinya atas apa yang akhir-akhir ini mulai berubah dari ku. Mungkin karena banyak fikiran, otakku menjadi beku dan buntu sehingga aku banyak menggunakan perasaan dan membuatku sedikit sensitive. Namun tuhan selalu membantuku memperbaiki semuanya, ia selalu menunjukkan jalannya untukku, karena dia bukan hanya sang pencipta, namun ia adalah pendidik yang selalu mengajarkan kerendahan hati. Seperti kata pak prof tadi pagi, entah dia mengutip dari kitab mana namun kalimat tersebut berbunyi man tawaadlo’a lillahi rofa’ahullohu yang artinya, “barangsiapa yang merendahkan diri pada allah, maka allah akan meninggikan derajatnya”. Lagi-lagi ilmu yang ku dapat pak prof selalu menjadi referensi. Semuanya menjadi indah dirasa dan juga di makna. Layaknya air hujan yang mengairi tanah yang sudah mulai mongering, maka tanah itupun begitu cepat menyerap nya.
  Kejadian tadi pagi juga masih menjadi topik yang hangat dalm fikiranku. Waktu itu, sepulang dari kampus aku menuruni satu-persatu anak tangga didepan gedung fakultasku. Selang nenerapa langkah, aku di hentikan oleh seseorang di depanku. Dia adalah seorang wanita. Wajahnya yang sudah mulai keriput, menampakkan nya sebagai wanita yang berumur sudah sekitar 70-an atau bahkan lebih. Pakaiannya yang kelihatan kusut, dengan jilbab yang hanya di talikan pada lehernya, ia menyodorkan secarik kertas padaku.
Tanpa ragu, aku mengambil kertas yang disodorkannya. Terdapat sebuah tulisan dalam kop surat itu, entah apa isi keseluruhan dari surat itu, aku tak sempat membacanya. “nak, kasihanilah saya nak, anak saya mau sekolah di al- amin nak, saya harap kemurahan hatinya nak!” ia berucap dengan nada melas. Aku yang dibuat bingung dengan tingkahnya, masih tercengang tak mengerti. Karena awalnya saya berfikir bahwa nenek itu akan menyekolahkan anaknya di kampus ini seperti halnya kebanyakan ibu-ibu yang tadi aku temui di kampus.”al-amin? “aku  bertanya singkat. “iya nak” jawabnya tak kalah singkat. Karena aku telah mengetahui maksudnya, akupun membuka resleting tas hitam yang sedang ku pegang. Kucari-cari dompet biru yang bersembunyi di celah-celah tas ku. Tanpa berfikir panjang, ku ambil uang yang bergambarkan imam bonjol, karena kondisi dompetku yang tidak stabil. Aku aku hanya dapat memberikannya itu. Sembari ia berterima kasih, ia berlalu diiringi dengan doa-doa yang ia khususkan untukku. Aku meng-amini doanya dalam hati, “oh tuhan…kabulkanlah doanya, berikan aku ke-suksesan yang menjadi harapan semua orang, dan ampunkan diriku selalu!!! Amin!!”
Ini bukan tentang uang lima ribu yang ku berikan padanya, bukan pula tentang isi dompet ku yang sudah mulai me-ngempes, entah karena bocor atau memang kebutuhan hidup telah membuatnya tak lagi terisi penuh. Ini tentang orang tua yang rela mengemis demi untuk sekolah anaknya. Entah aku harus memujinya dengan langkah nya tersebut, atau aku harus iba karena melihat fenomena tersebut. Ia menengadahkan kedua tangannya menggilir satu persatu orang yang ia temui hanya karena sekolah anak nya. Entah itu hanya alasannya untuk mendapatkan simpati, atau itu memang rill dia mengalaminya. Entahlah… kalau ber-husnudzdzon, dia memang benar-benar mencari biaya untuk sekolah anaknya. Secara kasat mata, ku lihat dia seorang yang hebat, mengorbankan rasa malu dan harga dirinya demi menyekolahkan anaknya, akan tetapi dibalik semua itu, hanyalah dirinya dan tuhannyalah yang tahu. Kita sebagai manusia yang lemah hanya dapat melihat apa yang ada di depan mata, tanpamengetahui apa yang ada di balik semua itu.
Yang jadi masalah adalah, haruskah dia mengemis dari tangan ke-tangan untuk mendapatkan rasa iba dari semua orang. Haruskah ia menutup wajahnya dari rasa malunya. Aku setuju dengan perbuatannya, karena aku fikir, untuk sesuatu se-mulia ilmu, mengemis bukanlah sesuatu yang memalukan. Namun itulah yang seharusnya dilakukan oleh sang pencari, mengemis, mengiba, demi ilmu. Karena untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa, perlu usaha yang tidak sedikit. Membutuhkan baiaya yang tak terhitung, airmata yang berkantung-kantung, mata yang membengkak, mulut yang berbusa lantaran kelamaan memohon. Andai semua orangtua di dunia ini, memiliki  kemauan sekeras itu, andai semua orang berhati baja dalam menginginkan sesuatu. Pasti tidak akan ada seseorang yang bodontuk berharaph, wajah keriputnya tak menghalangi semangatnya yang membara. Kantung matanya yang sudah mulai membengkak, tak membuatnya memejamkan mata pada masa depan anaknya. Keadaan tak membuatnya menyerah untuk terus maju kedepan, menatap langit yang tak bermuara.
            Ditemani lagu “tak seindah malam kemaren” oleh bagindas, tanganku menari diatas tombol-tombol huruf di depan mataku. Aku tertunduk lesu diperdaya keadaan. Aku bingung apakah aku akan tetap mengikuti seleksi al-azhar, ataukah aku akan langsung pulang setelah UAS. Akan tetapi jika aku tidak mengikutinya, aku akan kembali dihantui oleh perasaan sakit yang kemaren-kemaren ku rasakan. Namun entah mengapa saat ini, rasa inginku untuk kuliah di kairo tidak lagi ada, aku seakan tersihir oleh cahaya tuhan di hatiku. Hingga seakan aku tak pernah memilikki keinginan. Apakah tuhan sedang mempermainkan aku? Ataukah rasa kecewaku telah mampu menghilangkan segala harapan yang dulu begitu dalam tertanam di hatiku. Entahlah… aku harus tetap mengikuti seleksi supaya jika suatu saat perasaan kecewa yang dulu sering datang menggugat bisa aku beri alasan yang masuk akal. Karena sampai saat ini, belum ada yang bisa mengobati lukanya hati ku.
            Mungkin cintaku pada kak maqbul pun telah terkuras habis, lantaran gersangnya kota ini membuatku harus menghabiskan lebih banyak airmata. Kepergiannya dari hidupku membuatkan keyakinan baru dalam hidupku bahwa cinta memang tak harus memiliki. Akupun takkan bisa banyak berharap darinya. Karena aku tau siapa dirinya dan siapa diriku. Tuhanpun takkan menciptakan sesuatu yang mustahil untuk diterima oleh akal. Ku blokir namanya dari fb yang mana itu menjadi awal sebuah cerita. Ia pun sudah lama tak menuliskan sesuatu yang bisa memperlihatkan kondisi ataupun keberadaannya. Lelah diriku menunggu, bahkan sepatah katapun ia tanpa suara, mungkin memang melupakan adalah jalan terbaik untuk tidak selalu mengingat. Bahkan jika suatu saat ia kembali dalam hidupku, aku akan telah bersama orang lain. aku takkan lagi berharap bintang di matanya, tidak juga madu dari tutur katanya.
            Jika tuhan menganggap cintaku padanya adalah kepalsuan, karena aku sudah beranjak untuk melupakan dan meninggalnya, biarlah!! Tuhanlah yang lebih tau tentang diriku bahkan dari diriku sendiri. Yang ku harap adalah ketika aku memang benar berdusta atas cinta ini, ia akan sudi mengampuni aku atas setiap huruf yang tertulis, mengampuniku atas setiap detik yang kuhabiskan untuk menuliskan kebohongan ini. Yang ku harap kini ialah kak maqbul tetap bahagia, entah siapapun wanita beruntung yang ia pilih untuk dirinya, semoga memang sesuai dengan pilihan allah. Semoga ia mampu menjadi penenang mata bagi kak maqbul, dan semoga allah meridlai keduanya.
            Jika aku ditanya, apakah aku ikhlas mendoakan mereka seperti itu? Apa aku tidak sakit dengan doa ku sendiri? Ku jawab bahwa doa itu memang hatiku yang menginginkannya. Dan tentang keikhlasan hanya tuhan yang tahu. Entah ku ucap doa itu lantaran aku kecewa pada sebuah kenyataan ataukah aku memang tak lagi menginginkannya hadir kembali dalam hidupku. Perkataanku ini mungkin didukung oleh pernyataan mbak ku kemaren. “sofi, kamu tahu enggak, kemaren pas aku di pondok, kan aku ngobrol sama neng, trus dia bilang bahwa dia mempunyai seorang teman, katanya dia kuliah di kairo, dia punya madrasah di rumahnya, dan sekarang dia di Madura, katanya dia sering telponan sama neng” kata-kata mbak ku, membuat penasaran. Lantas ku lanjut mewawancarainya. Hatiku langsung kaget mendengarnya, aku takut kalau seseorang yang mbak ceritakan memang benar kak maqbul.
 “ iya tah? Siapa namanya? Tanyaku. “kalau tidak salah, namanya iqbal. Kemaren neng minta bukain fb nya dan yang ku lihat di sana fotonya mirip sama foto yang ada di background leptop kamu” ia lanjut menjelaskan panjang lebar. “loh masak mbak? Aku masih belum percaya itu, lagipula mbak bilang kalau namanya iqbal kan??? Sedang nama yang disini maqbul bukan iqbal” aku masih tak percaya dan aku tak ingin mempercayainya. “entahlah siapapun namanya, aku lupa tapi yang  jelas foto di fbnya sama persis dengan foto yang ada di leptop kamu, sampai-sampai aku segera mengganti fotonya takut ketahuan neng, kan gak enak” jawabnya terlihat serius.
“masak mbak, aku masih tak percaya itu, entar kalau aku dah libur dan sudah pulang ke rumah, kita lanjutin cerita ini lagi, entar aku perlihatkan fb nya ke mbak.” Aku berusaha meyakinkannya. “sudahlah dik, tidak usah terlalu banyak berharap dari laki-laki, mereka itu semuanya sama, kita harus sadar siapa kita, kita bukan anak orang kaya, juga bukan anak kiai, wajah kita juga bukan rupawan, lalu dengan apa kita akan bisa menjadi pilihan orang lain” kata-kata mbak menghilangkan rasa optimis ku. “iya mbak, aku tahu itu, akan tetapi apa salahnya menjadi khodijah untuk emndapatkan pria seindah rasululloh?”. Aku mencoba menghujat. “betul dek, namun satu yang kau lupakan tentang khodijah, bahwa dia adalah bangsawan dan saudagar kaya, pantaslah kalau suaminya seperti rasululloh” mbak ku seakan tak mau mengalah. “oke lah, tentang kasus khodijah, aku bisa terima. Lalu bagaimana dengan kasus saudah binti zam’ah, bukankah ia adalah bangsa hitam yang sudah tidak muda lagi, lantas mengapa ia oleh allah dijodohkan dengan rasululloh? Jika cinta memandang status ataupun keadaan?” kataku. “kalau itu mah, wallohu a’lam, “ ucapnya mengakhiri perdebatan siang saat itu. Kitapun beradu dalam diam, memikirkan sebuah narasi cinta yang terbelenggu dalam diam.
Satu hal yang ku lupakan bahwa  terkadang tuhan mempertemukan kita dengan seseorang, bukan hanya untuk menjodohkan ataupun mempersatukan mereka. Akan tetapi adakalanya ia mempertemukan sebagai sebuah pelajaran berharga dalam hidup. Sebuah pelajaran yang tidak bisa didapat melalui rumus-rumus al-jabar ataupun teori-teori dalam  fisika. Hanya pengalaman hidup yang mampu mengajarkan mereka, memberitahu mereka, bahwa hidup masih koma. Akupun tak boleh menyesali atas pahitnya hidup akibat cinta yang tetjatuh tidak pada tempatnya. Semua itu mengajarkan aku bahwa kala cinta terjatuh  ke dalam hati seseorang. Maka luka memar yang dihasilkan akan begitu lama terlihat.
Hanya hati yang tulus, dan rasa tawakkal yang dapat membantu  sembuhkan luka. Karena hembusan anginpun takkan membantu menutup perih hati yang sedang ku rasa. Memang tak mudah diucap dengan kata, ataupun didengar dengan telinga. Hanya hati yang berniat untuk mendengarlah yang dapat merasakan ketulusan. Satu pesanku untuk seorang maqbul hasan munir dan juga untuk diriku. “jangan pernah engkau menyia-nyiakan hati yang tulus, karena ketulusan itu mahal harganya, jika dirimu memang benar mencintai orang yang telah dipilihkan untukmu oleh ibumu, maka sayangilah dia setulus hatimu, jangan pernah kecewakan dia ataupun ibumu! Karena kebahagiaan mu berada di kedua mata nya yang tulus mendoakan mu, teruslah berjalan di jalan allah !!! dan teruslah begitu”.
Kau tak perlu lagi memikirkan perasaanku, lambat laun aku pasti akan sembuh. Aku bukanlah tipe orang yang cengeng, sebentar lagi lukaku akan sembuh. Akupun akan memfokuskan diriku pada al-qur’an.  Dan tentang janjiku dulu bahwa engkau boleh kembali lagi dalam hidupku asal tidak melebihi empat tahun dari waktu dimana aku mengucap janji. Aku tetap akan mengingat hal itu. Kau tetap boleh datang kembali, akan tetapi tentang perasaan, aku tak berani menjamin bahwa perasaan itu akan tetap sama. Karena hidup takkan menempati ruang yang sama.
Wahai kalian, dimanapun kalian menemukan sosok maqbul hasan munir, tolong sampaikan sepucuk surat ini untuknya.

                                                                                                          Surabaya, 09 juni 2015
Dear kak maqbul,
           
Untuk seseorang yang kata-katanya membuat semua hati tertegun, puisinya yang dapat menghentikan aliran sungai nil. Dua mata yang tampak sayu lantaran lama menangis diatas mushaf. Hati yang membengkang lantaran rindunya kepada rasululloh sang idola. Lisan yang tak pernah berhenti muroja’ah kalam ilahi, hingga ia seakan  tak punya waktu untuk menuliskan sepatah katapun untuk sang perindunya. Tumit dan dahi yang membengkak bekas ia membenturkan kedua nya diatas sajadah cinta. Untuk mu sang bintang!!! Teruslah bersinar, walaupun engkau sendiri mengejar rembulan, jangan biarkan awan tebal menyelimuti mu hingga engkaupun terlelap dalam gelap.  Engkau tetap menyinari banyak hati, walaupun yang kau maksudkan hanya untuk satu orang. Maqbul berarti engkau akan diterima oleh semua hati. Nama yang indah menjadi doa untuk hidupmu. Hasan menunjukkan kebaikan dan kemuliaan perangaimu. Tetaplah bertingkah layaknya nabi Muhammad SAW yang menjadi idola dan panutan mu. Dan terakhir adalah munir, yang bermakna engkau akan meninari hati-hati yang gelap oleh berbagai sebab. Umbarlah senyum terbaikmu didepan semua orang. Satu pintaku padamu, jagalah hati mu! Jagalah al-qur’an mu! Biarkan hafalan mu mengakar dalam hatimu! Kalaulah hatimu harus terisi selain itu, jangan biarkan ia terlalu sesak terisi oleh sesuatu selain al-qur’an. Biarkan firman allah tetap bersemayam di hatimu. Dan tetaplah ber-ahlaq seperti al-qur’an. Engkau adalah seseorang yang begitu indah, seindah namamu, jadi jangan pernah kau si-siakan anugerah yang telah allah berikan padamu. Tetap jadikan allah sebagai tempatmu berharap, dan jadikan ummimu sebagai seseorang yang dapat menguatkan hatimu. Dan tentang seseorang yang engkau cintai, jagalah dia! Jagalah hatinya! Dan tetaplah bersamanya. Jadikan dia penyempurna amal ibadah mu! Jadikan dia aisyah dalam hidup mu. Dan tentang khodijah, ia akan tenang disana bersama sang bintang. Semoga allah menjagamu! Berbahagialah selalu!!!.
                                                                                                            Sufayya al-abadiya



68 komentar:

  1. Hikshikshiks...... terharu aku baca tulisanmu sof,... jangan lupa yah terus nulis kisah2 selanjutnya kalau udah di cairo mesir..., salam yah sama cairo kalau udah sampai amiiiiin.. !!!

    BalasHapus
  2. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  3. Good... tulisan yang msih kental dengan bahasa lokalnya sudah bisa menggugah selera pembaca. Cinta tak harus memiliki, terus berjuang! Dan munculkan kisah2 selanjutnya.. fighting & be spirit my young sister....

    BalasHapus
  4. ciye,, bahasanya mendayu-dayu.. koreksi lagi spasi setelah titik koma dsb yaa :)

    BalasHapus
  5. kisah yang sungguh mengharuskan hingga aku terbawa kedalam arus sungai nil seperti dalam cerita ini.
    tapi satu hal yang perlu di perhatikan bahwa nama itu di awali dengan huruf besar..
    sukses yaaa

    BalasHapus
  6. bismillah
    kata-katanya bagus. mungkin karena ditulis dengan perasaan yang beragam. yah, namanya juga cinta. kata teman saya sih, rasanya seperti nano-nano

    BalasHapus
  7. Penulisannya sudah bagus tapi kalu bisa di rata kiri kanan. Soalnya kurang rapi dilihat. Dan juga penempatan kata-kata dan tanda bacanya

    BalasHapus
  8. mantap tingkatkan sofii,,,,
    tetap semngat. jngan lupa hindari pengulangan kata....

    BalasHapus
  9. "Tdk ada prjuangan yg sia sia". Allah menmptkan kita dtmpt yg trbaek wlpn kadng kita tdk mnyadarinya.... Ttp smngat dan sukses sll untk Sofi.

    BalasHapus
  10. bagus banget, , rangkaian kata yang mendayu-dayu, , namun alangkah baiknya untuk yang berbentuk percakapan tidak dalam satu baris paragraf, , namun setiap percakapan berada pada garis yang berbeda, , , but that's good, ,

    BalasHapus
  11. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  12. Ya.. Begitulah cinta, dtg x ngalir tanpa ada paksa dan tnpa d mnta. Tapi semangat nyari ilmu x g boleh goyah..
    Qw ksi jmpol u tlsn x, tgkatkan lagi... Keren

    BalasHapus
  13. bagus mbak shopy....
    Tetep semangat dan sukses tuk kedepannya...

    BalasHapus
  14. Untuk tulisan mu cukup imajinatif.. tpi susunan Eyd harus di perhatikan. Keep spirit

    BalasHapus
  15. imajinasimu luas banget bak luasnya lautan garam di kampung halamanmu...
    gOOD JOB..
    terus berkarya sob!

    BalasHapus
  16. semangat...
    Standar sukses bukan kuliah di al azhar koq ^_^

    BalasHapus
  17. beh...subhanallah semog di lain waktu bisa ke al azhar yah :)

    BalasHapus
  18. Bagus, tingkatkan lagi kaidah bahasa indonesianya :)

    BalasHapus
  19. Sip. Rajin membaca dan terus menulis, Sofi. :)

    BalasHapus
  20. Gray skies are just clouds passing over. -Duke Ellington

    BalasHapus
  21. Time is a great teacher, but unfortunately it kills all its pupils.
    -Hector Louis Berlioz

    BalasHapus
  22. Time is the greatest innovator. -Francis Bacon

    BalasHapus
  23. Lanjutkan Kreasimu di Dunia Tulis Menulis

    BalasHapus
  24. Curahkan semua kereatifitamu dalam bentuk tulisan...

    BalasHapus
  25. Secara Contain Sudah Bagus.
    yang perlu diperbaiki alurnya
    Terus endingnya kalo bisa buat yg mengesankan dan out of the Box biar ada kejutan bagi pembaca dk

    Secara keseluruhan sudah bagus karna masih pemula :)

    BalasHapus
  26. cuma membaca sekilas, menarik. ada perpaduan kisah yang menghamparkan harapan/impian dan kisah cinta. kembangkan tulisannya!!

    BalasHapus
  27. Subhanallah bgus sof....tetapi kamu harus perhatikan kalimat perkalimat ...masi ada yg kurung hurup atau lebih ......tapi sdhhh bgusss kok.....

    BalasHapus
  28. Bagus.... banyak latihan menulis lagi yah dek...

    BalasHapus
  29. lanjutkan terus menulisnya, semoga bermanfaat untuk kedepannya..

    BalasHapus
  30. Sebenar nya mbak sofi cukup baik untuk membuat sebuah kata, hanya saja ketika sebuah kata yang indah anda lebih kan dengan kata yang tidak begitu berguna, hal tersebut membuat sebuah kata terlihat sedikit tidak enak di baca.
    >>(Lantaran aku sudah mampu. Kelopak mata pun sudah tak mampu membendung air mata, bibir pun telah enggan melafadzkan deru tangis yang bermuara di sudut kalbu)
    Itu melafadzkan deru tangis maksudnya apa mbak sofi.
    Penulis juga harus memperhatikan kata agar si pembaca bisa memahami apa yang di maksudkan Penulis, kata bunda Asma Nadia terlalu sastra sehingga tidak bisa dipahami si pembaca itu membuat runyam mbak sofi.
    Menurut saya sudah baik hanya saja alur penulisanya kurang rapi.
    Tapi saya salut mbak, tulisan ini sudah bagus untuk seorang pemula.
    Itu pendapat saya mbak. :-)
    Semoga bisa tercapai impianya. :-D

    BalasHapus
  31. sungguh luar biasa,, dalam usia yg sangat muda, sudah bisa berkarya seindah dan secantik ini,,

    BalasHapus
  32. great fiksi!!! sudah lumayan bagus dan alurnya juga sudah ok tapi mungkin EYD perlu diperhatikan lagi dan bahasa majaz juga perlu diperhatikan siapa sasaran pembacanya.....good luck!

    BalasHapus
  33. rajin rajin aja nulisnya, yang penting istiqomah! dan gak harus tiap hari!

    BalasHapus
  34. waw amazing ini dia sofi yang kita tunggu-tunggu bukan hanya kata-kat status di fb tapi kali ini membuat orang terhanyut, bingung mau ngomentar aja tapi jangn cepat puas stay hungry and foolish

    BalasHapus
  35. Nice creation, (y)
    Creat more creations to give a new collor for the world,!

    BalasHapus
  36. cerita yang cukup mengesankan, hanya butuh sedikit polesan kata2 sastra...

    BalasHapus
  37. Subhanallah,,, tulisan nya membuat pembaca semakin minat membaca karya anda, jangan terlalu bersedih sofi, hidup masih koma, tetap 3 B (berusaha, berdoa, dan bertawakkal) skenario-Nya sangat indah jika di syukuri
    Menjadi seorang penulis, membutuhkan ketekunan, ketelitian dan pengorbanan, tetap berkarya, menjadi penulis yang menginspirasi miliaran umat,,, Good Job

    BalasHapus
  38. Subhanallah,,, tulisan nya membuat pembaca semakin minat membaca karya anda, jangan terlalu bersedih sofi, hidup masih koma, tetap 3 B (berusaha, berdoa, dan bertawakkal) skenario-Nya sangat indah jika di syukuri
    Menjadi seorang penulis, membutuhkan ketekunan, ketelitian dan pengorbanan, tetap berkarya, menjadi penulis yang menginspirasi miliaran umat,,, Good Job

    BalasHapus
  39. subhanallah..menyentuh
    huruf besar di awal jangan ditinggalkan yah..
    tetap semangat, percayalah dengan tulsanmu ini kamu bisa pergi ke mesir

    BalasHapus
  40. hallo neng.... subhanallah karyamu.
    tingkatkan menulismu. ok

    BalasHapus
  41. ok bagus, teruslah menulis, meski msih ada sedikit kekurangan, semoga nanti selanjutnya makin bagus ya sof.
    aku selalu mendukungmu sahabat ku.

    BalasHapus
  42. Semoga berjodoh dengan Al-Azhar dan Kairo apapun itu bentuknya, baik bisa belajar di sana atau selau ditemukan dengan orang-orang yang dilahirkan dari rahim Al-Azhar sehingga ilmumu masih menyambung dengan Al-Azhar. Surat Ar-Rahman dan Al-Waqiah itu juz 27 bukan 28. Hehe. Terus membaca, membaca, membaca, dan menulis ya??? Semangka...!!! :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. ok pak,, maaf tentang masalah juz. itu salah ketik biasalah angka delapan dan tujuh kan berdekatan
      karena hidup masih koma, sekarang sudah tidak lagi

      Hapus
  43. Berkaryalah, tekuni dan lebih di tingkatkan lagi apa yang sudah anda lakukan. Sehingga apa-apa yang menjadi karya tulis anda selalu terkesan di dalam hati sang pembaca. InsayaAllah, salam sukses buat sang penulis ( sofi ).

    BalasHapus
  44. Baca, judulnya udah menarik.
    klo baca isinya harus cari waktu yg tepat nih,

    BalasHapus
  45. Karya ini ada dua cerita. Fiksi dan non fiksi. Seandainya penulis ini bisa mengkomparasikan antara keduanya, mungkin hasilnya akan sangat bagus. Tapi sayang, ada dikotomi atau pemisahan dalam ceritanya. Jadi pembaca akan bingung, apakah sedang mmbaca cerita fiksi atau non fiksi/kisah nyata? Itu yg pertama.
    Yang kedua, cerita yg disampaikan terlalu terburu-buru, artinya tidak tuntas dalam satu cerita, malah sudah membuat cerita baru, padahal masih dalam satu cerita. Ini membingungkan. Contoh, ketika pada awal cerita penulis lebih fokus pada pujaan hatinya, Makbul, di tengah dan akhir cerita, nama itu tidak muncul lagi, makanya saya bilang tadi, pembaca akan bingung, kemana Makbul, bagaimana kelanjutan cintanya penulis pada tokoh Makbul? Dan apa hubungannya tokoh Makbul dengan kegiatan2 keseharian penulis yg dipaparkan terlalu panjang?

    Tapi terlepas dari itu semua, penulis ini sudah bisa mewakilkan isi hatinya pada sebuah karya. Dan makanya kenapa, para pembaca akan terbawa suasana hati penulis, karena si penulis, menulisnya dengan rasa dan jiwanya, bukan sebatas kata2 dalam bahasa.

    Good Luck

    BalasHapus
  46. Subhanallah kisah yang sangat inspiratif, terus gali ilmu dari beliau bismillah.. :-)

    BalasHapus
  47. it's a nice post....
    Trus menulis kakak.. keep writing yooo.

    BalasHapus
  48. Untuk redaksi dan isi materi tulisan sudah bagus. Tapi untuk menjadi penulis tidak hanya butuh kecerdasan dan pintar. Istiqomah adalah yang utama. Ingat juga, bahwa semua anugerah yang sampean dapat adalah untuk menyembuhkan yang sakit jiwanya, menolong yang lemah sosial-kapitalnya, menghibur yang menderita batin dan ruhnya. Selamat Berproses dek!

    IBROHIM CSS 2011

    BalasHapus
  49. mantap soff
    terharu saya membacanya.
    alur ceritanyapun serasa dibawa alir sungai yang mengalir...

    BalasHapus
  50. siip.... lanjutkan, semakin menarik aja... sukses ya...

    BalasHapus
  51. kata-kata yang dapat menyihir pembaca. lanjutkan!!!

    BalasHapus
  52. Sebelum Anda dapat membeli senjata terbaik, manfaatkan pisau tajam Anda secara maksimal terlebih dahulu.

    BalasHapus
  53. bahasa arabnya tolonh diberi baris

    BalasHapus
  54. perhatikan terus cara penulisannya mbk

    BalasHapus
  55. ok kak, maksih banyak kak, itu sebenarnya salah ngedit,, niatnya memperbaiki tapi malah tambah hancur,,, biasalah tahap pembelajaran kak

    BalasHapus
  56. Semoga kali ini impian kamu ke Kairo benar-benar terwujud, sehingga cerita tentang Kairo-mu terus berlanjut. Semangat!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. mas hamim thank you atas doanya,,,
      tapi mas tau sendiri kan konsekuensinya kalu keluar dari pbsb, harus ganti mas, uang negara!!

      doain yang terbaik deh mass,

      Hapus