Berawal dari rasa sakit yang kualami di setiap detik dan menitku,
akupun menggoreskannya lewat tinta ini.Lantaran aku sudah tak mampu.Kelopak
mata ini sudah tak mampu membendung airmata, bibir ini pun telah enggan
melafadzkan deru tangis yang bermuara di sudut kalbu. “assalamu’alaikum…, dik
sofi ya?” seseorang mengagetkanku dengan ucapan salam yang begitu lembut. “iya,
saya sofi. Ini kak maqbul ya?“ tanyaku tanpa ada sedikit keraguan karena yang
kulihat matanya sama persis dengan foto yang sengaja ku save di leptop ku. “
subhanalloh….. indah!” aku bergumam dalam hati sembari memandanginya sekilas.
Ku lihat langkahnya yang gemulai sedang menapaki beberapa anak
tangga di masjid Ulul Albab.Ya… masjid Ulul Albab, masjid dengan satu menara
ini yang menjadi saksi atas pertemuan pertama ku dengan Maqbul Hasan Munir.Seorang
Hafidzyang baru pulang dari Kairo, pria berkacamata dengan senyum manis di
bibirnya. Dengan senyum yang terukir dari bibirnya, ia memulai pertemuan ini.
Aku yang sedang ada kumpul sama teman-teman seangkatanku mencuri sedikit demi
sedikit waktu ku demi ingin punya lebih
banyak waktu dengan kak maqbul.
“ya allah, jika langit disana terlihat begitu indah dengan
bintang-bintang yang kau tabur di setiap celah nya, maka hamba mu yang ini
lebih indah dari langit itu walaupun hanya dengan dua bintang di matanya” aku
tak berhenti menggumam dan bersaksi atas indahnya hadiah tuhan di malam hari
itu. Entah karena dia memang indah atau karena hati ku telah
men-dekorasinya?Entahlah, yang ku lihat hanya keindahan dan cahaya al-qur’an
yang ku lihat di wajahnya. “maaf ya dek, udah buat adek menunggu lama” ucapnya
dengan nada bersalah. Ia bilang mau mengunjungiku mulai sebelum ‘asar namun
nyatanya ia sampai ba’da isya’. “ enggak apa-apa kok kak, kakak naik apa tadi
kesininya?” aku bertanya dengan nada tidak enak karena telah merepotkannya
walaupun dia yang ngajak kita bertemu.
“tadi aku naik angkot, muter-muter dan akhirnya nyampek deh,
Alhamdulillah” ucapnya sembari memperlihatkan kemanisan senyumnya. Bibirnya
yang begitu imut membuat mata ku menununduk tak mampu tuk terus memandanginya.
Dia yang ku kenal hanya lewat fb, kini
terasa begitu dekat dengan hatiku, kini dia telah menguasai hatiku. Diriku menjadi
tak ingin dia beranjak sedikitpun dari pandanganku.Hatiku menjadi terikat
dengannya.Aku menjadi ingin selalu dekat dengannya.
Bila airmata ini menjadi saksi
Biarkan aku menangis di hadapannya
Dia yang tersembunyi di balik layar
Kini dia nyata di depan takdir
Bila takdir dapat ku ukir,
Biarkan aku membawanya ke hilir
Karena hatiku telah terkilir
Lantaran senyum telah terukir
Waktu menunjukkan jam 08.40 dan
merupakan batas maksimal aku keluar asrama sebagai penduduk asrama ma’had
al-jami’ah. “kak, udah malem. Mendingan kakak pulang biar enggak terlalu malem
nanti di angkot” aku beranjak untuk pergi. “bentar lagi dong dik, kakak masih
ingin bersama adik bagaimana kalau kita ke tepi rel itu, kita makan.” pintanya
tak ingin beranjak pulang. “maaf kak, aku sudah kenyang lagian ini sudah malam,
kakak lapar?” Tanya ku sok perhatian.“ iya, kakak lapar…”ucap nya. “yaudah
kakak makan dulu sana dan maaf aku tak bisa menemani kakak” aku menolak. Aku
yang tak pernah berjalan berdua bersama laki-laki tetap enggan berduaan
walaupun sama kak maqbul yang aku cintai.
“hmm, kalau adik enggak bisa nemenin kakak, kakak tidak jadi
lapar..padahal kakak pengen ngomong sesuatu sama adik, dan kalau diomongin
disini suasananya enggak tepat” ucapnya kecewa. “ aduh kak, maa….ffff banget…
bukannya saya tidak mau, tapi ini sudah malam saya enggak enak dengan
teman-teman kak, maaf banget”. Aku yang juga ingin lama-lama dengannya merasa
keberatan juga harus membiarkan dia
sendiri. “ yaudah enggak apa-apa.. kakak
ngerti kok.. “ ucapnya memaklumi. “maaf ya kak… yaudah kk pulang.” Ucapku
menunggu kepergiannya. “adik jalan duluan..” pintanya. “yaudah aku duluan ya,
assalamu’alaikum.” Aku langkahkan kaki ku pelan-pelan tapi pasti.Sedikit demi
sedikit meninggalkannya, ku lihati dia sudah mulai membalikkan badan dan
beranjak pergi.
Andai malam ini dan semua yang ada di dalamnya
Menjadi malam yang istiqomah hadir
dalam hidupku
Andai bintang malam ini selalu
istiqomah hadir dalam hidup ku
Andai aku dapat menghentikan detik
itu
Aku
terus bergumam mengiringi langkah ku menuju asrama tempat aku tinggal.Pertemuan
di malam itu membuat aku senyum sendiri saat mengingatnya.Karena saat pertama
kali aku melihat wajahnya, jantungku berdegup kencang tak karuan. Namun, kini
ia hanya berada dalam khayalku karena jarak telah membuat jarak antara aku
dengannya. Namun egoku, aku terus menderu dalam sujud ku. Bertitah tentangnya
atas nama firmannya.
Kini aku hanya dapat melihatnya
lewat kejauhan, lewat foto_foto yang ia posting di dinding fb nya, ia telah
kembali ke kairo untuk melanjutkan studinya. Dan apakah uin sunan ampel masih
tersisa di hati nya? Ataukah kairo dan gersangnya padang pasir telah membuatnya
melupa? Hanya tuhan yang mampu menjawab dengan waktu yang kan terus berputar.
Menara masjid sunan ampel telah bersaksi bahwa ada cinta dan rindu di hatiku
untuk seorang maqbul hasan munir. Seseorang yang mampu melengkapi hatiku,
seseorang yang ku pikir kan mampu menjadi imam ku.
Haripun terus berlalu hingga membawaku ke semester berikutnya.Yah…
aku sudah memasuki semester dua.Dimana aku harus memulai kembali kesibukan ku
dengan makalah dan saudara_saudara nya.Intensive bahasa pun mulai di
galakkan.Dan kini aku berjumpa dengan kairo lagi.bu Putri, guru intensive
keagamaan ku adalah alumni al_azhar kairo. Beliau selalu bercerita tentang
kairo dimana ia belajar. Dan aku, aku hanya membatin mendengar semua keindahan
kairo yang terngiang di telinga.Hatiku menangis, dan terus menangis.Cita_cita
yang ku bawa dari Madura tak urung pupus.Ingin ku menghanyutkannya di laut
suramadu, namun tuhan tak mengizinkanku dan akibatnya aku terus tersisksa di
tiap detik ku.Bagaimana mungkin aku melupakan kairo dan al_azhar, sedangkan
tuhan selalu memperlihatkan mereka kepada diriku. Tuhan menaruh hatiku di
kairo, lalu bagaimana mungkin aku bisa lepas dari kairo?.
Ketika bu putri menjelaskan syarah
kitab adabut_tolibin dan mengkombinasikannya dengan kisah yang ia bawa dari
kairo. Akupun ingin menjerit. “ya allah,,,,,,,,,aku ingin kairo, apapun dan
bagaimanapun caranya bawalah aku ke kairo. Aku ingin belajar tentang islam dari
Negara islam. Aku ingin berguru kepada syaikh azhar, aku ingin menikah dengan
kak maqbul” aku terus berada dalam dilema. Memang benar, saat ini tuhan telah
mengganti kairo dengan Surabaya. Lantas
mengapa tuhan masih menyisakan rasa di hatiku untuk kairo jika memang kairo
terlalu indah untuk seseorang se_level saya.Tidakkah tuhan mengasihani diriku
yang kian terluka di tiap detik.
Seringkali ku iqrar janji dalam hati
bahwa aku kan melupan kairo. Namun ketika aku kursus di genta, tuhan
mempertemukan aku dengan Mr. Qomar, direktur genta.Tuhan memberiku waktu untuk
berbincang_bincang dengannya.Hingga aku mendapatkan kembali semangat untuk
mengejar kairo.Dan malam itu, aku berdiri di tepian jalan genta.Mengerahkan
pandangan ku keatas lampu_lampu yang menggantung di langit. Akupun berikrar
sebuah janji ” tuhan,,,, aku takkan melupakan kairo, aku takkan
meninggalkannya, aku pasti kan mendapatkan kairo, aku akan menyusul kak maqbul,
kak maqbul pasti kan menjemputku dan
membawaku kesana, aku pasti akan solatdi masjid al azhar, ATAS
SE_IZIN MU”.
Kalimat ku yang terakhir itulah yang
mampu menguras air mataku. Aku menangis sejadi_jadinya dan berusaha
menyembunyikan airmataku di balik kerudung hitam yang ku kenakan.Aku sadar
bahwa aku tak pantas mencintai kairo namun aku pun tak bisa disalahkan karena
cinta itu datang tanpa aku undang dan tetap tinggal walaupun telah ku usir.
Hanya zikir yang keluar dari lisan ini yang kujadikan surat untuk tuhan.
Hembusan angin malam yang telah mengantarkannya.
Belum sembuh lukaku, kenyataan pahit
menyapaku. Benarkah ia menolakku? Benarkah ia telah di jodohkan? Benarkah ia
mempunyai wanita lain yang ia cintai?Tak adakah perasaan di hatinya untukku
walaupun sedikit?Benar…… itulah jawabannya.Di lantai 2 asrama genta aku coba
menguraikan persaan ku pada kk maqbul.Obrolannya dengan teman2nya di fb
memancingku untuk mempresentasikan perassanku di hadapannya. Di balik layar hp
yang ku pinjam dari temanku, ku kirim soft file perasaanku padanya. Namun apa
jawabnya? Masihkah kau bertanya?Sedang aku telah menjawabnya diatas.Ia
menolakku, ia tidak mencintaiku, barangkali ia bahkan tak menyukaiku. Sakitnya
tu dimana?
Bertambahlah awan membiru, semakin
deraslah tangisan langit, bintangpun takkan berani mendekat.Aku sadar bahwa aku
memang bersalah karena mengharapkan nya.Jadi wajarlah jika tuhan memenjarakanku
dibalik jeruji hatiku sendiri.Namun jika cinta ini salah, lantas siapa yang
harus disalahkan.Haruskah aku, keadaan ku?Atau siapa? Biarlah doa yang ku
panjatkan di setiap waktuku mengembalikan kepingan hati yang telah hancur tak
terhingga. Biarlah tuhan menawarkan racun yang tengah menyebar di setiap
nadiku. Hanya tuhan yang tau sampai kapan aku kan mencinta.
Takdir cintaku membuat aku membuka
mata, bahwa aku hanyalah mahluk kecil yang tiada berarti tanpa kasih sayang
allah. Air mata cinta acap kali berjatuhan di setiap malamku.Bahkan ketika aku
tidur, wajah kk maqbul selalu membayangiku.Namun aku tidak pernah menyesal
karena telah mencintainya. Karena cinta ini menumbuhkan kesadaranku akan
keadaan ku. Cinta ini membuat aku sadar bahwa selalu ada allah di setiap
kedipan mata ku. Ya rabb…. Aku bersedih….
Malam ini, jam di hp ku menunjukkan
pukul 02.30, aku segera bangun dari tempat tidurku.Siangku yang penuh dengan
aktivitas membuat malamku begitu pulas tertidur.Namun cita dan cinta membangunkan
ku. Akupun terbangun dan menitip salam rinduku untuk kk maqbul. Aku berharap
tahajjud cinta mengetuk pintu hati kk maqbul dan mengajarinya bahwa ada hati di
surabaya selalu mengharapkan nya. Ku sandarkan kepala ku
diatas kursi yang tersedia di kamar ku.Ku buka jendela selatan dan otomatis aku
melihat menara masjid al_akbar.Menangislah diriku dan jatuhlah air mata ku.
Ujung masjid al_azhar yang biasa
kulihat di foto2 yang ku download terlihat seperti ujung masjid al_akbar. Dan
malam ini aku menyaksikan nya.Lampu_lampu yang menghiasi masjid al_akbar
mengalahkan sinar lampu bangunan_bangunan yang mengelilinginya.Bertambahlah
luka ku karena mengingat al_azhar.Air mata ini ku biarkan berjatuhan diatas
mushaf aisyah yang tengah ku pegang erat. Ku baca ayat_ayat cinta yang ku dapat
dalam mushaf itu, dan dengan kesungguhan hati ku minta malaikat malam yang
tengah berteriak_teriak membawa pesan tuhan agar ia menyampaikan pesan ku pada
tuhan ku.
“adakah kau mendengarkan ku? Adakah
kau melihat sembabnya mataku?Adakah kau peduli dengan hancurnya hatiku?”malam
ini aku terus menghujani tuhan dengan berbagai pertanyaan. Aku tak ingin tuhan
menjawab, aku hanya ingin tuhan memperdulikan ku.Aku hanya ingin perhatian
tuhan. Aku yang memang sejak kelas dua Mts di tinggal oleh ayah ku untuk
memenuhi panggilan tuhan sangat haus akan kasih sayang. Itulah mengapa aku
ingin suami yang bisa menjadi ayah ataupun suami untuk ku.Tempat aku berlabuh
atas berbagai rasa yang terdapat dalam hiduku.
Namun sms yang ku terima dari kak
maqbul malam itu telah Membuat sembab mataku.Membuatku tak ingin cinta
setelahnya.Membuatku menjatuhkan diri ku diatas sejadah cinta.aku yang agak
pemalu, malam itu sudah tidak ragu untuk mengungkap cinta padanya karena di
dukung oleh perasaan cinta yang tulus dan kuat. Malam itu aku berpikir bahwa
tidak ada salahnya menjadi khodijah untuk peria sebaik rosululloh.Namun
kenyataan berbeda, kk maqbul menolakku. Walaupun ia sempat bilang suka pada ku
namun kesimpulannya, sekarang ia tengah mencintai seseorang selain diriku.
Sakitkah aku?Sakitkah perasaan ku? Jelas sakit!!!.
Yakin ku tak kan bisa di ganggu
gugat. Dan aku yakin bahwa dia mencintaiku. Aku yakin bahwa dia kan kembali
pada ku. Dia akan menjadi imam ku. Namun kapan?Masihkah kau bertanya? Tidak taukah
engkau bahwa akupun tak tau kapan ia akan kembali. Namun mari kita lihat!
Bagaimana keyakinan ini membawaku. Mari kita lihat bersama episode hidupku
selanjutnya. Sabarlah!!! Cinta yang akan menguatkan mu. Cinta yang akan
mengguyurmu dan membuat mu merasa tenang. Sabar ya!!!
Dentuman lagu dalam mihrab cinta
mengetuk hatiku pagi ini, hatiku terenyah dengan lagu yang di latar belakangi
oleh azhar.Aku memang tidak tahan ketika mendengar lagu ataupun melihat
foto-foto yang berhubungan dengan azhar. Lalu bagaimana dengan hari_hari ku
yang acap kali diisi oleh dosen
al_azhar. Terkadang aku merasa inilah cara tuhan menjaga cintaku pada al_azhar
yaitu dengan mengirim serpihan-serpihan azhar dalam dunia ku. Namun aku sadar
pada kenyataan, sehingga kenyataan membuyarkan senyum dalam hayal ku.Ku Tanya
pada diriku sendiri, siapa kamu?Anak orang kaya?Anak kiai?Anak pengusaha?Anak
direktur? Bukan!!! Aku bukan siapa-siapa, aku hanyalah anak yatim.Aku hanyalah
seorang hamba tuhan yang hidup hanya karena kasih sayang tuhan.
Ainul yaqin, iyah,,, dia asisten
prof ali, dosen tafsir ku. Ia menggantikan prof ali karena prof sedang ke
hongkong. Lalu knp?Dia mirip kak maqbul, apanya? Senyumnya!. Kembali ku dengar
kabar pyramid dan sungai nil yang membuat hatiku berbunga. Inilah cinta! ingin
selalu mendengar namanya, ingin selalu mengenal, ingin selalu peduli, tanpa harus
mengerti apakah ia di perdulikan atau tidak. Gambar-gambar nil yang di sajikan
bapak asdos tersebut membuat ku seakan berada di atas kapal yang membawaku
mengitari sepanjang sungai nil.Bahagianya aku dalam hayalan ini, seakan aku tak
ingin kembali kepada materi tafsir hari ini.Pikiran ku masih berkeliling di
sekitar sungai nil dan sungai Alexandria. Diriku, sadarlah!!! Bangun lah!!!
Sudah siang!!! Kamu belum solat!!!.
Hanyalah gemericik air mata dan
rintihan angin yang membantu ku memohon untuk tuhan yang maha kuasa.Aku yang
hanya sendiri tanpa keluarga di Surabaya ini hanya mengandalkan kasih sayang
tuhan.Namun itulah yang sangat berarti bagi hidup ku. Masih kurang apa aku,
orang tuaku tidak punya biaya untuk mengkuliahkan aku, namun allah memberiku beasiswa.
Masihkah aku kurang?Masihkah aku menganggap tuhan tak adil? Tau apa aku tentang
tuhan? Stop!!! Berhentilah bertanya!. Biarkan aku berpikir dan mencari apa yang
sebenarnya ku cari dalam hidup ku ini.
Kata cinta yang sering ku dengar
ditelinga bukanlah sekedar angin musim semi yang lewat begitu saja.Namun kata
cinta tengah menyusup ruang dan kalbu. Detik ini aku mengingatnya lagi dan
memaksa hatiku berkata: “ aku bukanlah mufassir yang dapat menafsirkan kata
cinta, aku bukanlah fuqoha’ yang bisa mengerti tentang arti cinta, aku juga
bukan ilmuwan yang dapat membuktikan teori cinta, namun aku adalah insan
cendikia yang menghabiskan detik-detik untuk memikirkan mu” hati ku merajut.
Cintaku pada kak maqbul membuat
airmata di setiap celah hatiku.dulu sebelum pulang ke kairo, dia pernah
memintaku untuk ngobrol sama ibunya. Namun aku menolak, karena pada saat itu
perasaan ku masih biasa saja terhadapnya.Saat itu aku tak mengerti kalau dia
menyukaiku. Aku tidak sadar akan hal itu. Namun ketika perasaan ku mulai
berubah, aku sudah mulai menyukainya, perasaannya terhadap ku juga mulai
berubah.Dia beranggapan kalau aku tidak menyukainya, jadi dia berusaha
melupakan ku dan membiarkan ibundanya mencarikan dan memilihkan seseorang untuk
nya. Aku tidak tau mengapa dia pergi saat aku sudah mulai sadar akan
perasaanku. Andai waktu bisa berbalik arah,
Aku akan memilih untuk menyadarinya. Namun sudahlah,,,,,, aku hanya
ingin mencintaintya dari kejauhan, aku hanya ingin melihatnya, karena aku sudah
bahagia ketika melihatnya bahagia. Aku harus adil pada cinta, karena hakikat
cinta adalah menerima apapun yang disuguhkan oleh yang kita cintai.Itulah
mengapa sampai sekarang aku bertahan untuk mencintainya walaupun aku tak tau
apakah dia juga cinta, ataukah dia tak ingin ku cinta.
Senin kali ini ruang kelas ku diisi
prof Ali dan asistennya yaitu bpk. Ainul yaqin yang kemaren-kemaren telah saya
ceritakan. Di samping membahas tafsir ayat yang berhubungan dengan dakwah, kali
ini prof membahas tentang ujian yang akan dilaksanakan minggu depan. Salah satu
trik ujian yang ku suka adalah seperti metode pak prof ini yaitu dengan
mencicil ujian.Tidak langsung diujikan sekaligus, namun di uji per-bab sehingga
memudahkan untuk menghafal.setelah membahas materi ujian, lalu sesaat kemudian
pak prof meninggalkan kami bersama bapak ainul yaqin karena beliau hendak
menguji mahasiswa yang sedang menyelesaikan disertasinya.
Bersama asisten pak prof, aku
kembali terbang ke kairo. Pembahasan ayat-ayat al qur’an membawa kami pada
salah satu dari sekian banyak ahlaq dan sifat nabi Muhammad. Menyimak dari
cerita beliau tentang rasululloh membawaku pada sebuah fikiran yang
menghasilkan kesimpulan bahwa untuk mencintai rasululloh, kita harus mengetahui
semua tentang beliau, mulai dari ahlaknya bersama keluarga, masyarakat, dan
bahkan sama orang kafir sekalipun. Ku lihat wajah pak Yaqin begitu berseri-seri
ketika membahas tentang rasululloh.Dan wajah-wajah seperti itulah yang
kebanyakan ku lihat pada orang-orang soleh pecinta rasul. Aku pun bertanya pada
diriku: “mengapa engkau belum berubah? Kau bilang kau ingin mencintai
rosululloh, kau bilang bahwa kau hanya ingin mencintai Allah dan Rasulnya.Lalu
kenapa engkau masih saja menuruti hawa nafsu mu?”
Aku malu pada diriku sendiri, aku
malu ketika bercermin di depan orang-orang soleh, aku malu ketika mendengar
kisah tentang khulafa’ur-Rasyidin yang begitu mencintai rosululloh dengan
sepenuh hati mereka. Aku malu untuk mengharap syafaat rasululloh di hari dimana
cintaku padanya kan dipertanyakan. Di hari dimana aku takkan bisa munafik
dengan kesohihan cintaku. Dan kini aku hanya bisa meringis melihat keadaan
hatiku yang masih menyimpan suatu nama yang berasal dari umat rasululloh dan
bukan namanya. Pantaskah aku menjadi umatnya?Sedang dihari kelahiran rasululloh
seprti hari ini, aku seakan merayakannya tidak dengan sepenuh hati, sungguh aku
begitu memalukan.
Berbagai macam kata cinta telah ku
rangkai, berbagai syair-syair telah ku lantunkan.Namun, apakah itu cukup untuk
membuktikan cinta ku pada rasululloh? Tidak!!! Itu masih belum
cukup.Akhir-akhir ini diriku sering berada dalam dilemma, dilemma yang dapat
mengundang bongkahan air mata.Sering aku mengikat janji terhadap diriku untuk
tidak memperdulikan sesuatu yang memang tidak bermanfaat bagi ku.Namun, inilah
aku dan kelemahan ku.Aku masih saja berada dalam gelombang perasaan tak
menentu. Aku masih dalam proses pengamatan tentang apa arti hidup ku. Aku
sedang dalm proses penyelidikan tentang kenyataan yang terjadi di sekitar hidup
ku.
Aku sudah tak dapat menafsirkan
takdir yang sedang ku jalani karena aku pernah salah menafsirkannya.Dan sekarang
aku hanya ingin menjadi orang alim, sabar, dan taat kepada Allah.Dan hari ini
aku putuskan untuk merevisi niat dan tujuan ku belajar. Sekarang yang ku ingin
hanyalah fokus belajar ilmu agama dan mempersiapkan diri untuk melanjutkan
kuliah S2 di luar negri. Mungkin terlalu naïf jika seseorang sepertiku terlalu
banyak menuntut sedang aku saja bukanlah siapa-siapa. Namun aku teringat sebuah
kalimat dari salah satu guruku. “ setiap orang mempunyai kesempatan, akan
tetapi hanya orang-orang yang beruntunglah yang dapat menggunakan kesempatan
sebaik-baiknya” akupun tidak jadi galau setelah mengingatnya, he..he..he.
karena memang benar, kata-kata orang soleh yang bijak lah yang bisa membuat
hati seseorang menjadi tenang. Kata-katanya tak dapat dibeli dengan uang, tak
dapat ditukar dengan apapun. Orang soleh dapat membahasakan al-qur’an dalam
kenyataan sehari-hari. Ia menjadikan al-qur’an sebagai rujukan nya, Muhammad
sebagai idolanya, dan al-qur’an sebagai undang-undanya, orangtua sebagai
tumpuannya, dan semua orang muslim adalah saudara dan sahabatnya. Itulah muslim
sesungguhnya.
Selasa, 24-03-2015
Sore ini aku berjalan gontai menuju
perpustakaan umum di kampus.Tas sekolah yang biasa ku gendong kemana saja
terasa begitu membebani bahu, mungkin karena seharian ini jadwal tak membiarkan
ku beristirahat sedikitpun. Dengan
langkah agak sedikit cepat aku mulai meniti anak tangga satu persatu menuju
lantai dua tempat buku-buku koleksi umum berada.Tanpa melirik ke OPAC aku
langsung saja memasuki ruangan sebelah utara.Langsung ku menuju referensi ilmu
sosial dasar tanpa ragu karena aku pernah memasukinya. Dengan kursi kecil yang
memang di khusus kan untuk mahasiswa yang hendak membaca buku, tangan ku mulai
menyeleksi judul-judul buku yang ku lihat di depan mata.
Sambil membuka lembar demi lembar
buku tersebut aku mulai merapatkan bahuku ke tembok.Dengan harapan kantukku
bisa hilang ketika dalam keadaan rilex. Namun sayang aku tak mendapatka materi
yang berhubungan dengan judulku, mungkin karena aku begitu kelelahan dan
kehilangan konsentrasi.aku pun berubah haluan. Segera ku beranjak dari tempat
dudukku lalu bergegas menuju ruang referensi. Ku tilik satu persatu kitab yang
berbaris rapi dalam almari, hingga tangan ku berhenti di sederet buku biru yang
berjudul MU’JAM MUFAHROS LI_ALFAADZIL AHADIYTS. Hari ini aku berniat mencari referensi
buat materi hadits BKI yang memang menjadi tugas mingguan. Dengan tanpa
kebanyakan mikir, langsung ku cari letak hadits yang bersangkutan ke ruang
referensi umum. Ku lihati satu-persatu sohih muslim dan sohih bukhori yang
berjejer rapi di sepanjang almari yang berisi kitab-kitab hadits.
Lelah ku mencari hadits yang menjadi tujuanku, hingga akhirnya aku
beranikan diri untuk bertanya kepada seorang lelaki yang sedang sibuk mencari
referensi hadits. Ku lihat ia sedang membuka kutubus sittah yang kira-kira
setebal 10cm. aku mendekatinya dan bertanya,”maaf mas, ganggu! Mau nanya,
syarah sohih bukhori itu apa?” aku bertanya dengan penuh kesungguhan. “banyak
mbk, ada fathul baariy,, dan ada lagi tapi saya lupa…” jawabnya tanpa ragu.
Akupun segera menuju lemari yang tadi ku kunjungi, lemari yang berisikan
hadits-hadits. Disana aku mencari-cari namun tak jua kunjung ku dapatkan.
Selang beberapa menit kemudian, seseorang yang tadi aku tanyai ternyata juga
mencari referensi hadits. Lelaki berhidung mancung itu ternyata sedang
mengambil jurusan tafsir hadits.
Mungkin karena dia kasihan melihatku lama mencari dan tak kunjung
ku temukan, ia menanyaiku. “sudah ketemu mbk?” dia menoleh kearah ku. “belum
mas, ini dari tadi saya cari-cari namun tak juga ku temui” aku menjawab dengan
nada sedikit kecewa. “memangnya mbka cari hadits tentang apa?” tanyanya lagi.
“ini mas….” Ucapku seraya menyodorkan secarik kertas yang terdapat daftar
hadits pencarianku. Lalu kemudian dia membantuku mencarikan hadits, dan tak
lama dia menemukannya. Dengan hidung yang memerah, mungkin karena dia flu dia
menyerahkan kitab itu padaku.” Ini mbak,…ini kan?”. Ku lihat di kitab itu tampak
jelas hadits yang kucari. “oh iya mas, ini benar, ini memang yang saya cari, terimaksih ya mas, mas
sudah sangat membantu”. Aku berterimakasih kepadanya dengan wajah berseri. “ya
sudah mbak, saya duluan ya” katanya sambil beranjak untuk pergi. “iya mas,
sekali lagi maksih mas” ucapku mengiringi langkah kepergiannya. Segera ku
tandai dan ku kembalikan mu’jam ke tempat tadi aku mengambilnya. Sementara itu
ku bawa sohih muslim menuju lantai satu untuk di fotokopi agar memudahkan ku
membawanya kemana-mana. Ku rogoh saku jaketku dan mengambil uang untuk membayar
nya. Dengan membawa lembaran hasil fotokopian, aku bergegas mengambil tasku
yang ku letakkan di lemari khusus untuk penyimpanan barang. Lalu dengan perut yang
begitu lapar, aku kembali ke asrama.
Senin, 13 April 2015
Hujan
disore ini seakan mewakili ku. Diriku, dengan berbagai luka yang ku tanggung.
Senin kali ini tuhan mengujiku dengan suatu kejadian dimana aku tak pernah
membayangkannya dalam hidupku. Aku yang dari dulu menjadi kesayangan guru-guru
ku. Hari ini berbeda, aku mengecewakan pak prof dengan suatu perbuatan yang tak
ku sengaja. Ku sodorkan tangan ku mencari-cari hp yang ku taruh didalamnya. Ku
lakukan itu hanya untuk melihat jam, namun malangnya, pak prof melihatku dan
berkata: sofi main hp?” aku hanya mengangguk karena saat itu aku memang sedang
kebetulan memegang hp walaupun sebentar. Setelah pak prof melihat respon ku,
lalu dia menyuruhku keluar ruangan dan tidak diperkenankan mengikuti mata
kuliahnya. Betapa sakit diriku!!! Semalaman aku belajar untuk materi tafsir
ini, ku baca berulangkali dan kuselingi doa diantara jeda nafasku hanya karena
aku ingin bersiap untuk materi tafsir besok. Namun apa yang tuhan kasih padaku
di keesokan harinya? Inikah balasannya untukku? Aku sertakan fotocopy matery
tafsir disetiap aktivitas ku malam itu. Tidak hanya ketika aku makan, bahkan
ketika aku nonton film kesukaanku pun aku menyertakannya. Malam itu aku
menembus kegelapan malam di jalanan wonocolo untuk mencari tempat nge-print
buat tafsir. Tapi apa yang ku dapat esoknya? Aku harus menunggu di depan pintu
kelas.
Ku rogoh al-qur’an dari saku tasku
berharap ia kan mampu mengalihkan lukaku tadi. Lembar demi lembar ku baca dan
ku ingat hingga hatam satu juz. Aku menunggu di depan pintu dan hanya bisa
melihat dan mendengar tawa teman-teman. Aku menangis dalam hati,” tuhan, dulu
aku berharap aku akan mempunyai seorang guru yang memang benar-benar memotivasi
ku, dan kau telah mewujudkannya, namun apa yang ku lakukan padanya? Aku
mengecewakannya! Aku tidak bisa mensyukuri anugerah mu, aku takut ya robb! Dulu
Sebelum melangkah kan kaki ke Surabaya aku berjanji padamu bahwa jika kau
memberikanku kesempatan, aku takkan menyia-nyiakannya, namun apa yang telah ku
lakukan hari ini?” aku terus berkecamuk dalam hati. Mungkin kedua bibir ini
tidak berhenti mangucap kalam ilahi. Namun aku tak bisa membohongi perasaanku
bahwa hati ini sedang dalam dilemma antara kesal, sesal bahkan benci sekalipun.
Aku menunggu dengan berbagai
perasaan kecewa. Dia menyuruhku untuk tidak mengikuti pelajarannya. Dengan tas
hitam yang biasa ku pakai untuk tas kuliah. Aku menyembunyikan tangisku, aku
mencoba mengitip diseberang pintu tetapi aku tak melihat apa-apa. Aku tak dapat
mendengarkan penjelasannya. Sebegitukah dia padaku? . Dari luar pintu aku
mencoba mendengarkan apa yang pak prof. jelaskan, namun sayangnya, aku tak
dapat menjangkaunya. Aku merasa ingin sekali mendengar kata-kata nya yang
begitu menyejukkan hati, menulisnya dalam lembaran-lembaran motivasi,
menggantungnya disetiap arah dalam kamarku. Agar aku mengingat semua
mutiara-mutiara hikmah darinya.
Kisah ku hari ini membuatku tak bisa
menundukkan kepala. Bagaimana mungkin aku menundukkannya? Sedang air mata ini
selalu tertitikan. Kelopak ini tak cukup dalam untuk menampung airmata yang
diakibatkan oleh dukaku malam ini. Jari-jemariku pun seakan beistighfar atas
hari ini dan semua khilaf yang ada didalamnya. Maafkan aku pak prof….. aku tau
aku bersalah, namun jika kau mendengarkan alasan ku. Ku yakin engkau takkan
memintaku untuk menutup pintu dari luar. Ku yakin bahwa kau takkan punya alasan untuk
tidak memaafkanku. Namun biarlah, apapun yang terjadi hari ini, aku tetap
bersyukur pada tuhan karena dengan ini aku dapat mengoret sebuah janji suci.
Dengan ini aku membuat lembaran-lembaran putih ini bersaksi akan tekad ku. Aku
berterimakaih atas hari ini karena telah menghadirkan hujan di penghujung waktu
yang dapat mengahiri tangis ku. Terimakasih atas genangan air yang memenuhi
halaman fakutas ku, karena dengan itu aku bisa menyembunyikan dan menyamarkan
air mata ini hingga ia terlihat seperti halnya tetesan hujan. Tuhan!!! Maafkan
aku! Ayah maafkan aku!ibu maafkan aku! Dan pak prof, maafkanlah aku! Karena aku
tak cukup dewasa untuk menyikapi hal ini.
Setelah pelajaran prof ali, dan
teman-teman sudah mulai keluar satu-persatu, aku bertanya pada salah satu
temanku, “qi, apakah pak prof marah padaku?” aku bertanya dengan nada khawatir.
“enggak kok, pak prof enggak marah, dia hanya melaksanakan komitmen yang
kemaren_kemaren telah kita sepakati bersama” dia mencoba menenangkan ku. “tapi
mengapa dia tidak membiarkan ku mengikuti pelajarannya?” aku bertanya lagi
karena masih belum puas dengan jawabannya.” Enggak, sudahlah jangn sedih!!!
Bukankah hidup masih koma? Seperti kata pak prof” candanya. Aku menyunggingkan
seulas senyum tandanya aku sudah mulai sedikit tenang.
Temanku juga memberitahuku bahwa pak
prof meminta pak Ainul Yaqin untuk memberikan hukuman padaku. Dan mereka juga
bilang bahwa pak Ainul memberiku tugas
yaitu menulis surah Al-waaqi’ah dan Ar-rahman dua kali dan batas terakhir
pengumpulannya ialah hari sabtu ketika kit ada kumpul kajian bersamanaya. Dan
dia juga bilang bahwa dua surah yang harus kutulis itu akan menjadi tiket masuk
ku untuk mengikuti ujian di minggu berikutnya. Aku yang begitu malas untuk
menulis merasa keberatan akan hukuman tersebut, namun karena ini akibat
kesalahanku akupun menulis.
Malam harinya, aku mulai menulis. Ku
ambil al-qur’an juz duapuluh delapan dalam lemari tempat ku menaruh
kitab-kitabku. Langsung saja ku buka kedua surah tersebut yang kedunya memang
bersebelahan. Kuraih pena dan buku tulis biasa dan langsung ku tulis satu
persatu huruf-huruf yang membentuk ayat-ayat dalam surah tersebut.sekitar satu
jam lamanya, aku berhasil menulis hingga ayat terakhir di surah al-waaqi’ah.
Rasa lelah pada tangan kananku pun tak dapat ku pungkiri, namun aku berusaha
untuk tidak mengeluh, demi pak prof, demi pak Ainul Yaqin.
Keesokan harinya sms dari pak Ainul
membuatku sedikit terkejut. “assalamualaikum sofi, saya beri tugas menulis
surah ar-rahman dan al-waaqi’ah dua kali di kertas portofolio lengkap dengan
syakalnya, Ainul Yaqin” isi pesan tersebut membuat aku sedikit bingung. Dia
memintaku untuk menulis di kertas folio bergaris, sedang aku telah menulis di
kertas biasa. Apakah aku harus menulis lagi? apakah rasa lelah ku tadi malam
tiada berarti? Sabarlah!!! Aku akan bercerita. Aku langsung menekan tombol
jawab di hp ku yang berarti aku akan membalas pesan darinya. “aduh pakk! Saya
sudah nulis di kertas biasa, bagaimana pak? Ucapku dengan nada memelas. “ya
sudah kalau begitu tidak apa-apa”. Balasnya singkat. Aku merasa sangat lega
dengan kemurahan hatinya.
Pada hari sabtu, sesaat sebelum
kajian dimulai, aku mengumpulkannya. Hari itu dia membahas tentang sifat-sifat
rosululloh dari sebuah kitab yang ia bawa. Kalau tidak salah judul kitab
tersebut adalah Assyamaa’ilul Muhammadiyyah. Sebuah kitab yang membahas
sifat rasul, membahas bentuk tubuhnya, bentuk wajahnya, dan semua tentangnya.
Hari itu, dengan lidah fasih yang logatnya seperti orang arab asli, ia
menjelaskan apa yang ia baca dari kitab itu dengan menggunakan bahasa arab ala
mesir. Pada saat kajian, dia mewajibkan untuk berbahasa arab “ al-aan nahnu
‘arobiyyun, wa la na’lamu illal-‘arobiyah, faman yuriydu an yuqoddima su’aalan,
fal yas’al billughatil ‘arobiyah.” Ucapnya dengan serius. Aku yang pada saat
itu memiliki sebuah pertanyaan, memaksa lidahku untuk berbahasa arab. Walaupun
dengan bahasa arab ku yang mungkin masih kacau, namun akau berhasil membuatnya
memahami pertanyaanku.
Jum’at, 17 februari 2015
Iyah,,,
memang bulan ini hujan seringkali menyapa. Jum’at inipun hujan datang dan
menyebar rasa dingin dimana_mana. Hingga setiap jemari seakan menggeliat
kedinginan. Kali ini bertempat di aula fakultas dakwah. Aku dan diriku
berkumpul bersama teman-teman disana. Dosen ku pun telah menunggu untuk
melakukan senam solat yang memang menjadi jadwal baru di hari jum’at. Dengan
pakaian kuliah yang ku kenakan, karena memang baru selesai kuliah, aku mencoba
mengikuti arahan dari salah satu teman ku yang menjadi peraga senam.
Satu persatu gerakan senam ku ikuti
hingga gerakan terakhir yaitu gerakan kesepuluh yang biasa disebut baring
pasrah. Setelah senam kurasakan sensasi
senam tersebut, walaupun agak sedikit lelah namun aku menikmatinya. Senam yang
katanya miniatur dari gerakan solat tersebut sudah biasa kita lakukan setiap
hari jum’at. Karena pada hari itu mata kuliah kita cuma satu. Senam yang mempunyai
berbagai hasiat ini kita dapatkan ketika matrikulasi saat kita baru pertama
kali ke Surabaya.
Selalu ada cerita di setiap hari
yang ku lalui di kampus yang bermenara satu ini. Mulai dari pelajaran-pelajaran
yang sering kali membuatku bingung atau bahkan dari teman-teman yang membuatku
jenuh. Seringkali ku bertanya pada diri ini, sering kali aku menebak dan
mengira tentang takdir yang tengah ku titi. Kenapa tuhan menempatkan raga ini
di Surabaya, sedang hatiku masih
tertanam indah di antara tumpukan bebatuan yang membentuk pyramid di kairo.
Mengapa tuhan membuatku bernafas diantara debu_debu polusi di kota ini, sedang
rasaku telah lama menghirup pasir yang terbentang luas di kairo. Aku tidak
dapat mengerti apakah jembatan suramadu adalah jembatan pertama dan terakhir
yang ku titi, ataukah tuhan kan beri ku kesempatan untuk melangkahkan kaki ini
di atas jembatan nil dan Alexandria.
Selalu diriku mencari angin segar
dari berita yang disampaikan oleh orang-orang saleh. Namun itu tak bertahan
lama, karena kebahagiaan dan kesenangan bersumber dari hati sedang hatiku
tengah tersesat diantara kubah-kubah masjid al-azhar yang menjulang tinggi.
Seringkali ketika aku mengingat kairo, aku lupa bahwa di sini, di hatiku, ada
tuhannya kairo yang pastinya lebih indah dari kairo. Lebih ‘alim dari
ulama-ulama kairo. Namun diriku begitu naïf hingga seakan aku menafikannya.
Akupun melupa, bahwa yang menjadi tujuan ku adalah tuhan yang menciptakan kairo
dan bukan semata-mata kairo, hanya saja aku tersesat diantara kerlap-kerlip
lampu yang tersebar di setiap celah gedung-gedung kairo yang menjadi sarang
bagi mahasiswa kairo yang berasal dari seluruh penjuru dunia.
Aku ingin melupakan kairo, aku ingin
hati ini tenang tanpa bayang-bayang kairo. Aku bahkan tak dapat melupakannya
walau sebenarnya aku ingin. Hingga akhirnya aku harus menanggung resikonya. “
kesusksesan itu bagaikan melintas di jembatan yang dibawahnya terdapat jurang,
ketika kau baru saja memulai, semuanya terasa seakan mengalir tanpa rintangan,
namun ketahuilah! Ketika kau terus berjalan, dan semakin ketengah, kan ada
angin dari berbagai penjuru yang akan menerpamu, membuat mu jatuh dan apakah
yang kan engkau lakukan? Berhenti? Dan membiarkan angin membalikkan jembatan dan membuatmu jatuh
tersungkur ke dalam jurang? Jika tidak, maka teruslah berjalan dan selalulah
melihat kedepan dan yakinlah bahwa ketika kau bangkit dan terus melangkah semakin jauh, kau pasti akan sampai pada titik
akhir dari tujuanmu” teringat kata-kata motivasi yang ku dapat dari Miss Imah,
salah satu Musyrifah di GENTA, Kediri. Wanita bermuka imut yang tak lelahnya
setiap subuh menggedor setiap pintu yang tertutup di asrama.
Rabu,
29 April 2015
Malam ini, sms yang ku terima dari
temanku menuntun langkahku menuju basecamp CSSMORA. Organisasi wajib bagi
mahasiswa/i PBSB. Malam ini ada kumpul untuk laporan pertanggung jawaban
pengabdian di Jombang. Pengabdian ini merupakan salah satu program dari devisi
PSDM, salah satu devisi dalam organisasi CSSMORA yang bergerak dibidang
pengabdian untuk masyarakat. Dengan membawa gallon mini di tanganku, ku
bergegas menuju basecamp. Ku terobos gelapnya jalanan yang hanya disinari oleh
remang-remang lampu.
Kampus ku yang bersebelahan dengan
rel kereta api, sudah tak asing lagi dengan gemuruh kereta api ketika melintas.
Bel yang menandakan adanya kereta api yang akan melintas seakan sudah menjadi
musik utama yang menghiasi hari- hari ku di kampus ini. Karena ketika keluar
dari gerbang kampus, sudah tampak jelas rel tempat kereta api melintas seakan
tak ada jeda diantara keduanya . kereta yang kadang lewat mengangkut
pertamina dan kadang pula menjadi
angkot bagi mereka yang hendak bepergian jauh. Aku yang tak pernah merasakan
naik kereta hanya bisa melihat dan mendengar bunyinya.
Teringat cerita kak maqbul tentang
kairo, tentang kereta yang membawanya menuju masjid al-azhar. Aku selalu
membayangkan bahwa suatu saat aku juga bisa merasakannya. Seringkali ku meminta
pada tuhan untuk mempercepat perjalananku hingga aku telah sampai pada kairo.
Namun aku sadar siapa diriku, aku hanyalah butiran debu yang berterbangan
diatas pijakan-pijakan kaki manusia. Aku hanyalah debu, bagaimana mungkin aku
akan menjadi pasir dan berharap untuk bisa tinggal dan hidup di padang pasir.
Tingginya hayalku terkadang membuat diriku lupa bahwa hakikat debu adalah di
tanah. Dan bagaimana bisa aku berharap bahwa aku akan berada di gunung yang
menjulang tinggi.
Diingiring lagu inn aankho mein tum
aku bersandar diatas kursi kayu yang mulai berubah warna menjadi kuning
kecoklatan. Ku pandangi tingginya menara masjid al akbar yang begitu tinggi
seakan menjuntai keatas langit. Kapankah penantian ini berakhir? Dengan apa
tuhan kan mengakhiri penantian ini?. Ku ucap pertanyaan tanpa harus terjawab. Jika
tadi malam hujan membanjiri lapangan voli yang terletak disamping asrama ku,
malam ini aku telah membanjiri sejadah yang terhampar di lantai kamar ku.
Tangisku mungkin takkan ada manusia yang
mendengar, mungkin tak ada yang tahu, tapi mereka harus tau bahwa aku, dengan
semua kecerewatan ku, disini, di hatinya, aku selalu menangis.
Aku,Sofiatul jannah, gadis yang
begitu cerewet, rame, dan periang itu sebenarnya tidak seperti itu. aku punya
hati yang begitu lemah. Hanya saja aku tidak akan pernah memperlihatkan
kelemahan ku kepada orang lain. aku hanya ingin memperlihatkan lemahku didepan
tuhan, saat aku menghadapnya, saat aku memohon kepadanya dengan menengadahkan
kedua tangan ku, saat aku tak bisa menahan tangisku dihadapannya, saat aku mengdu
akan lemahnya diriku menunggu. Karena ku tahu aduanku, keluh ku, tangis ku,
jika ku untai di depan manusia, mereka pun tak bisa berbuat apa, hanya saja
mereka akan melihatku dengan penuh iba yang akan semakin membuatku merasa
lemah. Dan aku tak menginginkan hal itu, aku hanya ingin menunjukkan lemah ku
dihadapannya, dia yang dapat membuatku merasa kuat.
Aku yang memang tidak terlalu suka
untuk curhat kepada orang lain, hanya dapat mengoret setiap air mata yang
tercipta diatas sejadah ku yang bergambarkan ka’bah. Karena disana, aku dapat
dengan leluasa mengurai amarah, pilu, tawa, ataupun luka. Disana aku yakin ada
dia yang maha melihat, dia yang maha mendengar, dia yang maha tau. Aku selalu
berharap agar dia mendekapku ketika aku rapuh lantaran angin malam yang begitu
sejuk menusuk tulang, aku berharap dia melindungiku dari air hujan yang
mengguyur seluruh tubuh ku. Aku tahu dia begitu dekat denganku, aku tau dia
selalu menjagaku, aku tau dia menyayangiku. Hanya saja dosaku yang begitu besar
dan keraguanku akan kasih sayangnya menutup mataku dan menghalangiku untuk melihat seberapa besar dia
mencintaiku.
Sembari memegang sebuah kitab dengan
warna ungu muda bergambarkan masjid, aku menyandingkan kamus al-munawwir yang
keduanya telah kubeli ketika aku ziarah ke makam Sunan Ampel Surabaya. Ku coba
mengartikan isi dari kitab tersebut, dan ketika aku menjumpai suatu lafadz yang
masih samar menurutku, aku segera mencarinya di kamus Al-Munawwir. Kitab maw’idzotun
naasyi’iin yang berisi tentang nasehat-nasehat itu ku buka lembarannya
satu-persatu. Disana, di salah satu bab yang terdapat didalamnya aku temui
berbagai tingkatan kesucian yang termasuk juga di dalamnya kesucian hati
manusia. Disana terdapat empat tingkatan dalam toharoh/suci. Tingkatan
Pertama, sucinya dzohir dari hadas dan najis. Kedua, sucinya anggota tubuh
dari dosa dan perilaku buruk. Ketiga, sucinya hati dari ahlak yang jelek
dan dari kejelekan yang dimurkai. Sedangkan tingkatan yang terakhir ialah,
sucinya relung hati dari sesuatu selain allah. Dan yang terakhir inilah yang
merpakan tingkatan kesucian para nabi dan para siddiqiyn.
Disini disebutkan pula bahwa untuk
mencapai tingkatan yang paling tinggi, kita harus menempuh dari tahap yang
paling rendah, yaitu dimulai dari mensucikan dzohir/raga kita dari hadats dan
najis. Akan tetapi ketika kita membahas tentang kesucian di zaman yang penuh
dengan ke-syubhatan ini begitu sulit. Apalagi di kota-kota ramai seperti di
Surabaya ini. Banyak sesuatu yang haq bercampur dengan yang batil.
Di Surabaya tak ku temukan warung-warung yang cocok dengan seleraku. Bukan dari
segi menu yang mereka sajikan, namun dari segi kehati-hatian mereka dalam
membuat menu. Entah karena aku terlalu sok, atau aku orangnya was-was, namun
yang jelas selama aku di surabya, hanya dua warung makan yang menjadi langgananku. Selain aku lihat
dari penampilan sang penjual yang berpakaian lengkap dan juga dari segi ibadah
mereka aku juga melihat dan meniliti bagaimana kehati-hatian mereka.
Aku terbawa rasa takut untuk memakan
hal-hal yang tidak halal. Aku takut solatku takkan diterima selama empat puluh
hari untuk satu suap. Lantas berapa suap disetip satu piring makananku. Apakah
aku akan menukar makanan dengan nilai ibadahku. Karena ketika aku makan makanan yang tidak baik, walaupun satu
suap pasti makanan tersebut akan menjadi darah yang mengalir diseluruh tubuhku.
Dan bagaimana akau akan rajin beribadah, ketika darah dosa yang mengalir dalam
diriku, dan bagaimana akau akan masuk surge jika aku malas beribadah kepada Allah.
Adakah cara lain untuk masuk surga selain dengan beribadah kepada allah,
dapatkah mereka yang sangat kaya memesan sebuah apartemen di surga?, tidak!!!.
Aku melihat keadaan preman-preman
kampus, preman-preman jalanan, ataupun bocah nakal yang biasa keluaran. Aku
melihat orang tua mereka, mereka hanya disibukkan dengan uang, berjualan tanpa
henti untuk mengumpulkan pundi-pundi emas, mereka lupa solat, mereka lupa kalau
dirinya tidak memakai baju, mereka lupa memakai kerudung mereka. Lantas
benarkah jika mereka berharap untuk mempunyai anak yang baik-baik, sedang
mereka sendiri tidak baik. Bagaimana bisa dia berharap menuai apel jika yang ia
tanam adalah biji asem. Hal semacam itulah yang sesuai dengan potongan ayat al
qur’an hatta yalijal-jamalu fiy sammil-khiyaath
bagaimana mungkin.
Jumat, 01 mei 2015
Pagi ini kepalaku terasa begitu
pusing hingga seakan aku mendengar denyutannya. Rasa pusing itu membawaku untuk
kembali menutup mata diatas ranjang susun yang menjadi tempat tidurku. Dengan
dua bantal yang sudah tampak tua, ku baringkan tubuhku dan menyandarkan kaki ku
diatas guling yang memang menjadi teman setia di setiap malam-malam ku. Dua jam
lamanya aku terbaring lemah hingga langkah kaki Zahra membangunkan ku. Aku yang
masih merasa begitu lemas memaksa untuk bangun karena hari ini memang khusus ku
jadwal untuk mencuci baju.
Hari ini aku mencuci baju yang
menumpuk tak karuan di dalam bak hitam
kecil dibawah ranjang ku. Tanpa berfikir panjang, aku menggopongnya menuju
kamar mandi tempat biasa ku mencuci. Langsung saja ku cuci tanpa jeda. Satu
persatu bajuku mulai basah hingga sekitar setengah jam lamanya.dengan rasa
lelah pastinya, ku bawa cucian yang sudah ku bilas menuju lantai dasar yang
mana tempat biasa aku menjemur. Selesai sudah.
Teringat akan tumpukan-tumpukan
tugas dalam minggu ini, segera ku buka leptop yang tergeletak di ujung kasur
tempat ku berbaring. Ku buka folder yang berisi kisah sedih ku di tahun 2014
dan memulai untuk mengetik kata-demi kata. Ku terjemahkan semua yang ada difikiran
dan di hatiku lewat tombol-tombol keyboard di leptop ku. Tak sampai sepuluh
menit, aku telah kehabisan kata-kata untuk di terjemah. Hingga akhirnya jari
ini menekan tombol control+s yang berfungsi untuk menyimpan apa yang telah
kutulis. Ku buka folder baru yg bertuliskan “my documents” dan disana ku
temukan satu slide formulir. Air mata ini langsung jatuh tak tertahankan, aku
teringat kairo kembali. Dalam slide itu terpampang jelas nama ku. Nama yang ku
tulis ketika aku mencoba-coba daftar online seleksi timur tengah.
Jatuhlah diriku, dalam lamunan
kelabu. Waktu itu aku mencoba registrasi online. Berharap aku akan kuliah di
kairo. Namun karena ijazah aliyah ku belum keluar dan kelulusanpun belum
diumumkan, maka batallah niatku. Dan kini ku hanya bisa memandanginya dan
tersenyum indah karenanya. Aku bahagia walaupun tidak mendapatkannya,
setidaknya karena aku pernah mencintainya. Bukankah cinta tak harus memiliki?
Bukankah tuhan yang lebih tau tentang hidup kita? Bukankah dia sang maha cinta?
Benar, dialah maha cinta.
Mungkin Surabaya memanglah takdirku,
dan PBSB adalah jalanku seperti kalimat yang ku dengar dari salah seorang
temanku kullun muyassarun limaa khuliqo lahu. Memang benar, saat ikut
seleksi PBSB aku merasakan kemudahan yang entah darimana kudapatkan itu, tapi
yang pasti semua kemudahan bersal dari allah. Walaupun saat itu aku
menjalaninya tidak sepenuh hati, namun karena sejalan dengan takdir, maka
semuanya terasa mudah ku dapatkan, hingga akhirnya namaku tertulis diantara 30
orang penerima beasiswa santri di UIN SUNAN AMPEL.
Mendungpun kembali merajut diatas
langit Surabaya , sore ini begitu mendung, langit begitu kelabu, ditambah pula
gemuruh Guntur dan suara solawatan gusdur yang sengaja diputar sebelum waktu
solat di kebanyakan masjid di Surabaya. Sehabis
solat dzuhur, kuraih mushaf yang kutruh diatas lemari kitab-kitabku. Degan niat
menambah hafalanku, ku baca dengan lirih
hawatir temanku akan terbangun mendengar suaraku. Ayat-demi ayat telah selesai
ku baca dan ku letakkan kembali mushaf ku sebagaimana asalnya. Kurasakan hari
ini tubuhku begitu lemah dan sedikit panas. Keadaan itu membuat kepalaku selalu
ingin berbaring. Namun aku tak membiarkannya, karena jika waktu senggang ku
hanya aku habiskan untuk tidur, maka rugilah diriku. Karena waktu yang telah
habis terbuang tidak kan mungkin bisa untuk didaur ulang. Itulah yang
kupelajari dari pengalamanku hidup selama 19 tahun hingga saat ini. Aku banyak belajar dari para
cendikiawan yang kutemui di Surabaya.
Tak terasa aku tertidur pulas setelah
solat dzuhur. Niatnya nungguin waktu ‘asar, namun karena rasa lelah dan
kantukku, akupun tertidur. Panggilan Adzan asar pun tak mendapat sahutan
dariku, aku tetap dalam mimpiku di sore ini. Hingga akhirnya aku merasa tubuhku
terasa lebih ringan.” Ya allah, ada apa dengan diriku hari ini? Aku begitu
lemah, aku tak bergairah,” aku berbisik dalam hati. Ku kalahkan rasa malasku,
dan bangun seraya mengambil batang sabun dan menuju kamar mandi untuk mengambil
air wudu. Cukup lima menit, aku telah kembali ke kamar dan segera mengambil
mukenah yang biasa ku pakai untuk solat. Dengan sejadah ungu bergambarkan
ka’bah, ku tundukkan kepalaku yang masih terasa hangat. Kali ini kurasakan
sujudku begitu nikmat sekali sampai aku merasa tak ingin bangkit dari sujud ku.
Aku tundukkan kepalaku dihadapan dzat yang begitu sempurna.
Ku uraikan segala salah dan khilaf
yang telah ku perbuat. Di hadapannya, ku tampakkan lemah ku dan Ku akui
kesalahanku. Tak dapat sedikitpun aku berkutik dihadapan dia yang maha sempurna,
lidah ini terasa kelu untuk berkata, apalagi untuk berbohong, aku tidaklah
seberani itu. Ku pampang semua noda yang ku buat disetiap detikku, berharap ia
kan sudi untuk memaafkanku, karena ku tahu dia maha pemaaf, Dia maha penyayang,
dia yang begitu mengerti akan diriku, dia yang begitu setia menemaniku, itulah
mengapa aku selalu berharap bahwa aku bisa selalu menjadi hambanya, dan aku
berharap dia sudi memperlihatkan keindahannya padaku ketika dia telah
memanggilku ke hadapannya.
Detik ini aku mengingat sosok ibuku,
ia yang begitu tulus menyayangiku, ia yang begitu gagah menggantikan posisi
ayah yang telah kembali ke Rahmatulloh.aku begitu menyayanginya, aku takut
kehilangannya, aku takut terluka lagi lantaran ayah telah meninggalkan ku, aku
ingin melukis senyum di bibirnya. Aku ingin membuatnya menangis, tapi bukan
tangisa kecewa, bukan pula tangisan kesedihan, melainkan tangisan penuh
kebanggaan, tangisan penuh haru lantaran prestasi ku. Anak yang selalu ia
kasihi, anak yang selama ini ia rawat dengan penuh kasih sayang, anak yang
begitu ingin memeluknya, anak yang begitu merindukannya.
Aku tak mampu membayangkan betapa
sepinya hidupnya setelah ditinggal ayah. Walaupun ia tak pernah menangis di
hadapanku, tapi aku tau ada tangis kerinduan yang ia sebunyikan dimatanya.
Sungguh ketika aku mengingat dan merindunya, ada gemuruh hujan di hatiku, ada
genangan airmata di kelopak mata ku. Aku hanya bisa mendoakan ibu dan ayah dari
kejauhan . aku hanya bisa berharap tuhan kan menjaga mereka. Aku berharap pada
akhirnya tuhan menyatukan mereka di surga, walaupun saat ini mereka berada di
dua alam yang berbeda.
“sudahlah!!! semua rintihan, semua
tangisan dan semua rinduku takkan berarti apa-apa bagi mereka, karena yang
mereka butuhkan saat ini adalah doa yang tulus dan ikhlas dari ku.”. ego ku
coba netralkan perasaan hingar bingar yang terdapat dalam hatiku. Mungkin
dengan belajar yang rajin dan selalu berbuat kebaikan, aku dapat menghapus
peluhnya. Dan mungkin dengan peluh dan semangatku aku dapat membayar airmata
ketulusannya. “oh tuhan,…. Bantulah hamba mu yang lemah ini untuk bisa melukis
senyum di hati mereka, mereka yang begitu ikhlas merawat dan mendidikku, mereka
yang mampu bertahan dari teriknya mentari siang hanya karena ingin menaungiku
dan membuatku tidak merasakan pahit yang mereka rasakan.
“katakanlah (Muhammad)! Aku
berlindung kepada tuhan pemilik waktu subuh.” Surat yang turun ketika
rasululloh terkena sihir oleh salah seorang yahudi ini menjadi doa pagi dalam
dua rakaat subuhku. Angin subuh yang membuat otak terasa sejuk tengah ku hirup.
Pagi ini aku berharap tuhanku memudahkanku dalam segala urusanku, memberiku
sebuah ide yang mengalir hingga aku dapat mendramatisir keadaan yang begitu
menegangkan.
Pria berkacamata itu masuk dengan
membawa setumpuk buku di tangan kanannya, dengan senyum yang terukir dari
bibirnya yang berbentuk huruf mim dia berjalan menuju kursi yang telah
disediakan untuknya. Badannya yang tegap dan gagah membuatnya tidak tampak seperti
lelaki berumur 50-an keatas. Wajahnya yang bersih dan penuh dengan cahaya
tampak selalu tersenyum. Dia yang menjadi idola bagi seluruh mahasiswanya,
selalu mempersiapkan kata-kata motivasi untuk mereka. Termasuk pula untuk kelas
kami. Hampir di setiap pertemuan, dia selalu menebar benih-benih keyakinan
dihati kami yang rentan dengan rasa keraguan.
Ia membuat kami semakin yakin akan
takdir tuhan, ia selalu meyakinkan kami
akan kebesaran tuhan. Semangatnya bagai semangat pemuda ketika mereka melakukan
sumpah pemuda. Keyakinannya bagai keyakinan soekarno untuk kemerdekaan
Indonesia. Dia selalu mengatakan bahwa dia yakin kita semua (mahasiswanya) akan
menjadi orang-orang hebat. Akupun heran, mengapa dia begitu yakin terhadap
kita, sedangkan kami sendiri tidak yakin akan hal itu.
Ia bagai ayah yang selalu
mencurahkan perhatian pada anaknya, ia adalah sosok yang selama ini menjadi
idola saya. ia yang dengan suara merdunya membuat hatiku tertunduk
dihadapannya. Bersamanya, menjadi muridnya, mendengarkan nasehatnya, merupakan
momen indah yang tak ingin ku biarkan untuk berlalu. Aku banyak belajar
darinya, aku banyak melihat dari jejak kakinya. Ia bahkan dengan kesuksesan
yang ia dapat sekarang, tetap begitu rajin belajar, menulis, dan
menginterpretasikan fikiranya. Ia selalu melangkah berataskan namakan tuhan.
Dan itulah yang membuat dia selalu yakin dalam setiap keputusannya.
Di pertemuan terakhir kemaren dia
mengatakan sesuatu yang sangat membuatku senang, “untuk pertemuan terakhir,
bagaimana kalau saya undang temanku yang dari mesir? Kebetulan dia ada di
Indonesia dan akan kembali ke mesir dua bulan lagi”. Aku begitu senang
mendengarnya, aku sangat ingin melihat orang mesir dan mengobrol dengan mereka
sebelum akhirnya aku menetap di mesir (amiinnnn, aminin dong!!!). “ia prof….”
aku berteriak histeris. Kami semua sangat berantusias mendengar ucapan pak
prof.
Fikiranku langsung terbang ke mesir,
aku berharap jika teman pak prof beneran masuk kelas ku, aku harap aku bisa
mengobrol panjang dengannya. Aku bisa mencurahkan perasaanku terhadap kairo.
Aku juga berharap bahwa aku akan mengenalnya dan dia mengenaliku. “oh tuhann…
tolonglah hambamu ini, wujudkanlah apa yang menjadi harapannya, sayangi dia
bukan hanya sebagai ciptaanmu, melainkan sayangi dia layaknya kau menyayangi
anak yatim dan orang faqir, karena ana yatiymul ‘ilmi wal maali wal abi”
butiran-butiran doa yang bersumber dari hati selalu ku panjatkan kepadanya,
tuhanku. Namun keikhlasan doa tersebut hanya tuhan yang tahu. Karena ikhlas tak
bisa didefinisikan dengan lisan, karena ikhlas tak dapat diketahui manusia,
karena yang menjadi alasan keikhlasan itu sendirilah yang tau bagaimana
keikhlasan itu sendiri.
Kembali lagi ke prof, setiap
pertemuan aku selalu menilitinya dan yang ku temukan dari dirinya ialah ia
selalu tau apa yang terjadi pada kita selama seminggu. Apa yang terjadi? Apakah
dia memata-matai kita? Apakah dia seorang dukun? Apakah dia seorang paranormal?
Sehingga dia mengetahui apa yang terjadi walau dia tak menyaksikannya, ataukah
dia sudah menjadi ahli hikmah yang telah Allah bukakan hijab untuknya? Entahlah
aku tak mengerti, aku hanya menerka-nerka dari apa yang selama ini ku lihat
dalam dirinya, karena sampai detik ini aku sudah hamper satu tahun bersamanya.
Dan untuk hal tadi, wallohu a’lam bish-shawab.
Maha suci Allah yang selalu
mempertemukan orang yang mulia hatinya dengan seseorang yang sejenis. Maha suci
Allah yang berfirman “attoyyibuwna li-ttoyyibbati.. al aayah”. Hari ini,
diantara rintihan-rintihan gerimis , ku berjalan menuju masjid ulul albab yang
menjadi tempat untuk kelas tambahan hari ini. Aku, dengan jas cssmora yang ku
kenakan, menerobos percikan-percikan air disepanjang jalan rektorat. Ku cari
sosok Ainul Yaqin distiap bagian masjid. Timur ke barat, selatan ke utara, tak
kunjung aku berjumpa. “ ah… dia belum datang” ucapku lirih. Ku putuskan untuk
menunggunya disebelah kiri masjid.
Selang beberapa menit kemudian,
terdengar deru motor dari arah barat, dan tampaklah wajah seseorang dengan helm
yang mungkin menjadi pengganti kopyah untuknya. Yah,, dia bapak ainul yaqin,
asisten kesayangan pak prof, dia sudah datang. Sebelum mulai membahas materi
kali ini, dia membagikan kertas teman-teman yang minggu kemaren dikumpulkan.
Satu-persatu dia memanggil nama-nama yang sesuai dengan nama yang terpampang di
kertas tersebut. Sebelum membagikannya satu per satu, dia bertanya tentang
contoh dan definisi idlofah, maf’ul bih, ‘amil nawasikh. Entah mungkin karena
tugas yang ia bagikan minggu kemaren membuatnya meragukan kemampuan kami dalam
ilmu nahwu, atau kenapa, entahlah….
Dia, dengan ilmu yang mungkin sudah
memenuhi otaknya, dengan kefasihannya dalam berbahasa arab, mulai menjelaskan
isi lembaran itu secara global. “ orang yang dalam solatnya dia tidak khusyu’,
tidak merasakan adanya nabi Muhammad ketika ia bersolawat dalam tasyahhudnya,
adalah dia yang tidak tau berterimakasih, bagaimana bisa dia lupa bahw sebab
allah menciptakannya adalah karena Muhammad, bagaimana dia lupa akan hal itu”
suaranya yang tegas dan agak lantang, terdengar begitu menggebu-gebu. Wajahnya
yang selalu ceria ketika membahas tentang rasululloh. Itukah cinta? Tanpa kata,
namun menuai ceria?. Kulihat semangat yang begitu menggelora ketika mendengar
ataupun menyebut nama rasululloh.
Wajah seperti itulah yang kulihat
dari raut wajah guruku. Mulai dari wajah pak prof, pak navis (dosen usul fiqh)
hingga wajah bapak ainul yaqin. “oh tuhan…. Berilah aku kesempatan lebih lama
lagi untuk bersama mereka, untuk belajar dengan mereka, untuk meneladani
mereka, untuk mengikuti jejak mereka, berilah aku kesempatan ketiga untuk
saelalu bersama mereka.” Aku terus berucap tanpa henti. Siapapu takkan rela
kehilangan sosok guru, sosok murobbi, sosok idola seperti mereka.
Adakalanya waktu membuat sebuah jurang dalam perjalananku, adakalanya
dia menutup dan merapikan nya kembali. Namun yang menjadi pertanyaannya,
siapkah aku bertemu waktu, siapkah aku menunggunya, sabarkah aku dalam
menunggu. Semua orang mengatakan bahwa semua kan terasa indah pada waktunya.
Namun kini dapat ku katakana bahwa semua
takkan indah pada waktunya. Karena bisa saja apa yang dahulu menjadi kebanggaan, apa yang dahulu
terlihat begitu berkilau, apa yang dulu terlihat indah, seiring bergantinya
ronde waktu semua kan terasa biasa saja, dan sudah tak indah lagi. itulah yang
kusimpulkan dari kenyataan yang terjadi, itulah ringkasan dari pelangi.
Pelangi terlihat indah hanya
ketika rintik-rintik hujan terus bersamanya. Dan ketika ia sudah sendiri, semua
tampak biasa saja, tak ada yang istimewa. Beginilah caraku meng-konseling
diriku sendiri, dengan mencari referensi dari kehidupan oranglain dan
menjadikan nya foot note yang dapat menghentikan langkahku ketika aku terlalu
dalam melangkah. Walaupun berbagai proposal telah ku kirim pada tuhan, dengan
berbagai judul yang bagiku begitu menarik. Namun yang didalamnya terdapat usaha
dan kesungguhan hatilah yang ia terima tanpa adanya revisi. Sabarlah wahai
diriku!!! Bukankah nabi ayub yang mendapat cobaan berat mampu bersabar? Apakah
cobaanmu lebih berat darinya?hingga kau
tak mampu bersabar?.
Aisyah, wanita yang dinikahi rasululloh sebelum ia mukallaf. Wanita
yang mendapat julukan humiroh dari suaminya, rasululloh. Wanita yang mendapat
julukan ummul mu’miniyn itu. Fitnah yang terjadi ketika ia tertinggal dari
rombongan ketika hendak kembali ke madinah. Ia sendirian di tempat yang
sebelumnya ditempati untuk tenda rasululloh. Untungnya, Shafwan bin Al-Muathal As-Sulamy menemukannya dan membawanya kembali
ke madinah. Shafwan yang memang bertugas sebagai pengawal akhir rombongan. Namun
malangnya ketika mereka sampai di madinah, terdapat isu dan fitnah yang kejam
dan membuat aisyah merasa sakit.
Setelah kejadian fitnah itupun sifat rasululloh agak berubah, kelembutan
Rasulullah terhadapnya mulai menipis dan tak seperti biasanya di
saat dia melawan
demam dan sakitnya. Biasanya Rasulullah begitu memanjakannya
kala ia sakit. Namun beliau sedikit berubah, Beliau hanya menyapanya dengan
bertanya tentang keadaannya, lalu kemudian berlalu begitu saja.
Mengapa rasululloh berubah? Apakah rasululloh marah? Ataukah beliau
cemburu? Rasululloh yang terkenal begitu menyayangi aisyah, apakah dia
meragukan aisyah? Rasa cinta rasululloh terhadap aisyah terlihat jelas
sebagaimana yang ibnu katsir ceritakan dalam tafsirnya tentang lafadz ghaasiq
dalam surah al-falaq yang mana diwaktu malam, rasulullah memegang tangan
aisyah dan menunjukkan bulan padanya seraya berkata, “itulah ghaasiq”. Begitu
hlus dia memperlakukannya, Tidakkah itu cinta,? Memperlakukannya dengan begitu
lembut.
Fitnah yang telah tersebar diantara penduduk madinah, membuat
aisyah sakit selama satu bulan. Gambaran seperti itulah mungkin yang sesuai
dengan firman allah “wal fitnatu asyaddu minal qatl”. Bagaimana tidak,
jika kau berniat membunuh seseorang dan langsung menikamnya, mungkin sakitnya
hanya ketika terkena tusukan ujung belati. Namun ketika kau memfitnah
seseorang, kau akan membunuh hatinya terlebih dahulu, mematahkan hidupnya, lalu
lama-kelamaan dia akan mati bersama kerapuhan hatinya. Bukankah itu lebih kejam
dari pada membunuhnya secara langsung?.
Rasulullah yang cukup
gusar akan suara-suara negative tentang istri dan rumah tangganya, ia meminta pendapat kepada
Ali bin Abi Thalib dan Usamah bin Zaid. Zaid
berpendapat, “Pertahankanlah keluarga Anda, Kami hanya tahu satu kata dari keluarga Anda, yaitu kebaikan.”
“Wahai Rasulullah, Allah tidak mungkin
menjadikanmu bersedih dalam perkara ini. Sesungguhnya
wanita masih banyak. Tanyalah kepada seorang wanita yang dekat dengan Aisyah supaya bisa meyakinkan Anda,” begitulah jawaban Ali. Rasulullah kemudian bertanya kepada Barirah tentang
aisyah, apakah ada sesuatu yang meragukan darinya. Barirah memantapkan hati Rasulullah dengan
menegaskan bahwa tak ada sesuatu yang meragukan pada diri aisyah. “dia hanyalah seorang wanita yang masih muda
yang pernah tidur bersama adonan makanan, lalu memakan adonan itu”. Demikian Barirah menceritakan tentang aisyah
di hadapan Rasulullah.
Airmata yang keluar dari mata aisyah dan juga
kesabarnnya dalam menunggu keadilan tuhan, membuat tuhan mewahyukan kalamnya
kepada nabi Muhammad. Barulah nabi Muhammad bertambah yakin akan kesetiaan dan kesucian
aisyah. Aisyah begitu bersyukur karena pada akhirnya dzoharol-haqqu wa
zahaqol-baatilu innal-baathila kaana zahuwqo. Sekilas, itulah yang ku pahami hari ini.
Sebuah kisah cinta yang berpondasikan agama. Adakah yang bisa menghancurkannya?
Sedangkan agama, allah sendiri yang akan menjaganya. Sebuah kisah cinta yang
berdasarkan wahyu, sebuah cinta yang tak beralaskan apapun selain allah. Adakah
yang dapat meruntuhkannya.
Sekitar dua jam kita kajian, hingga jam menunujukkan jam 10. 00
WIB. Pertemuan kali ini di akhiri dengan penuh ketegangan. “ teman-teman, saya
tidak berharap apa-apa dari antum semua, yang saya harapkan hanyalah doa dari
antum semua. . .” ucap nya dengan nada sedikit pelan, sebelum beliau
menyelesaikan perkataannya ada salah seorang dari kami nyeletuk. “ciye… udah
nentuin tanggal pak?” katanya, celetukan itu mendapat sambutan yang meriah dari
yang lainnya sehingga semua bertepuk tangan. Melihat kegaduan kami, pak ainul
menyuruh kami jangan ramai karena posisi kami sedang berada di masjid. Lalu
kemudian beliau melanjutkan kata-katanya. “ doakan saya semoga saya dimudahkan
dalam segala urusan, masalah saya diberi jalan keluar, karena saya yakin doa
dari antum di istijabah oleh allah, karena antum adalah musafiruun fil-‘ilmi,
jauh dari orang tua, berjuang di jalan allah. Seperti halnya yang biasa
dilakukan oleh mahasiswa mesir, mereka selalu meminta doa kepada seorang
musafir”. Dia berucap panjang lebar. Dan di akhiri dengan kata amin serentak
dari kami.
Sembari meng-amini doanya, aku bertanya dalam hati. “ jika sekarang
aku seorang musafir, lantas adakah tuhan kan menerima doaku sebagaimana yang di
katakan oleh bapak ainul yaqin, adakah dia kan meng-kuliahkan ku di al-azhar
setelah ini, akankah dia memberikanku kesempatan untuk belajar agama lebih
dalam di mesir,” aku menghujat. Setiap kali aku mendengar nama mesir yang ia
sebutkan, ku sempatkan diri untuk memohon kepada tuhan. “ yaa robbi ballighnaa
nazuwru..” sebuah doa yang ku dapat dari salah seorang guruku.
Aku berharap dari sekian kata amiyn yang ku ucap ketika guruku
mendoakan agar bisa ke kairo, ada satu saat dimana lafadz amiyn tersebut begitu
berarti. Dan mampu menembus tujuh lapis bumi. Aku berharap ada satu dari sekian
banyak amal ku. Membuatku layak untuk kuliah di kairo. Mengapa begitu? Karena aku
terlalu dalam mencintainya, karena sungguh, aku mencintainya. Jika ku ibaratkan
dalam ilmu nahwu, bukan hanya terdapat lafadz inna dalam cinta ini,
namun juga terdapat laamut-tawkiyd yang berarti bahwa cinta ini penuh
kesungguhan dan bukanlah sebuah kebohongan.
Huuuff….. aku memang selalu kehabisan kata-kata ketika membahas
tentang kairo. Namun sama seperti dulu, kairo masih saja menjadi topic
terfaforit yang ingin selalu ku baca. Kairo yang kukenal ketika masih di
tsanawiyah. Saat itu di pelajaran sejarah kebudayaan islam, ku lihat sebuah
gambar masjid yang penuh dengan menara. Warnanya yang kuning kecoklatan begitu
menarik perhatianku dank u lihat namanya, ternyata masjid al-azhar di kairo.
Kisahpun berlanjut, ketika belajar tentang tokoh pembaharu islam, hampir
semuanya alumni al-azhar. Jelaslah sudah kapan rasa cinta untuk al azhar ini
tumbuh. Rasa ketertarikanku akan ilmu agama dan isu tentang keilmuan azhar,
itulah yang menjadi pengikat kuat dihatiku. Hingga akhirnya akupun harus
menangis ddi akhir kelas tiga aliyah. Aku tidak dapat melanjutkan kuliah ku
disana. Waktu itu aku berharap kepada tuhan agar tidakmembuatnya begitu
menyakitkan ketika aku memang belum ditakirkan kesana. Dan tuhanpun menjawab
doaku, ia member alasan yang begitu sempurna yaitu kelulusanku belum diumumkan
dan aku belum bisa mengikuti seleksi kesana. Bukankah itu alasan yang cukup
sempurna untuk tetap membiarkanku tinggal disini, untuk mengatakan bahwa kairo
tidaklah pantas buat ku.
Momen yang begitu indah, adalah ketika kita melihat sayup-sayup
hujan yang tampak begitu ganas. Masih di jendela yang sama, di dalam kamarku.
Aku melihat menara al-akbar yang tampak samar lantaran hujan berjatuhan dengan
begitu kencang. Lampu-lampu di setiap rumah di sekitar asrama pun sudah mulai
tampak terang. Atap fakultas syari’ah tampak berkilauan lantaran rintik hujan
yang dipadukan dengan semburat kilat di penghujung siang ini. Dingin yang
begitu dalam kurasakan memaksaku untuk duduk dan melipat kedua tanganku. Aku
jadi teringat cerita bapak ainul yaqin. Ia berkata bahwa cuaca di mesir begitu
dingin dan bagi mereka yang punya khuf mereka biasa memakainya di waktu
tersebut.
Kembali ku teringat ucapan kak maqbul ketika ku Tanya kapan ia kan
berangkat.“ mungkin nanti bulan agustus, kenapa? Mau ikut ta? Tapi harus nikah
dulu sama kakak, hehe.. Ntar aku ajak ke sungai nil” ia berkata lirih dengan senyum
di pipinya. Astaghfirulloh… aku terbangun dari lamunanku. Ana uriyd, huwa la
yuriyd, wa lakin ‘asallohu yuriyd. Aku terlalu banyak menghayal, dan ku tahu
itu tidak baik untuk hafalan ku. Tidak baik bagi hubungan ku dengan al-qur’an.
Karena yang ku dengar, al-qur’an adalah sangat pencemburu. Dan bagaimana jika
ia enggan tinggal bersamaku. Huhu jangan begitulah,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,..
Tentang mesir, aku hanya dapat melihat dari foto-foto yang di
upload oleh mahasiswa yang sedang menempuh disana. Dengan berbagai pose yang
mereka upload dan berlatarkan pyramid, mereka seakan menertawaiku. Aku yang
hanya bisa melihatnya dari kejauhan, hanya bisa mengelus dada seraya berucap.
“astaghfirulloh, ampunilah aku ya allah, karena aku begitu berambisi untuk bisa
kuliah disana”. Bagaikan laut yang penuh dengan gelombang, rasa percayaku juga
begitu. Kadang keinginanku itu menjadi redup ketika salah seorang teman lamaku mengatakan,
“kalau s2 disana sulit, apalagi bagi yang S1-nya tidak disana”. Berubahlah raut
wajahku.
Namun apa yang dikatakannya sangat berbeda dengan apa yang
dikatakan dosen intensif bahasa arab ku, dia berkata” pelajarilah bahasa arab
dan bahasa inggris, karena dengan begitu kalian bisa kuliah diluar negeri, baik
di mesir, sudan ataupun yang lainnya, jangan pernah putus harapan, karena
harapanlah yang menggerakkan hati, dan hatilah yang menggerakkan kaki, dan
ketika kaki telah bergerak, entah itu cepat atau lambat pada akhirnya ia akan
sampai pada tujuan, bersabarlah, karena dengan kesabaran, seseorang akan
mendapat semua yang ingin ia dapat,
karena dengan kesabaran, seseorang bisa mencapai derajat yang tinggi.
Dinginlah perasaan ku. Dosen-dosen ku disini kebanyakan alumni luar
negri, baik itu dari kairo, Saudi Arabia, sudan, atau bahkan wakil dekan yang
alumni Australia. Dan kebanyakan dari mereka tidak membayar biaya kuliah
sendiri, melainkan mereka mendapat beasiswa. Baik dari kementrian agama ataupun
dari luar negri itu sendiri. Akupun ingin menjadi salah satu dari mereka.
Sedang pak prof, guruku yang satu ini mendapat gelar guru besar karena penemuan
dan karyanya terapi solat bahagia . walaupun dia bukan alumni luar
negri, akan tetapi dia sudah pernah berkunjung keberbagai negri di belahan
dunia seperti: London, Taiwan, cina, hongkong, dll. Pada bulan Ramadan,
merupakan kebiasaannya pergi keluar negri untuk menjadi khotib ataupun imam di
masjid-masjid di luar negri. Kepandaiannya dalam berbahasa inggris membuatnya
menjadi guru internasional. Takwanya kepada tuhan, membuat ia memperoleh
derajat tinggi disisi tuhannya. Hal itu dapat dilihat dari tingginya derajat
pak prof di hati mahasiswanya. Mengenal pak prof adalah suatu anugerah terindah
yang tuhan berikan dalam hidupku. Aku berharap tuhan memberiku kesempatan
ketiga, keempat, dan seterusnya. Hingga pada semester selanjutnya aku masih
selalu bersamanya.
“Tuhan, kabulkanlah harapan ku, tetapkanlah pak prof dalam kelas ku
selama aku masih berada di dalam kelas kampus ini, karena aku masih ingin
bersamanya, tolong jangan ambil dia dari kelas ku tuhan, aku takut cahaya
dihati ini padam ketika aku terlalu lama jauh dari seseorang se-soleh dia”
ucapku penuh harap. Bagaimana mungkin kita sebagai mahasiswa nya bisa jauh
darinya. Ia yang begitu perhatian terhadap mahasisiwa nya, memang layak
mendapat tempat khusus di hati kami, ia memang layak mendapat gelar guru besar.
Namun bagi ku masih belum cukup, ia bukan hanya guru besar, akan tetapi dia
adalah guru pembesar, pembesar hati kami yang hari-demi hari kian ciut dan
mengecil.
Banyak yang dapat ku lihat dari sosok dirinya. Wibawanya,
kearifannya, dan juga kepeduliannya terhadap kami. Ketika dia menghadiri sebuah
acara di Jakarta, dan kelasnya diganti oleh asdosnya, ia sempatkan diri untuk
nelfon asdos tersebut dan menanyakan tentang kami. Kami segera berkumpul
mendengarkan suara pak prof dari dalam telfon. Diantara padatnya jadwal, ia
masih sempat menelfon dan memberi semangat pada kami. Subhanalloh, pernahkah
kalian mempunyai guru seperti itu? Atau adakah guru seperti itu dimasa kini?
Aku selalu berharap, bahwa suatu saat aku akan sukses dan bisa mengikuti
langkahnya. Ia yang tak hanya pandai berkata-kata. Ia yang tak hanya menyuruh
orang lain, namun dia yang juga menyuruh dirinya sendiri.
Aku percaya bahwa masih ada warisan para nabi yang tersisa hingga
saat ini. Warisan itu adalah para ulama’ yang memang menjalankan syari’at
dengan sebenar-benarnya. Sebagamana yang dikatakan rasululloh al-ulama’
warotsatul anbiyaa’ . karena lewat merekalah, kita bisa mengenal siapa nabi
Muhammad, bagaimana perjalanannya, dan bagaimana ahlaknya. Dan tentang ahlak
rasululloh sebagaimana yang diriwayatkan oleh aisyah ra. Ketika ditanya tentang
ahlak rasululloh yaitu bahwa al-qur’an adalah ahlak rasululloh. Yang mana hal
itu berarti bahwa semua yang rasululloh amalkan berasal atau bersumber dari
al-qur’an yang diturunkan kepadanya.
Terkadang aku berhayal, andai aku hidup di masa rasululloh. Andai
aku bisa melihat wajah rasululloh. Namun saat aku berhayal seperti itu, aku
seakan ditentang oleh suatu bisikan “ engkau berhayal untuk hidup di masa
rasululloh, lalu bagaimana jika iya, akan
tetapi misalkan pada saat itu engkau berperan sebagai seseorang yang ingkar
terhadapnya, bersyukurlah karena walaupun kau tidak hidup di masanya namun kau
beriman kepadanya, kurang apa dirimu? ” memang benar apa yang dikatakan oleh
bisikan tersebut. Untuk apa aku hidup di masa rasululloh, melihat wajahnya,
jika aku tidak beriman kepadanya. Apakah aku akan mendapat gelar sahabat rasul?
Dan akan hidup dengannya di surga? Tidak! Karena sahabat adalah mereka yang
pernah bertemu rasululloh dan beriman kepadanya.
Aku jadi teringat cerita pak ainul yaqin tentang rasululloh yang
mana dia pernah bersabda “ikhwaaniy, ikhwaniy, ayna ikhwaniy?” hal itu juga
kutemukan dikitab al-mawaa’idzul ‘ushfuwriyah , kitab yang juga menjadi
motifasi untukku. Disana disebutkan bahwa iman yang paling menakjubkan adalah
imannya ikkhwanu rosulillah, siapakah mereka? Disebutkan pula bahwa ikhwan
adalah mereka yang hidup setelah rasululloh dan tidak melihat rasululloh, namun
mereka beriman kepadanya dan membenarkan kerasulannya dan semua yang dibawa
oleh rasululloh. Masyaallah, begitu adilnya agama ini. Terkadang aku
berfikir. ” enak ya, hidup bersama rasululloh, bisa langsung bertanya tentang
nasib yang akan diperoleh di akhirat, apakah surga ataukah neraka?” namun
akupun bersyukur karena mengetahui apa yang rasululloh katakana tentang umatnya
yang hidup dimasa kini. Alhamdulillah.
“terdapat dua kenikmatan yang lebih nikmat dari nikmatnya sehat
yaitu nikmatnya iman dan islam dan juga nikmatnya menjadi umat nabi Muhammad”
itulah yang selalu ku dengar dari pak ainul yaqin. Aku jadi teringat kisah
rasululloh ketika dia sakit dan mendekati ajalnya. Bukan keluarganya yang ia
cari, bukan anaknya yang ia khawatirkan, tapi apa? “ ummatiy…ummatiy…ummatiy…”
ia menghawatirkan dan memikirkan umatnya bahkan ketika ia hendak merasakan
sakitnya naza’ . dia memohon kepada allah agar allah melimpahkan kepadanya
semua rasa sakit yang akan diderita umatnya ketika dalam sakarotul maut. Allohumma
solli ‘ala Muhammad.
Ya allah orang sebaik itukah, orang semulia itukah yang ingin
dibunuh oleh orang kafir, betapa kejamnya mereka. Kini aku mengerti, kenapa
semua sahabatnya rela mempertaruhkan nyawanya untuk rasululloh, menemaninya di
hari-hari rasululloh. Karena dia memang pantas mendapatkannya, dia memang layak
untuk itu. Dia yang menjadi alasan diciptakannya alam semesta ini sebagaimana
yang disebutkan dalam hadits qudsi lawlaaka..lawlaaka yaa Muhammad, lamaa
kholaqtul-aflaaq.
Ketika mendengar kisah tentang rasululloh, seakan semua hati kan
terpana. Jika nabi yusuf membuat semua orang terpana dengan ketampanan
wajahnya, nabi daud dapat menghentikan air yang mengalir dengan kemerduan
suaranya, nabi sulaiman dengan kekayaan dan kewibawaanya, maka rasululloh hanya
dengan keagungan namanya, dia mampu memesona dan menarik semua hati, yaitu hati
mereka yang memang bersih, hati yang memang mengharap keridloan allah. Pagi
ini, biarkanlah aku bersajak sebuah syair yang ditulis oleh imam al-busiri.
Sebuah syair yang berisi tentang
rasululloh dan semua keindahannya,
Mawlaaya
solli wa sallim daaiman abadaa # ‘ala habiybika khoyril kholqi kullihimi
Amin
tadzakuri jiyronin bidziy salami # mazajta dam’an jaroo min muqlatin bi damii
Pagi ini aku begitu bergelora,
mengingatnya membawa keindahan tersendiri. Kitab berwarna kuning yang berjudul Muhammad berisi
tentang ciri-ciri dan sifat-sifat rasululloh. Kitab yang ku pinjam dari om ku
itu menjadi referensi tentang rasululloh. Tapi sayangnya, aku lupa membawanya
bersamaku ke Surabaya ini. Karena andai aku memahami secara detail apa yang
dicirikan tentang rasululloh oleh kitab itu, sedikit mungkin aku tergambar
tentang rasululloh. Di Surabaya ini, aku bersyukur kepada allah yang telah
mempertemukan dengan orang yang begitu sangat mencintai nabi Muhammad,
menampakkan senyum yang lebar ketika mendengar nama rasululloh, hingga lisannya
tiada henti bersolawat atas dirinya.
Bersolawat kepada rasululloh
bagaikan sebuah cangkir yang dibawahnya terdapat piring kecil. Jika diIbaratkan
rasululloh adalah cangkir tersebut, dan kita adalah piring yang berada
dibawahnya, sedangkan solawat yang kita persembahkan baginya adalah teh yang
mengisi gelas tersebut. Kemenakah larinya teh tersebut ketika sudah penuh?
Bukankah ke tempat yang paling dekat dengan gelas tersebut?. Itu artinya
walaupun kita bersolawat kepada rasululloh, namun manfaatnya tetap sampai pada
kita. Karena tanpa solawat dari kita, rasululloh sudah jelas masuk surga.
Lantas untuk apakah solawat dan salam kita kepada rasululloh?. Rasul menyebutkan
bahwa orang yang paling bakhiyl ialah orang yang jika mendengar nama rasululloh
disebut, ia tidak bersalawat kepadanya. Maukah kita mendapat gelar abkholun-naasi?.
Pastinya tidak kan??? Maka mari kita biasakan diri dengan solawat. Lagipula
karena rasul bersabda. ” man solla ‘alayya waahidatan, sollallohu ‘alayhi
‘asyron”.
Pagi ini, ditemani dengan suara
dzikir yang menggelegar dari suatu masjid di belakang asrama. Aku melihat
tingginya langit dan kekokohannya. Begitu kuasanya tuhan yang telah membuatnya
dengan dekorasi yang begitu indah. Terdengar deringan yang berasal dari telfon
ku. Ku lihat ternyata ada yang menelfonku. Nomer yang tampak seperti nomer
Malaysia adalah nomer ibuku. Hari ini dia menelfon ku. “halo, assalamu’alaikum
nak” terdengar suaranya yang sangat ku rindu. “iya ibu, waalaikum salam” aku
menjawab salamnya. “bagaimana kabar mu nak? Sedang apa disana sekarang?”. Dia
bertanya keadaanku. Mungkin karena sudah beberapa hari ini dia jarang menelfon
ku. Akupun memahaminya karena tarif nelfon dari Malaysia ke Indonesia sangat
mahal. “Alhamdulillah baik bu, ini sedang ngetik. Ada tugas yang harus ku
selesaikan besok, ibu lagi apa? Enggak kerja” aku balik bertanya. Ia yang hanya
bekerja sebagai kuli bangunan, namun aku begitu sangat menyayanginya.
Sayangilah dia ya tuhan, jagalah dia, sehatkanlah selalu dirinya.
“enggak, ibu enggak kerja, karena om
mu lagi sakit, jadi ibu enggak kerja”. Jawabnya lirih. ” sakit? Sakit apa bu?”
tanyaku dengan penuh rasa ke hawatiran. “ini, kayak ada benjolan gitu di
pipinya, sudah tiga hari.. oh ya kamu udah tau enggak kalau mbak mu mau di operasi?” katanya. “di
operasi? Kapan bu?” aku bertanya lagi. “masih belum tau, masih nunggu hasil cek
besok”. Jawabnya. Panjang lebar aku mengobrol dengannya hingga membicarakan masalah
liburan semester ku yang akan mendatang. “aku pengen cari pondok yang
dikhususkan ubtuk ngaji kitab atau tahfidz qur’an bu, mumpung Ramadan dan
liburannya agak lama” curhatku padanya. “ nanti kalau misalkan biaya operas
mbak mu tidak begitu mahal, ibu usahain
biayain kamu nak” katanya merespon ku. “iya bu, ya walaupun gak jadi mondok
romadon, aku tetap akan mengaji kitab kuning pada aba salim bu. Karena alfiyah
yang ku pelajari darinya belum hatam. Tapi jika ada kesempatan, saya pengen
belajar kitab yang belum pernah saya pelajari agar pengetahuanku lebih luas”.
“iya nak, insyaalah. Doain saja
ibumu ini, agar mendapat rizqi yang banyak sehingga dapat membiayai mu, selama
kamu masih di jalan allah jangan pernah berputus asa” ucapnya menasehati ku. “iya
bu, insyaalah. Aku mohon doa ibu”. “ yaudah dulu nak, jaga dirimu baik-baik,
jaga kesehatan, jangan terlalu banyak mikir agar kamu gak sampai sakit,
assalamu’alaikum” ucapnya mengkhiri percakapan pagi ini. “iya bu, waalaikumussalam” jawabku dank u matikan
telfonnya.
Begitulah hebatnya seorang ibu.
Walaupun ia sedang menangis tersedu-sedu namun ketika anaknya hendak mengetahui
tangisnya, ia dengan sepontan mengubah tangisannya menjadi tawa. Lalu
bagaimanakah dengan seorang anak? Mampukah dia berbuat demikian? Maukah dia
berkorban untuk ibunya? Maukah dia mengusap air matanya?. Disebutkan, bahwa
seorang anak tidaklah akan mampu membalas jasa kedua oang tuanya, hanya saja
ketika ia istiqomah membaca doa robbi ighfirliy dzunuwbi wa liwalidayya
warham huma kama robbaya niy soghiyroo untuk
kedua orang tuanya di setiap selesai solat lima waktu pahalanya akan menyamai
jasa mereka dan bukan berarti kita sudah membalas jasanya. Oleh karena itu,
sayangilah kedua orang tua, sebelum terlambat! Sebelum kalian tahu bagaimana
sakitnya ditinggalkan oleh mereka, sebelum kalian kehilangan kasih sayang yang
tulus dari mereka. Karena kau takkan pernah tau betapa berartinya mereka dalam
hidup ini, sampai kau merasakan betapa hampanya hidup ini tampa mereka, begitu
keras dan kejamnya hidup ini. Dan kau kan melalui dan menghadapinya tanpa
mereka yang begitu dalam mencintai, begitu tulus mengasihi. Jangan lupakan
hadits rasul yang berbunyi birru aabaa’akum tabirrukum abnaa’ukum.
Jari-jemari ini telah lelah
berolahraga diatas tombol-tombol keyboard. Fikiranku pun telah kaku terbawa
oleh dinginnya pagi ini. Aku kehabisan
pembendaharaan kata. Hingga aku harus
termenung terbawa keadaan. Terkadang aku merasa lelah menunggu. Menunggu saat
aku akan terbang ke luar negri untuk mencari ilmu. Namun setelah aku kembali
padaa kenyataan, akupun merasa takut, akupun masih ragu akan kesanggupanku.
Detik ini, kumpulan tugas yang memenuhi mejaku, membuat pening kepalaku. Hingga
akupun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Terdengar suara palu membentur paku,
bak bunyi pedang yang diadu dalam sebuah peperangan. Suara yang berasal dari
sudut timur asrama itu membangunkan lamunanku. Ia menyadarkanku bahwa aku harus
melihat apa yang ku dengar. Aku mulai mengintip dari jendela dan kulihat para
kuli bangunan sedang menukar peluh mereka dengan uang. Mereka mengingatkanku
pada pekerjaan ibuku, mungkin hal semacam itulah yang menjadi pekerjaan itbuku.
Airmata ini meleleh tak tertahankan, mengingat wajah ibuku yang mungkin di
setiap harinya ia berada di sekian banyak lantai untuk bekerja. Hanya tuhan
yang mampu menjaganya, oh tuhan, jagalah ia. Karena dia begitu berharga dalam
hidupku.
“berterima kasihlah kepada tuhan,
karena ia memberimu ibu yang hebat, dan berterimakasihlah kepada ibumu atas apa
yang ia berikan untukmu, semua kebutuhanmu yang ia tanggung sebenarnya bukanlah
kewajibannya, hanya saja kasih sayangnya yang membuat ia melakukannya, karena
engkau sudah mukallaf” kata-kata itulah yang ku ingat dari Aba Salim, om ku
sekaligus guruku. Terkadang aku merasa tidak nyaman untuk meminta sesuatu
kepada ibuku, karena aku tau dia bukanlah orang yang bergelimang harta. Hanya
saja kerapuhan diriku membuat ku belum mampu untuk memenuhi kebutuhan diriku
sendiri apalagi untuk membantu orang tuaku.
Rajin belajar, itulah yang selalu
ibu ucapkan padaku. Dan aku harap tuhan membantuku untuk menjalankan pesannya.
Karena ku tahu tuhanlah yang dapat melakukan semua itu. Memang, hidup itu
kadang tak sejalan dengan apa yang kita harapkan, namun apakah karena hakikat
hidup seperti itu, apakah kau akan memilih untuk mati? Hidup dan mati bukanlah
pilihan, yang terpenting adalah kita mampu melakukan yang terbaik selama hidup
ini. Menangis dan meratap ialah hakikat doa kita kepada tuhan, karena terkadang
tuhan hendak melihat ratapan dan tangisan mereka didepannya.
“Semua orang berhak memilih dan
menentukan jalan hidupnya. Dan pilihan awal adalah sebagai penentu hasil akhir.
Jangan pernah salah memilih, karena setiap pilihan ada resiko dan
pertanggung jawabannya. Lihatlah, selagi
engkau bisa melihat. Dengarkanlah selagi engkau mendengar, dan menangislah
selagi tuhan memberikanmu kesempatan untuk menangis. Jangan pernah ragukan keputusan
tuhan. Karena dia adalah tuhanmu, dia yang merawatmu, dia yang mengatur
hidupmu”. Sore ini aku bertingkah layaknya lukmanul hakim. Namun begitulah
caraku mendorong diriku. Caraku memberitahu nafsuku. Dan tentang harapanku, aku
masih saja menunggu keputusan tuhan, karena al-insaan bit-tafkiir wallohu
bit-tadbiir. Mungkin kata itulah
yang dapat mewakili semua renaungan ku tentang masa depanku. Tentang masa depan
yang akan ku tempuh. Semoga saja selalu ada kesempatan untukku menjadi wanita
yang berbakti kepada orang tua dan untuk menjadi seorang professor wanita.
Namun keinginan terbesarku untuk saat ini adalah agar aku hafal al-qur’an
sehingga aku apat member syafa’at terhadap Sembilan anggota keluargaku
sebagaimana yang selalu om ku katakana.
Tafsir
Bki adalah mata kuliah yang dipegang pak prof untuk semester ini. Mata kuliah
yang berisi tentang acuan dan dasar-dasar bki yang bersumber dari ayat
al-qur’an. Metode diskusi untuk kali ini berbeda dengan metode pada semester
satu. Jika pada semester awal mekanismenya dengan cara membuat makalah lalu
mempresentasikannya didepan kelas, kali ini dia hanya meminta kita untuk
mengambil dari satu referensi tafsir. Kali ini dia hanya menyuruh kami untuk
menulis munasabah dan tafsir dari ayat yang menjadi landasan bki tersebut lalu
kemudian memberikannya kesimpulan.
Ia membagi kami yang berjumlah
tigapuluh orang kedalam tiga kelompok. Setiap kelompok diminta untuk memilih
salah satu dari ketiga tafsir yang ia ajukan yaitu: tafsir al-munir, tafsir
al-azhar dan tafsir ibnu katsir. Aku memilih tafsir al-munir untuk ku jadikan
referensi karena hanya al-munir lah yang berbahasa arab. Lagipula disamping aku
belajar tafsir ayatnya, aku juga bisa menambah kosakata bahasa arab ku. Karena
jika aku menemukan arti lafadz yang tidak ku pahami artinya, otomatis aku akan
mencari tahu. Baik dari kamus al-munawwir yang baru-baru ini menjadi milikku
ataupun dari kamus berjalan yaitu guruku.
Awalnya memang terasa berat, namun
setelah dijalani semuanya terasa mengalir begitu saja. Metode diskusi kali ini
yaitu dengan membacakan satu ayat lalu dari setiap kelompok tafsir membacakan
munasabah, tafsir, dan kesimpulan masing-masing. Baru kemudian setelah itu ada
penjelasan secara mendalam oleh pak prof ataupun dari bapak ainul yaqin. Penjelasan
yang terlihat begitu serius dari bapak ainul yaqin menampakkan kedalaman ilmu
yang ia timba dari kairo. Ah… kairo lagi, mulai deh!!! Sudahlah kairo, jangan
goda aku lagi!!
Setelah beberapa minggu kemudian
kami diberitahukan tentang ujian tafsir tersebut. Ujiannya pun masih seperti
semester kemaren. Ujian tulis yang diadakan setiap minggu. Kisi-kisi soalpun
masih sama, kita hanya disuruh memilih jawaban benar atau salah dan meneruskan
ayat yang dibacakan. Namun yang berbeda, kali ini yang membuat soal adalah pak
ainul yaqin. Karena pak prof telah mempercayakannya pada pak ainul yaqin. Masih
sama sih sebenarnya dengan soal-soal pak prof, namun disini soalnya banyak
sekali menipu. Kalau kita tidak jeli pastilah kita tertipu. Ya iyalah wong
pilihannya benar salah aja, coba ada
pilihan bisa jadi pasti semua kertas terisi dengan pilihan itu.
Sementara pak prof, awalnya dia
tidak menentukan batas akhir dari pengumpulan tugas. Hanya saja setiap minggu
ia mengoreksi dan melihat sudah seberapa jauh soal itu di kerjakan. Walaupun
kami sudah begitu berhati-hati dalam pemilihan kata yang tepat ataupun dari hal
kepenulisan, namun ada saja kesalahan yang ditemukan oleh pak prof setiap
minggunya. Mungkin karena pak prof lebih teliti dan dia lebih berpenglaman
disbanding kami. Ya iyalah, siapa dulu pak prof gitu lohh!!! . akupun sampai
keheranan jadinya. Hingga akhirnya ia menentukan dua minggu lagi adalah batas
terakhir dari pengumpulan tugas dan itu merupakan hasil akhir dari tugas tafsir
tersebut.
Memang ilmu itu merupakan perhiasan
bagi seorang pemuda. Orang berilmu tampak berkilau indah, walaupun ia tak
seindah itu. Ilmu lah yang menghiasinya. Pembahasan dari pak ainul yaqin
terdengar sangat begitu jelas. Cara dia melafadzkan ayat al-qur’an pun begitu
fasih terdengar ditelinga. Hanya telinga mereka yang disumpal menggunakan
headset lah yang mungkin tidakkan mendengar. Andai aku bisa sepintar pak prof
dan pak ainul. Aku pasti memiliki dasar dari setiap yang ku ucapkan baik itu
dari al-qur’an ataupun hadits. Kisah-kisah yang selalu diceritakan oleh pak
ainul begitu kuat membangitkan semangat. Andai,,,,,
Aku sempat berfikir dan
membandingkan. Bapak ainul yaqin kuliah di al-azhar jurusan hadits begitu luas
pengetahuannya tentang al-qur’an. Lalu bagaimana dengan kak maqbul yang
jurusannya memang murni tafsir dan sekarang sedang menempuh s2 disana.
Wah..wah..wah.. aku sampai tak mampu membayangkannya. Andai saja,… ah
..sudahlah jangan terlalu banyak berandai-andai. Seperti kata lagu kesukaan ku.
Menghayal, jangan tinggi-tinggi,
takut jatuh gak punya gigi. Hehe. Sudahlah kembali lagi ke pak ainul, nanti
kalau membahas kak maqbul akan membutuhkan banyak tinta dan lembar.
Sudahlah berhenti melayangkan
pikiran!!! Nanti kalau jatuh beneran sakit loh!!! Suara adzan asar
membangkitkan ku dari berbaring penuh kesungguhan. Entah berapa lembar lagi
yang harus aku tulis, namun suara adzan sudah memamnggilku. Aku kerahkan
seluruh fikiranku untuk segera menyelesaikan tugas ini. Karena aku belum
belajar buat persiapan ujian tafsir besok. Oh tuhan aku lelah sekali. Seperti
yang dikatakan oleh salah seorang dosen ketika matrikulasi di hotel GREEN SA
bahwa cara belajar mahasiswa untuk saat
ini ialah sistem SKS yaitu singkatan dari Sistem Kebut Semalam. Ujian besok,
baru mala mini semalaman belajar, ngebut lagi. namun sebenarnya itu bukan
kebiasaan ku, hanya saja karena cuaca tidak mendukung, mungkin malam ini harus
ku praktekkan sistem SKS tersebut, ah… ibu dosen tau aja…
Bertanyalah aku
pada waktu
Tentang
cepatnya ia berlalu
Bertanyalah aku
pada nafas
Tentang spontannya
ia berhenti
Namun adakah
mereka menjawab?
Tidak,,
semuanya membisu, karena mereka tidak
juga tahu
Sore ini aku berjalan memburu waktu,
mengejar senja yang perlahan-lahan mulai berubah warna. Segerombolan capung
membisikkanku tentang malam yang jika allah izinkan akan berlabuh. Dimanakah ku
berjalan kini? Mengapa jalan ini begitu keruh? Mengapa jalan ini begitu bising?
Aku melangkah di tepian jalan. Waktu tanpa henti terus berlalu membelakangiku.
Haruskah aku berlari cepat, ataukah waktu akan bermurah hati menungguku.
Masaku untuk tinggal di asrama
kampus, kini sudah mulai mendekati ajalnya. Mungkin dua bulan lagi aku sudah tidak
perlu menapaki berpuluh-puluh anak tangga layaknya yang kuhadapi sekarang. Tapi
aku masih bingung, dimana aku akan memilih untuk tinggal. Apakah di pondok,
atau di rumah dosen atau di kontrakan? Entahlah… aku masih dalam dilema. Namun
apapun tempat yang akan ku tempati, aku berharap takkan ada sesuatu yang
menjerumuskan ku pada dosa. Aku takut jika harus tinggal di kos-an ataupun
tinggal di tempat yang dipenuhi berbagai macam manusia.
Aku tak ingin apa yang ku lihat di
tempat kos waktu itu terjadi pada diriku. Mereka berbaur antara lelaki dan
wanita tanpa perduli batas-batas yang seharusnya tidak di lampaui. Si perempuan
pun dengan kaos pendeknya sudah tidak malu lagi untuk bersandar kepada si pria.
Mereka sudah terlihat seperti suami istri saja. Sungguh aku begitu takut
kejadian itu akan menimpaku. Aku takut rasa cinta merusakku. Oh tuhan,, jagalah
aku, kumpulkan lah aku bersama orang-orang soleh yang semakin menguatkan iman
ku dan bukan melemahkannya. Aku tau bahwa imanku tidak seteguh iman nabi musa
yang walaupun ia dirawat oleh fir’aun, namun ia tetap bertuhankan Allah.
Lingkungan yang ku tempati, mungkin saja membawaku pada kenistaan.
Namun ketika allah menjaga dan
memberiku hidayahnya, takkan ada yang bisa menyesatkanku. Karena man yahdillahu
fa laa mudlilla lahu, wa man yudllilhu fa laa haadiya lahu allah lah yang membolak-balikkan hati
seseorang, dan dia pulalah yang dapat menetapkan hati seseorang. Allohumma
tsabbit quluwbana ‘ala diynika!!! . sungguh aku begitu hawatir jika tinggal
di kos-an, karena walaupun kita tidak ada niat untuk berbuat miring, kadangkala
ada orang iseng yang meniatkannya, sehingga kadang kita pun bisa terjerumus
kedalam dosa.
Kehawatiran ini sedikit mulai reda.
Karena pada saat ada kumpul bersama, aku utarakan keinginan dan alasan ku kepada
bapak agus sebagai pengelola PBSB di UIN SA. Aku utarakan maksudku untuk
tinggal di pondok jam’iyatul huffadz
yang berada tepat di belakang asrama yang ku tempati sekarang. Ia merespon
bahwa dari dulu, dari tahun-tahun sebelumnya, dia memang punya rencana untuk
menempatkan kami di pondok, atau di rumah para dosen. Namun karena berbagai
kendala, rencana tersebut dibatalkan. Dan untuk saat ini aku menunggu keputusan
pak agus. Aku berharap aku bisa tinggal di asrama JH tersebut. Akupun banyak
bertanya tentang JH kepada ustadzah naily, musyrifah lantai lima yang juga merupakan Alumni JH. Ustadzah berparas cantik yang biasa menyema’
hafalanku. Katanya untuk masuk ke JH, persyaratannya harus hafal lima juz.
Akupun tidak terlalu keberatan. Ustadzah nailiy yang kini mungkin sudah
menghafal 30 juz, dulu juga tinggal di asrama JH. Aku ingin mengikuti langkahnya,
aku benar-benar ingin menghafalnya hingga benar-benar melekat dihatiku dan bisa
ku amalkan dalam keseharianku.
Ah..
malam ini asrama begitu gelap, semua lampu di asrama dimatikan sehingga
membentuk gelap yang begitu menyeramkan. Malam ini di PESMA ada lomba MHQ yang
diadakan oleh pusat ma’had al-jami’ah sebagai lomba tahunan yang selalu
ditempatkan di akhir tahun sebagai acara perpisahan. Pengumuman dari dewan mahsiswa begitu memekakan telinga.
“assalamu’alaikum, kepada semua mahasiswa agar bersiap-siap untuk berangkat ke
pesma, dan apabila tidak segera turun maka lampu-lampu akan dimatikan”
begitulah isi pesan yang kami terima dari speaker/ pengeras suara. Aku begitu
malas mengikuti acara tersebut, disamping karena tugasku belum selesai, aku juga
belum belajar buat besok. Jadi maafkan aku ya mbak-mbak, bukan berniat tidak
menghargai, tapi coba pahamilah….
Waduhhhh…
gelapnya malam ini begitu mencekam. Hingga membuat mata ini takut untuk
membuka. Aku teruskan perjalananku diatas muka bumi dengan mengatas namakan
cinta tanpa ku sadari aku menginjak duri_duri yang bertaburan dalam hidupku. Ku
arahkan seluruh pandangan ku ke atas tingginya langit tanpa peduli berapa kali
aku terperosok kedalam jurang_jurang yang terdapat disepanjang jalanku dalam
hidup ini. Ku tak ingin menghentikan harapanku yang menjadi jembatan untuk
kebahagiaanku, aku lebih ingin menangis sebab keputusanmu ya robb daripada aku
harus menangis karena telah menghentikan harapan yang telah membaur di setiap
nafas yang telah ku hembuskan.
Aku
memang ingin mencapai cita-citaku itu ya robb, aku hanya ingin menjadi wanita
solehah dan mengenal semua tentangmu hingga aku dapat berkisah kepada semua
orang tentang agungnya cintaku, tentang keindahanmu, tentang bahagiaku
mengenalmu.Bahkan saat aku gagal mendapatkan semua itu dengan harapan ku yang
ini, aku mohon beri aku cara lain untuk mendapatkan cinta mu, aku hanya ingin
merasakan bagaimana manisnya mencintaimu sebagaimana hambahamba pilihanmu yang
telah merasakannya.Aku bagai daun kering
yang di gugurkan pohon jati saat musim kemarau, aku pun tak menyalahkannya
karena ia melakukan itu sebatas ia menjalani kodratnya sebagai pohon jati.
Adakah
angin malam berkisah tentangku padamu, adakah deburan ombak sungai nil
membisikkan mu. Ataukah butiran debu menyapa kedua matamu dan membuat kau
menyadari. “ ku telah miliki, rasa indahnya perih ku, rasa hancurnya harapku
tuk lepas cintaku, rasakan abadi, sekalipun kau mengerti, sekalipun kau pahami,
ku fikir ku salah mengertimu. ho wo aku hanya ingin kau tahu besarnya cintaku,
tingginya hayalku bersama mu, tuk lalui waktu yang tersisa kini, disetiap
hariku, disisa akhir nafas hidupku.
Walaupun semua hanya ada dalam mimpiku, hanya ada dalam anganku, ku lewati
itu….” Hanya ingin ku tahu, lagu grup band republik malam ini menemaniku.
Perutku
yang mulai tadi pagi bersentuhan dengan lantai begitu kaku kurasa. Lelahnya
malam ini begitu membebaniku. Seharian ini aku sampai tidak punya kesempatan
untuk mengaji karena sehabis solat aku langsung meraih leptop untuk melanjutkan
mengetik. Makalah dinamika kelompok yang
akan ku presentasikan hari selasa lusa juga belum aku buat. Ah.. sekeras
inikah hidup?. Persendian ku juga mulai terasa kaku. Lidahku pun begitu kelu.
Kapankah aku akan sampai pada lembar terakhir hingga aku dapat merapatkan kedua
pipiku diatas bantal, membenamkannya diatas empuknya kasur yang ku tempati.
Seharian inipun aku hanya bermodalkan mie instan yang memang aku selalu
siagakan untuk rasa lapar yang terkadang datang secara tiba-tiba. Aku tidak tahu
bagaimana nasib perutku berikutnya, yang paling penting adalah aku mempunyai
energi untuk menyelesaikan dan tetap
kuat untuk melanjutkan. Ah… aku lelah sekali ya allah…
Terima Kasih
Anda Sudah
Terdaftar dan Telah Mendapatkan Nomor Pendaftaran/Registrasi.
Nomor Registrasi Seleksi Timur Tengah BERLAKU jika kelengkapan berkas
pendaftaran
telah diserahkan dan divalidasi oleh pada Panitia Setempat.
Kartu Peserta sewaktu-waktu dapat dicetak melalui fasilitas pencarian Nama atau
dari menu Data Pendaftar
dengan memilih kolom No.Registrasi pada tabel Data Pendaftar
KARTU PESERTA
SELEKSI MAHASISWA TIMUR TENGAH 2014/2015
[ Mesir ]
Foto 3 x 4
Nomor Registrasi :
MS
-802/1176/DIKTIS/2014
Nama :
SOFIATUL
JANNAH
Asal Sekolah : MA NURUL ULUM
JADWAL UJIAN
Hari
dan Tanggal Ujian
|
Ujian
|
WIB
|
WITA
|
Sabtu, 24 Mei 2014 (Tahap I)
|
a. Tulis
b. Lisan
|
09.00 - 11.00
12.00 - selesai
|
10.00 - 12.00
13.00 - selesai
|
Sabtu, 14 Juni 2014 (Tahap II) **
(Khusus Mesir)
|
a. Tulis
b. Lisan
|
09.00 - 11.00
12.00 - selesai
|
|
...........,...............................
Lokasi Ujian : UIN Malang
( ........................... )
*) Kartu Harap dibawa Selama Ujian
**) tahap II Lokasi Ujian di UIN Jakarta
Huff…aku
kembali pada kisah bulan mei tahun lalu, dimana aku gagal mengikuti seleksi.
Karena memang tak ada kesempatan bagiku. Aku tiada henti menunggu saat dimana
tuhan akan memberiku kesempatan untuk kembali mendaftar dan mengikuti seleksi.
Walaupun aku tidak lulus di tahap seleksi, setidaknya aku tau bahwa alasan
kegagalan ku memang karena dari diriku yang mungkin belum punya banyak ilmu.
Dan kini Aku
terbaring mengapusi hati yang tengah merintih menderita karena cita. Cita yang
seharusnya telah hilang terbawa
kencangnya arus angin selama setahun ini bersama hilangnya satu orang dari kaum
adam yang pernah memberitahuku bagaimana manisnya cita hingga lupa memberitahuku
bahwa dalam cita juga ada rasa pahit. Kini, ku terpuruk bersama luka yang tak
kunjung mengering.
Detik
ini aku merasa ronggaku mulai sesak, deru pesawat yang barusaja lepas landas
dari bandara juanda menyapa telingaku. Kembali ku tertegun dan mengucap sebuah
doa dalam hati “ ya tuhan, kapankah pesawat itu akan membawa aku ke kairo?
Adakah kau kan memberiku kesempatan?”. Aku terus memohon. “dek, mohon doanya ya
dek, adikku lagi ikut test ke kairo juga, doain dia ya semoga lulus” ku ingat
kata-kata kak maqbul yang sudah hampir satu tahun yang lalu. “iya kak, pasti
aku doakan”.ucapku.
Nurul
Ida Hidayati, dia adalah adik kak maqbul yang kini sudah berada di kairo.
Ketika pengumuman kelulusan seleksi PBSB, pada saat yang bersamaan pengumuman
seleksi timur tengah sudah di pampang. Ku download kedua soft file yang
keduanya berisi pengumuman kelulusan. Dan inilah cara takdir mempermainkan ku.
AKU lulus PBSB, dan nama NURUL IDA HIDAYATI , namanya berada diantara
deretan-deretan dalam pengumuman kelulusan seleksi timur tengah.
Bagai
lagu cita-citata yang berbunyi SAKITNYA TUH DISINI aku terluka. Bukan karena
aku hasud, namun karena aku tak tahan. Ketika aku matrikulasi di hotel GREEN SA
aku mendapat sms dari kak maqbul. “dek, saya sudah di Jakarta… besok berangkat.
Doain yah semoga selamat sampai tujuan”. Bertambahlah semua derita. Hotel yang
dekat dengan bandara juanda tersebut membuat telingaku tak asing dengan deru
pesawat. Dan hari itu, mungkin salah satu pesawat yang ku pandangi didalamnya
ada kak maqbul, mbak ida, beserta rombongannya. Jika mereka saat itu melihat ku
dari jendela peswat, aku hanya dapat melihat mereka dari jendela.
Diatas
putihnya kasur dan selimut yang tengah membalutku, aku menangis sendiri. Malam
itu, ku rasa tubuhku memanas di bawah dinginnya AC. Ku palingkan wajahku kearah
timur yang terdapat berbagai kerlap-kerlip lampu. Waktu itu, sungguh kurasa aku
begitu putus asa. Aku begitu dalam terluka. Entah siapa yang menyakiti, namun
yang ku tahu saat itu aku begitu teriris. Sudahlah! Cukup sampai disini saja.
Karena untuk mengingat masa lalu yang lebih dalam lagi, aku membutuhkan
kesiapan hati dan kesiapan perasaan. Biarkanlah masa lalu menjadi bara yang
selalu membakar semangat untuk terus melangkah menuju masa depan. Akan tetapi,
jangan pernah melupakan sejarah masa lalu, karena jika seseorang melupakan
sejarah maka ia akan kembali pada masa lalu itu.
Hati
ini mungkin telah hangus terbakar, lantaran cita yang terus membara. Aku selalu
menangis sebagai hamba yang rapuh. Impianku yang sudah berumur cukup panjang,
tak jua menyerah untuk menyakitiku. Adakah yang mengerti akan diriku? Adakah
angin malam paham akan semua rasa yang begitu masam terasa? Ada apa dengan rasa
ini? Mengapa begitu sulit ku ingkari? Belum cukupkah tuhan menyiksaku dengan
perasaan yang begitu menyakitkan. Salah apa diriku padanya hingga dia begitu
lama menggantung diriku dalam harapan yang mungkin takkan pernah menjadi nyata.
Apa yang ia inginkan dengan perasaan ini? Apa yang hendak ia beritahukan padaku
dengan perasaan ini?
Bagaimanakah caraku untuk melepaskan
diri? Dari perasaan yang tiada berarti. Untuk apa aku terus bertahan diatas
cita yang memang tidak tuhan takdirkan? Lalu siapakah seharusnya yang dapat ku
salahkan? Siapa dalang di balik semua ini? Siapa yang bertanggung jawab atas
rasa yang telah menyatu akan diri? Begitu tegakah rasa ini terus menggelitiku?
Ah….siapapun itu, bantulah diriku!!!! Rasa ku yang begitu dalam, akankah
membuatku lemah, rasaku yang tak juga mendapat jawaban, akankah membuatku
lemah?.
Kemaren, aku ditandai oleh seorang
teman yang sedang berada di kairo dalam sebuah tautan. Dalam tautan tersebut
termuat kabar tentang seleksi al-azhar. Ah… tak terasa luka yang ku derita di
penghujung tahun, sebentar lagi akan ku rasakan kembali. Bagaimana tidak,
sedang rasa ku masih saja bertahan walaupun waktu telah berputar dan terus
berusaha menyembuhkan hati tempat rasa bergantung. Mengapa begitu dalam luka
yang ku derita? Bukankah ia tuhanku yang perannya adalah menjaga dan
mendidikku? Lalu mengapa dia membiarkan hatiku terus terluka? Apa yang telah
aku lakukan hingga ia seakan begitu berat menghukumku. Apa salah yang telah ku
lakukan yang tak mendapat maaf darinya. Mengertikah dia bahwa aku terluka?
Ibakah dia akan diriku yang merana?
Kisahku telah berhasil membuka
mataku bahwa aku bukanlah apa-apa. Aku hanyalah insan dengan cinta yang tak
pernah pudar. Cinta yang terus menggantung tanpa pernah terjawab. Terus
berlarut dalam gelapnya malam yang kian mencekam. Hujanpun seakan enggan temani
malam ku. Angin malam, kicauan jangkrik, semuanya berlalu dalam kelam. Mungkin
dengan tuhan menakdirkan ku kuliah di jurusan BKI ini, aku dapat meng-konseling
diriku sendiri. Meng-konseling hatiku yang kian mengalami troubles. DIA
yang membuatku terdampar di Surabaya, lama mengapung diatas lautan garam yang
semakin membuat perih lukaku.
Terkadang ku berfikir, untuk apa
tuhan mengenalkan aku pada kairo dan membiarkannya tetap ada. Sedang kairo
tidak IA maksudkan untukku. Aku tahu tuhanku maha penyayang, aku tahu DIA
mustahil untuk berlaku dzolim, namun yang ku tak tahu maksud dan arah jalan
yang ia berikan padaku. Terkadang aku menggugat padaNYA dalam doa-doa yang
biasa ku utarakan untukNYA. “oh tuhan… mengapakah ini? Mengapakah diriku?
Mengapakah semua ini? Aku sudah tak sanggup lagi tuhan.. tidakkah kau mau
mengakhiri luka yang berujung pada derasnya air mata. Oh tuhanku,,,, yang
menyinari seluruh hatiku, lihatlah betapa gelap hati ini membuta! Lihatlah
diriku sang pendamba! Dedaunan mungkin saja bisa kering dengan sinar mentar,
lalu mengapakah perasaan ini? Mengapa kian menggebu? Sehingga dapat membutakan
mata hatiku! Wahai tuhanku tempat aku meminta, wahai tuhanku tempat aku
bercurah, wahai tuhanku teman yang begitu setia, wahai tuhanku yang begitu
menyayangiku, wahai tuhan yang merajai kerajaan langit, wahai tuhanku,,, wahai
cahayaku, wahai anugerah ku,,,,lihatlah bagaimana lisan ini bertasbih, lihatlah
bagaimana mata ini berdarah! Lihatlah bagaimana kedua bibir ini membeku!
Lihatlah betapa hati ini meluka.” Oh tuhan….
Huh sudahlah..biarkan angin
pagi mengusirnya. Sabtu kemaren masih sama seperti sabtu-sabtu sebelumnya,
hanya saja masjid yang biasa kita gunakan sebagai tempat halaqoh kini begitu
ramai terasa. Bunyi lentingan-lentingan besi yang berasal dari suara tabrakan
palu dan paku begitu memekakan telinga, hingga begitu sulit terasa untuk
mem-fokuskan pikiran dalam kondisi seperti itu. Kampus yang baru dalam tahap
pembangunan memberikan sejuta mimpi untuk masa depan.bangunan yang dirancang
untuk membentuk angka 99 yakni jumlah asma’ul husna kini masih terdiri dari rangkain
besi, pasir, semen dan lain sebagainya.
Di depan gedung B fakultas adab, dengan tikar yang sudah terlihat
sedikit berdebu, kami berkumpul seperti biasanya. Mendengar, menyimak lalu
kemudian membayangkannya. Dengan tas kecil yang berisi kitab tentang pribadi
Rasululloh, pak ainul yaqin berjalan penuh gemulai yang diiringi dengan langkah-langkah
kecil teman-teman yang sudah sejak tadi menunggu di masjid. Masih saja dengan
muka yang berbinar, ia mulai menduduki tikar yang telah disediakan. Seperi
biasanya ia memulai dengan kata pengantar yang terbilang basa-basi. Dari raut
wajahnya ia selalu terlihat begitu antusias mengajar pelajaran yang bertemakan
dan berbau tentang Rasululloh.
Ah…
memang cinta tak bisa dibohongi. Sepandai apapun seseorang menyembunyikan
cinta, sepandai itulah cinta memperlihatkan dirinya. Itulah yang terlihat dari
sinar wajah guru ku yang satu ini. Mungkin kairo telah memupuk nya menjadi sang
pecinta Rasululloh. Secara detail dia menjelaskan sifat-sifat Rasulullah sesuai
apa yang terkandung dalam kitab tersebut. Saat itu, ia pun menjelaskan tentang
sikap Rasululloh terhadap istrinya. Tentang cintanya yang begitu dalam terhadap
aisyah, tentang rasa sayangnya yg begtu kuat terhadap khadijah. Tentang motif
dan tujuan dia menikah. Semuanya terasa begitu nyata dijelaskan oleh pak ainul
yaqin.
Memang
tidak salah lagi pak prof menjadikannya sebagai asistennya, karena dia sangat
pintar, begitu fasih bertutur kata, dan begitu jelas menafsirkan sesuatu.
Karena keasyikan mendengarkan penjelasan darinya hingga kami tidak menyadari
sinar mentari yang sudah sedikit meninggi. Karena sinarnya yang sudah mulai
memanasi tubuh kami, hingga akhirnya kami menggeser tikar ke bawah pohon yang
sedikit rindang.
Bunyi
sendok yang membentur mangkok terdengar kian mendekati tempat kami berkumpul.
Seorang penjual bakso mendekat kearah kami. Salah seorang dari teman ku meminta
izin kepada pak ainul yaqin untuk mebeli bakso. Lalu kemudian ia mengizinkan
nya karena pelajaran telah selesai. Tak hanya berhenti disitu, teman-teman
putra yang lain juga ikut membeli dan memakan bakso tersebut. Kami yang putrid
hanya diam dan melihat, disamping malu untuk makan di depan pak ainul, juga
karena tidak membawa uang.
Selang
beberapa menit, salah seorang temanku tadi, ia berkata bahwa ia akan mentraktir
kami. Dengan keterbatasan mangkok yang disediakan oleh penjual bakso tersebut,
kami bergantian menunggu mangkok yang kosong bekas kuah bakso yang menjadi
pengganjal perut di pagi yang sudah menjelang siang ini. Hingga mangkok
terakhir buat pak ainul yaqin. Dengan jus jeruk yang menemani semangkok bakso
di depannya, ia melahap bakso yang masih sedikit panas. Ia bercerita tentang
berbagai hal, hingga kemudian ia menanyakan tentang tempat tinggal yang akan
kami tempati setelah setahun di asrama. ia berkata bahwa ia akan tetap
meneruskan halaqoh sabtiyah (sabtu-an) yang menjadi jadwal baru. Dia
berkata bahwa ia bersedia untuk datang ke kontrakan putra hanya untuk
mengajarkan kami ilmu yang ia ketahui. Ah..masih saja tuhan menyisakan
seseorang seperti itu di abad ini.
Aku
bertanya pada rintihan air hujan
Tentang
cinta ataupun cita yang harus terpendam
Aku
berdebat dengan deburan ombak
Tentang
hati yang kini tersibak
Adakah
telinganya mendengar?
Adakah
hatinya merasa?
Malam ini aku berpujangga di bawah
rentetan lampu yang tergantung diatas atap kamar-kamar asrama. berkisah tentang
kisah pagi yang membuat tubuh terasa lelah. Pagi itu, dengan angkot
kuning-hijau yang menjadi ciri has taksi mahasiswa, kami duapuluh delapan orang
hendak pergi menuju rumah pak ainul. Dengan dikawal oleh pak ainul sendiri yang
saat itu mengendarai sepeda motor, dua mobil yang kita tumpangi bergerak
mengikutinya. Kami dengan jumlah sebanyak itu dibagi menjadi dua. Cowok dipisah
dengan cewek atau cowok sendiri dan cewek sendiri. Dengan perut yang belum
terisi apapun, aku berangkat. Hanya angin segar yang berasal dari pepohonan
hijau disepanjang jalan menjadi menu sarapan pagi.
Sekitar lima belas menit, melewati
belokan kanan-kiri, lampu lalu lintas yang bergantian warna, akhirnya sepeda
motor pak ainul berhenti. Ia berhenti didepan rumah mewah yang berdiri kokoh
dengan tiang-tiang yang terukir indah. Dinding-dindingnya yang penuh dengan
ukiran dari berbagai macam warna. Bangunannya yang megah bagai istana, di
depannya dilindungi oleh pagar besi yang semakin menambah pemandangan lebih
indah.
Tak sampai satu menit, sepeda
motornya kembali bergerak dan sebentar kemudian berhenti kembali di depan rumah
sederhana yang tampak asri. Kali ini motor yang ia tumpangi benar-benar
berhenti. Lalu kami semuapun turun dan mengikuti langkahnya. Didepan rumah
sederhana yang berlantaikan dua itu, tampak seorang lelaki yang sudah kelihatan
tidak muda. Wajahnya yang menghitam tampak berbeda, kelihatannya warna hitam
yang ada pada wajahnya tidak tampak seperti warna hitam pada kulit seseorang
pada umumnya. Ia tampak kuarang sehat, terlihat dari cara duduknya yang
terlihat kaku.
Tanpa berpikir panjang, teman-teman
putra satu-persatu menyalami dan mencium tangannya. Tak lama kemudian seorang
wanita keluar menemui teman-teman putri lalu menyalami kami satu-persatu.
Dengan kerudung hitam yang ia kenakan,
ia tampak begitu kalem dan ramah. Awalnya kami berpikir kalau dia adalah ibunya
pak ainul, akan tetapi ia mengubah perasangka kami dengan berkata bahwa ia
adalah kakak perempuan pak ainul yaqin. Wajahnya tampak bersih sama seperti
wajah pak ainul. Dengan senyum yang tampak begitu manis. Dari dalam, terdengar
bunyi tapak kaki yang lama-kelamaan terdengar semakin dekat. Sejenak ku menoleh
kearah sumber bunyi tersebut, dan seoarang wanita yang tampak berumur sekitar
empat puluhan mendekat diiringi dengan senyum dari kedua bibirnya. Dia adalah
ibunya pak ainul, seorang wanita yang kerap kali menjadi topik pembicaraannya
disela-sela pelajaran. Wanita tersebut masih sangat kelihatan sehat. Terlihat
dari cara dia menyambut uluran tangan kami. Kami lalu dipersilahkan duduk
diatas karpet yang bergambarkan bunga-bunga. Dengan warna merah yang sangat
terang, ruangan nya terlihat indah. Ditambah lagi dengan lukisan ayat al-qur’an
yang menggantung di atas dinding.
Dimulai dengan ngobrol bersama yang
ditemani dengan pisang goreng yang terjejer rapi diatas piring, kami semua
menata barisan tempat kami duduk. Aku bersandar pada sofa yang berada di ujung
timur ruangan ini. Sambil melihat kearah lemari yang didalamnya terdapat
serentetan kitab berjilid-jilid. Disampingnnya terdapat banyak piala yang
berwarna kuning keemasan. Foto para kiai yang terpampang di dinding. Ada foto
syaykhuna Mohammad kholil Bangkalan, KH Abdulloh Sahal, Syeikh Abdul Qodir
Al-jaylani, dan masih banyak foto lainnya.walaupun tampak tak begitu besar,
rumah ini sudah ideal menurut ku. Karena rumah ini terisi oleh berbagai hal
yang berbau ilmu hingga membuatnya terlihat menarik.
Pak Ainul datang membawa kitab yang
biasa dikajinya. Dengan bacaan bismillah, ia lalu memulai menjelaskan secara
rinci. Dengan kondisi yang agak sedikit kesempitan karena dihimpit oleh kedua
temanku tang bertubuh sedikit besar ketimbang diriku, aku hanya dapat
mendengarkan tanpa mencatat apa yang ia jelaskan. Sementara itu, ibunya sibuk
menyiapkan makanan untuk kita. Menyajikannya dalam duapuluh delapan piring
hingga terasa agak begitu lama. Namun karena dijalani sambil mendengarkan kisah
rasul, semua berlalu tanpa terasa. Karena rasululloh memang selalu membawa pada
keindahan,. Perut yang mulanya tidak sabaran, kini menjadi sedikit tenang
menunggu.
Tak lama setelah pelajaran selesai,
pak ainul berkata dengan suara yang agak keras. : ibu, bagaimana? Sudah siap?”
ia bertanya kepada ibunya. “iya, sudah siap” terdengar sahutan dari dalam dapur
yang berarti bahwa makanannya sudah siap. Sebentar kemudian ibunya membawa dua
piring nasi yang berisi rawon. Teman-teman lalu kemudaian membantu mengambil
dan membawakan piring-piring itu keruangan tempat kami duduk lalu kemudian
membagikannya satu-satu. Disusul kemudian dengan es kolak yang terasa dingin
lantaran dicampurkan es batu kedalamnya. Wah!!! Panasnya cuaca siang ini,
panasnya kuah rawon, dan dinginnya es kolak, bersatu padu dalam satu sendokan
pertama lalu kemudian diikuti dengan sendokan-sendokan berikutnya. Kami melahap
dengan penuh antusias hingga tak membutuhkan waktu lama untuk menghabiskan satu
piring nasi. Teman-teman yang masih belum kenyang dengan satu piring nasi,
tanpa rasa malu mengambil satu piring lagi untuk semakin membuat perut penuh
sesak. Karena keramahan sambutan yang kami terima, hingga kami serasa makan
dirumah sendiri tanpa rasa malu ataupun ragu. Selamatlah uang makan pagi ini!!!
He. He.. he….
Setelah kami merasa sudah cukup
kenyang, dan piring-piring pun sudah pada kehilangan isinya, lalu kami
mencukupkan sarapan pagi menuju siang kali ini. Piring-piring kotor bekas makan
kitapun mulai disusun kembali untuk kemudian diangkut kembali ke dapur tempat
ia berasal. Tak berhenti disitu, selesai makan pak ainul kembali bercerita
tentang kairo, tentang foto-foto yang ada di album fotonya. Ia menjelaskan
piala yang tadi berjejer rapi diatas lemari.sambil menunggu adzan dzuhur, kami
habiskan waktu untuk berbincang-bincang. Selang 20 menit kira-kira, suara adzan
mulai terdengar dari masjid yang letaknya tak jauh dari rumahnya. Teman-teman
cewek yang sedang tidak udzur segera mengambil air wudu di rumah pak ainul
yaqin karena katanya dimasjid tidak disediakan tempat wudu wanita. Sebentar
kemudian mereka berangkat ke mesjid dan menunaikan salat dzuhur berjemaah
disana. Setelah kembali ke rumah itu lagi, kamipun beranjak untuk pulang. Namun
momen ini tak kami biarkan berlalu tanpa ada bukti kenangan yang terdapat di
dalamnya. Dengan hp yang cukup terang untuk mengambil foto,kami semua berfoto
ria diteras depan rumah pak ainul. Diawali dengan foto bersama lalu kemudian
foto sendiri-sendiri. Yang putri dengan ibunya pak ainul dan yang putra dengan pak ainul sendiri.
31, Mei 2015
Mebawa sebuah leptop yang berumur sudah agak tua, aku menuruni anak
tangga asrama. dengan langkah penuh kehati-hatian ku berjalan menuju gedung
fakultas syari’ah untuk wifi-an. Tugas yang menumpuk memaksaku melangkah walau
lelah tak dapat ku tangkis. Mencari 50 komenan dari tulisan di blog ku dan juga
menulis duapuluh halaman sisa hari yang lalu, membuat mataku iba untuk
terlelap. Ku buka akun facebook dengan harapan aku akan bisa membagikan alamat
blog ku kepada teman-teman fb. Mengirimi mereka pesan satu persatu, lalu
meminta mereka mengecek dan mengomentarinya. Namanya juga manusia, ada yang
langsung mengomentarinya tanpa harus bertanya, ada pula yang bertanya-tanya
dulu lalu kemudian berkomentar, ada yang menanyakan manfaat untuk dirrinya jika
berkomentar pada blog ku, dan ada yang hanya ngajak ngobrol basa-basi. Nanya
kabar, nanyain udah punya pacar apa belum, nanyain anak mana, ah…semuanya pada
gek jelas. Oh tuhan….ada-ada saja hamba-Mu itu.
Tak sampai lima hari, komenan di blogku sudah mencapai 50 komentar.
Hanya saja isi komentarnya yang berbeda-beda. Namun yang ku ingat ada dua
komentar yang membuatku kembali mengingat kairo dan salah seorang mahluk tuhan
yang ada disana. Yang pertama adalah komentar dari mas yaqien yang dalam
komentarnya dia mendoakan aku agar berjodoh dengan azhar, entah dengan cara aku
kuliah disana atau aku selalu dipertemukan dengaan alumni sana. Aku berbisik
dalam hati.”amiyn ya allah, kabulkan lah doanya! Bahagikan aku dengan azhar.
Kalaulah dirimu tidak mendengarkan doaku, namun kali ini dengarlah doanya”. Ia
juga membenarkan tulisanku yang disana tertulis bahwa al-waaqi’ah terdapat di
juz 28 namun nyatanya surah tersebut terdapat dalam juz ke-27.aku
berterimakasih atas komentarnya karena hanya itu yang dapat ku lakukan.
Yng kedua adalah komentar dari pembaca yang bernamakan setan.
Dia adalah salah seorang temanku yang juga alumni al-azhar. Setelah ku chat dan
menginterogasinya kenapa dia menamai setan, ia menjawab. “itu adalah julukanku
di masa muda” katanya tertawa lepas. “ hmmm, kan itu julukan masa muda, lalu
kenapa dipakainya sampai sekarang? Kan sudah tidak muda lagi?” ku selingi
sedikit candaan. Dia hanya tertawa ria lalu kemudian berkata:” itu kisah nyata?
Namanya kok nama asli mu? Itu cerita asli diri mu ya? “aku kebingungan mau
jawab apa karena aku hawatir dia mengenali nama yang menjadi pelaku dalam
tulisanku. “eh kepo!! Enggak kok kak, itu memang kisah nyata tapi ku buat
dramatisir dan sedikit ku ubah, tentang nama, itu hanya karena biar tidak susah
mencari nama yang cocok. Jadinya ku pakailah namaku dalam cerita itu” aku coba
meyakinkan dan membenarkan kata-kata ku yang nyatanya berbohong.
Kehawatiranku terjadi, dia ternyata kenal sama kak maqbul. “maqbul?
Kayaknya aku kenal sama nama itu? Orang Madura kan? Kamu akrab sama dia? Itu
beneran kisah nyata apa bukan?” aku bingung mencari jawaban yang pas untuk
menghindari pertanyaannya. “ih kakak sok tau ya kadang-kadang, enggak kok bukan
siapa-siapa” kataku. “ayolah dek siapa dia kalau bukan maqbul? Namanya siapa?
Entar kakak bentuin ngomong ke dia biar urusannya mudah” dia coba memamncingku
bercerita namun sayangnya aku tetap tidak terpancing. “enggak kok kak bukan
siapa-siapa, kalaupun saat ini aku masih menyimpan perasaan ataupun harapan pada
dirinya, aku takkan lagi memperhatikannya, karena aku yakin bahwa waktu akan
sembuhkan segalanya” aku berucap dengan hati yang luluh dan pasrah terhadap
takdir tuhan saat ini, karena akupun tak yakin bahwa terdapat kafaa’ah antara
aku dan kak maqbul. Itulah mengapa aku lebih memilih mencinta dalam diam.
Dengan sisa nafas yang masih terhembus, kembali kuurai cita dan
cinta dihadapan sang maha dari keduanya. Kali ini ku istikharah kan keputusan
ku untuk kembali mengikuti seleksi. dengan cara-cara yang kudapat dari mbak
husna, salah seorang dewan maha santri di asramaku. Dimulai dengan khushushon
kepada nabi, lalu syeikh Abdul qodir al-jaylani, lalu kemudian disusul
dengan nama syeikh hasan Asy-syaybaaniy dan terakhir kepada kedua orangtua
setelah itu baru berdoa agar ditunjukkan baik atau buruknya langkah yang akan
saya ambil.
Tanpa harus disengaja, aku membuka sembarang tempat dalam al qur’an
lalu kuhitung tujuh baris dari halaman samping kanan. Dan kulihat makna dari
ayat yang terdapat pada baris ketujuh dari halaman tersebut. Kuulang dari awal
hingga tigakali namun hasilnya masih samar-samar belum membuatku yakin, mungkin
karena minimnya pengertianku tentang kata yang tersirat dalam al-qur’an atau
biasa kita kenal dengan istilah majaziy.
Aku masih dalam dilema, bimbang antara melanjutkan atau berhenti.
Namun satu yang ku pastikan yaitu bahwa aku akan tetap mengikuti seleksi tahun
ini, entah apapun hasilnya aku tidak berharap hasil karena ku tahu ini
mustahil. Hanya saja aku berharap setidaknya aku mendapat ketenangan setelah
mengikuti seleksi walaupun aku gagal. Namun sebenarnya tidak karena kupikir
ketika aku gagal dalam seleksi maka kairo takkan lagi membayangiku dan terus
menakut-nakuti ku.
Dan tentang cinta, kini ku hanya bisa pasrah dan terus meyakinkan
diriku untuk tetap melupakannya. Karena logikanya, untuk apa kak maqbul kembali
menghampiriku. Sedang ia dikelilingi oleh berbagai macam wanita yang cantik dan
pintar lagi mereka selalu bersama. Sedang diriku, apalah artinya bagi dirinya.
Sudahlah tak perlu mengungkit hal-hal yang membuat hati menjadi sakit.berlarut
dalam kesedihan hanya akan menambah beban perasaan. Beban fisikku sudah terasa begitu berat, aku takkan
lagi menambah beban dengan perasaanku. Akan tetapi….
“nanti kalau adek sudah di kairo, kakak akan bawa adek ke sungai
nil” perkataan kak maqbul yang sudah hampir setahun serasa baru ku dengar
kemaren. Tutur kata yang begitu lembut yang berasal dari ketulusan hatinya,
begitu dalam terserap kedalam hatiku. Seperti hal nya ungkapan yang ku dengar
dari salah seorang teman yang sedang belajar di yaman yaitu maa khoroja
minal quluwb dakhola ilal quluwb. Saat itu, sesaat sebelum bertemu, ku
sempatkan diri untuk berbisik pada tuhan. “ya allah, tolong jangan kecewakan
aku dengan pertemuan ini, dan ampunilah diriku karena dia akan menjadi orang
pertama dan terakhir yang akan ku temui dan juga pertemuan ini akan menjadi
pertemuan pertama dan terakhir! Jagalah diriku selalu, jangan biarkan cinta
yang timbul karena nafsu mengalahkan fitrah cintaku padamu”. Dengan hati
berbunga-bunga diserai langkah teman-teman aku mulai mengayun langkah menuju
masjid yang telah menjadi saksi.
Awalnya aku begitu senang karena masjid yang menjadi tempat kita
berjumpa. Akan tetapi itu salah, aku salah dalam memahaminya. Aku seharusnya
menjadikan masjid sebagai tempat untuk ku menghadap tuhanku, bukan untuk
bertemu seseorang yang ku cintai apapun alasannya. Mungkin karena itulah, kini
sesorang yang ku cintai hanya menjadi bayangan semu yang takkan pernah mungkin
ku dapat menggapainya. Cintaku kini menjadi pelangi diatas tetesan air hujan
yang membasahi bumi. Takkan ada yang mengerti seberapa besar bumi padang pasir
mengharapkan hujan, walaupun ketika hujan datang, ia langsung menyerapnya dan
menyembunyikannya didalam kalbu.
Teringat pesan yang terjadi beberapa hari sebelum dia kembali ke
kairo. “kakak kapan berangkat?” aku bertanya menghindari kesunyian yang
tercipta lantaran aku tak tau lagi untuk membalas pesannya. “ini masih nunggu berkas-berkas adekku, ntar kalu dah
kelar semuanya, baru deh kakak berangkat, kenapa? Mau ikut?” katanya tanpa ada
sedikit keraguan.”ikut..”aku membalas perkataanya dengan nada merajuk. “Kalau
mau ikut, adek harus nikah dulu sama kakak? Gimana?”katanya sedikit menggoda.
lama aku tidak membalas pesannya hingga ia kembali mengirimi aku pesan. “dek,
kok gak dibales? Adek marah ya? Maaf ya kakak cuman bercanda” dia merasa tidak
enak. “mmm…enggak kok kak, gak marah kok, memangnya kakak mau punya istri kayak
aku?” aku balik bertanya.
Ah.. percakapan ini terasa begitu panjang dan berkesan begitu
dalam. Hingga dapat dipastikan bahwa aku akan membutuhkan banyak waktu untuk
melupakannya. Cerita dari mbak ida, adeknya juga menjadi referensi bagiku
tentang dia. “mbak ida memang dari dulu pengen ke kairo?” aku coba mencari-cari
tau. “sejak kelas dua aliyah, kakak selalu menggodaku dan mengajakku untuk
kuliah disana seperti dia” Jawabnya. “ohh.. enak mbak, kalau punya uang kuliah
disana, mahal ta bayarnya?”sengaja ku buat basa-basi percakapan ku dengan nya.
“ya lumayan dek, apalagi sekarang saya kan belum kuliah dek, masih masuk kursus
bahasa dulu, buat persiapan masuk kuliah”.
“oh, mahal berarti ya mbak?” aku memastikan. “ iya dek, tapi ini kakak yang bayarin” aku kaget mendengar
jawabannya. Benarkah? Dia seorang hafidz,
Adakah waktu untuk mencari uang untuk membiayai adeknya disamping ia
juga harus kuliah? Adakah seseorang yang begitu bersemangat dalam mendukung
adeknya mencari ilmu?. “loh iya ta mbk? Berangkatnya juga kak maqbul yang
bayarin?” aku tambah banyak bertanya. “kalau berangkatnya sih ummi yang
bayarin, tapi setelah disini kakak yang bayarin”. “memangnya kakaknya kerja apa
disana mbak?” ku suguhkan pertanyaan terakhir untuknya. “kurang tahu juga,
soalnya saya tidak pernah nanya dia kerja apa” jawabnya.
Aku dapat membuat kesimpulan dari berbagai sumber yang ku dapatkan.
Bahwa kak maqbul adalah seseorang yang begitu peduli dan penyayang terhadap
adiknya. Mungkin karena disamping ia adalah kakaknya, ia juga sebagai ayah bagi
adik-adiknya karena ayah kak maqbul telah meninggal. Seseorang seperti itulah
yang banyak dicari dan dibutuhkan oleh banyak wanita. Hingga aku harus
mengantri ataupun menunggu takdir tuhan jika tetap mengharapkannya. Seorang
wanita yang kini berada dihatinya, sungguh beruntung wanita itu, siapakah dia?
Mengapa tuhan berpihak padanya? Dan bukan diriku. Namun ku Tanya lagi siapakah
aku? Mengharap pihakan dari tuhan.
Angin malam pun kini berhenti meniup jendela kamarku. Hewan-hewan
kecil yang biasa beradu dalam sunyi kini terdiam membeku. Purnama telah mampu
membuat mereka semua terbungkam dalam bisu. Membuat mereka terdiam tanpa kata.
Bintang-bintang pun beradu dengan senja dalam peraduan malam yang mencekam.
Tiadalah kata yang dapat terucap untuk memproklamasikan suara hati yang begitu
samar terdengar. Hanya hati-hati yang bertelepatilah yang dapat segera
tersambung walaupun jarak tak mengizinkannya. Malam ini begitu tenang terasa,
tanpa suara yang pekakan telinga, tanpa debu yang merah-kan mata, tanpa aroma
yang menyengat hidung. Semua terasa mengalir santai dibawah kaki langit
bertabur kejora.rerumputan pun mulai membaringkan tubuhnya diatas tanah tempat
ia biasa bercurah. Semua terdiam terpaku. Hanya bunyi deru-deru mobil yang
mencemarkan suasana malam bak lailatu qodar di bulan puasa.
Malam ini, biarkanlah aku berpuisi
dibawah rinai hujan yang menyisakan embun. Biarkanlah aku bersajak saat semua terbungkam
tak berdaya. Mungkin manusia takkan bisa memahaminya, namun kali ini di depan sang
maha cinta, ku ucap sebuah kalimat
bertajuk cinta, bertemakan rasa dan mengentaskan derita tiada henti. Dengarlah
dan cobalah untuk memahami apa yang terlontar dari lubuk hati:
Aku
begitu lemah di depan tatapan cinta
Tanganku
rapuh menggenggam asa
Detak
jantung seakan tak terdengar lagi
Nadiku
berhenti tertusuk angin malam
Air mata jatuh tiada tertahan
Saat duri menusuk
lalu menggores hati
Perih kurasa
menggebu-gebu
Hingga akhirnya
aku tersungkur diatas sejadah cinta
Jihad
cinta?
Adakah
ini jihad cinta?
Mencinta
dalam diam
Menangis
tanpa air mata
Adakah
rintik hujan kan mampu?
Menjadi
perekat atas remuknya asa ku
Diriku
lemah seakan tak bernafas
Hingga
kematian kalbu seakan tak memberiku jeda
Dimanakah
dua hati yang terpisah kan bertemu?
Dimanakah
cinta yang membatin kan bermuara
Akankah
cahaya bintang yang ku dapat
Seperti
halnya cahaya bintang yang ia dapat?
Kapankah
sang penyair kan mendapat balasan
Dari
puisi-puisi yang ia keluarkan dari sudut kalbu
Adakah
paruh dunia hembuskan nafas untuk dirinya?
Mengertilah!!!
Kapankah kau kan memahami?
Layaknya siang dan malam, begitulah
dunia menggambarkan kehidupan. Terkadang kisah dari kebersamaan membuat kita
tertawa saat sendirian. Teringat
kejadian di kelas saat pagi. Kala itu sedang intensive bahasa inggris. Seperti
biasanya, karena sudah mendekati test TOEFEL ataupun TOAFEL maka dosen lebih
banyak membahas tentang soal-soal yang sejenis dengan materi test. Saat itu ada
suatu soal yang menanyakan tentang kata ganti subjek. Kalau tidak salah soalnya
beginti the word “them” refers to…? Kala itu aku kebetulan beda pendapat
dengan dosen sehingga menimbulkan diskusi yang cukup panjang. Teman-temanpun
juga berbeda pendapat sehingga akhirnya aku berkata pada dosen ku “pak ini
tetap B pak…”aku berkata dengan logat asli ku.
Tiba-tiba dosen dan semua
teman-teman ku sontak tertawa, entah apa yang mereka tertawakan, aku masih
belum faham. “eb_be? Bukan ed_de? Sofi” ucap nya sambil tersenyum. Owalah
ternyata mereka menertawakan logat maduraku. Ngerti dikit kenapa pak..pak! .
belum selesai, kita masih berada dalam diskusi panjang, hingga akhirnya akupun
mengalah. Tapi sebelum pasrah pada jawaban pak dosen aku menyatakan sebuah argument.
“ loh pak, kan idza usykila ad-dlamir fa irji’ ila aqrobil-maqsuwd?” serentak
teman-teman menghujaniku dengan kata “ciye..ciye…” yang memang menjadi
kebiasaan mereka. “uhh…dasar jhube’… ada-ada aja”. Celoteh seorang temanku.
Mereka biasa memanggilku jhube’.
Entah karena memang aku jube’ beneran atau karena kata itu yang memang pertama
kali ku ajarkan pada mereka saat mereka bertanya bahasa maduranya “jelek”.
Seakan tak ingin kalah, aku membalas ledekannya. “biarin aku jube’, tapi kamu
ajbe'” kataku . “apalagi tu ajbe’?” Tanya nya heran. “ajbe’ itu siyghat tafdlil
dari jube’ seperti halnya jamiylun yang menjadi ajmal, maka jube’pun bisa di
siyghat tafdil hehehe” aku tertawa lepas. Puas membalas ledekanya.”huuuuu
…….dasar jubbe’ jubbe’…”
Perbedaan suku yang disatukan dalam
satu kelas, terkadang mengisahkan cerita yang tiada bosan untuk ditertawakan.
Teman-teman yang berasal dari beda-beda daerah, kini harus bersama karena
adanya satu tujuan yaitu mengbdi pada ilmu yang menjadi sumber kebahagiaan
manusia. Selalu ada tawa yang tersungging saat semua bergesekan. Entah karena
adanya sebuah takdir kita bertemu, ataupula karena memang tak sengaja
dipertemukan. Entahlah…. Semua berada dalam melodi yang sama. Mencari kisah
yang begitu dalam terasa. Semua beradu dalam satu pacuan hingga akhirnya
pergantian waktu kan memecah semuanya.
Terkadang kita memang membutuhkan
seorang sahabat, yang dapat memberikan lentera kala malam menjelma menjadi
bayangan hitam yang menyeramkan. Memberikan kita pundak untuk kita bersandar
saat kepala tak mampu lagi untuk di-dongakkan. Memberikan kita payung saat
airhujan mengahruskan kita basah kuyup dalam kedinginan. Namun sahabat,
bukanlah tentang apa yang bisa kita dapatkan dari persahabatan, akan tetapi
sejauh mana kita berani berkorban untuk seorang sahabat,untuk kebahagiaannya.
Itulah sahabat sejati, sahabat yang tak mengenal arti, sahabat yang ikhlas
menukar hatinya walau dengan airmata darah sekalipun. Adakah seorang sahabat
telah kita dapatkan? Ataukah adakah kita telah mampu menjadi sosok sahabat
untuk seorang sahabat? Memang, sebelum kita berharap untuk mempunyai seorang
sahabat yang sejati, kita harus memulainya dari diri sendiri, kita harus
menjadi sahabat terlebih dahulu sebelum kemudia kita berharap untuk mempunyai
seorang sahabat. Namun adakah saat ini seorang sahabat yang memang benar
sanabat? Sedang di zaman ulama’ salaf pun sudah ada maqolah yang berbunyi: khoyrul
quruwni fiz-zamaan al-kitab. Adakah manusia masa kini kan bisa menjadi
seorang sahabat. Dan tentang sahabat…
Entah mengapa rasa benci dan sesal melanda hatiku. Aku serasa tak
ingin melihat mukanya didepan mataku. Aku terasa begitu muak melihat wajahnya.
Ingin ku delete semua cerita tentang ku dengan dia, seorang teman yang kini
sangat ku benci. Aku tak tau darimanakah rasa ini berawal. Namun yang kurasakan
saat ini aku tak ingin bertemu dengan dia ataupun berpapasan. Sungguh aku
begitu membencinya.
Seorang teman yang kurasa sudah
tidak bersahabat lagi. seorang teman yang dulu saling bersandar dalam pilu.
Kini ia takkan bisa lagi mengambil bahuku untuk tempatnya menuang airmata.
Karena aku bahkan tak ingin mendengar desah nafasnya. Kejadian malam itu
sungguh membuat hatiku tergores. Sikapnya malam itu membuatku begitu sakit
hati. Bagaimana mungkin dia meninggalkan aku berjalan sendirian hanya karena
rengekan anak kecil sok m anja.
Dia mengorbankan perasaanku hanya demi anak kecil tak tahu diri. Entah dia
sengaja menyakiti perasaan ku atau karena dia memang tidak senang berteman
dengan ku. Akan tetapi jika dia memang tidak senang berteman denganku, lalu
mengapa dia selama ini selalu berbagi rasa denganku. Mengapakah dia malam itu?
Mengapa dia begitu tega menyakitiku.
Jujur, selama ini aku tidak pernah
selama ini marah pada seseorang. Namun kali ini aku merasakan sakit yang amat
dalam. Aku begitu terluka hingga tak cukup berjam-jam untuk melupakan kejadian
ini. Aku bertanya kepada diriku sendiri, kepada sikapku, dan juga tingkah ku.
Apakah yang ku lakukan hingga dia se-begitunya saama diriku? Bukankah aku
sahabatnya? Sahabat yang pertama ia kenal di kota ini. Mengapa dia begitu tega
menyakitiku dengan sikapnya. Dan yang paling membuatku sakit adalah alasannya
hanya karena anak kecil yang tak tahu diri. Mengapakah aku sampai sebenci ini
kepada dirinya? Hingga aku tak ingin mendengarkan sepatah katapun dari
mulutnya.
Aku tau dia tak berani untuk
menyapaku ketika aku lagi marah. Oleh karena itu dia mengirimiku sms dan
meminta maaf atas sikapnya jika itu membuatku marah. Aku tetap tak mengubrisnya
dan mengacuhkan pesannya karena rasa marahku tak berkurang sedikitpun.
Sebenarnya aku tak ingin melakukan ini, namun luka hati yang membuat aku
melakukan ini. Sebanyak apapun dia berucap menyapaku, aku tetap tak membalas.
Aku tak berniat memutus silaturrohim ataupun berniat memusuhinya. Aku hanya
ingin dia mengerti apa kesalahannya tanpa harus bertanya pada diriku yang
terluka. Lihatlah bagaimana hatiku begitu dalam
membencinya.
Bahkan aku tak menghiraukan rengekan
ataupun rayuannya ditelingaku, aku tetap membencinya. Biarlah aku sendiri dulu
tanpa harus ada dia yang tak mengerti kesalahannya. Mengertilah! Aku sangat
membencimu. Jangan pernah mendekat, karena tangan ini bisa saja menggamparmu
jikau kau begitu rewel di dekatku. Apapun yang kau lakukan saat ini, aku akan
tetap membenci semua itu. Dan selamanya akan tetap seperti itu kecuali waktu
telah berhasil sembuhkan lukaku. Dan saat itu mungkin aku akan bisa memaafkan
mu. Aku tak menyangka dia yang selama ini begitu perhatian padaku, begitu
peduli pada keadaan ku, kini menjadi mantan sahabat ku. Aku tak mem-vonis bahwa
ini adalah akhir dari persahabatan ku dengannya. Hanya saja untuk saat ini aku
takkan mendekat dengannya. Biarlah ia menjalani hari-hari dengan sahabat yang
mungkin membuatnya senang. Sahabat yang mungkin bisa mengerti keinginannya.
tanpa aku harus merusak kebahagiaannya. Kan ku biarkan dia bahagia tanpa aku,
karena mungkin selama ini aku gagal membuatnya bahagia disampingku ataupun aku
gagal menjadi seorang sahabat untuknya. Mungkin sebagai sahabat aku terlalu
banyak menyusahkannya, hingga ia tak ingin bersahabat lagi denganku.
“ jangan perlakukan seperti ini,
kalau aku punya salah katakanlah! Jangan kau diam seperti ini” pagi itu dia
menghampiriku saat aku bermain-main dengan leptop di tanganku.” Apa gunanya aku
mengatakannya? Kaupun takkan mengerti, betapa sakit diriku ini” mataku sembab
seakan tak mampu lagi menahan airmata yang mungkin sebentar lagi kan terjatuh.
“sof, jangan begitulah sof, kalau aku punya salah, bilang ke aku sof, biar aku
tak terus mengulanginya dan membuat kamu seperti ini, katakan padaku! Jangan
diam seperti ini! Kalau kamu melakukan kesalahan aku selalu mengingatkanmu,
lalu mengapa kau hanya diam membiarkan aku terus melakukan kesalahanku?”
sungguh aku tak setega itu membiarkan dirinya memelas dihadapan ku. Hanya saja
aku harus menguatkan diri untuk tetap diam.
“sof, aku minta maaf jika sikapku
membuatmu marah, kamu jangan marah lah sof!” dia terus meminta. “ udah, jangan
sentuh aku..nanti aku tampar kau” sifat maduraku mulai muncul. Aku bahkan tak
ingin dia memegang bahuku. “ ayo, tampar sof, asal kamu jangan marah padaku,
asal kamu tidak mendiami aku lagi”dia masih saja merayu dengan wajah memelas.
“untuk apa aku mengatakan semua nya kepada kamu, apakah engkau sahabatku?
Apakah engkau sahabat ku yang dulu? Berbagi apapun itu, entah duka atau lara?
Apakah engkau masih sahabat ku? Bukankah aku tak layak bersahabat dengan mu,
pergilah jangan mendekat, karena aku bahkan tak ingin melihat wajahmu, sekarang
kau bisa jalani hidup kamu tanpa aku, anti bariy’ah ‘anniy” airmata jatuh tak
tertahankan. Pahit memng namun itulah yang harus ku katakana. Kulihat wajahnya
tertunduk lesu. Lalu kemudian dia pamit pergi meninggalkanku.
Aku ingin melihat senyumnya saat ia
tak lagi bersamaku. Dan jika memang ia mampu bahagia tanpa harus ada aku, maka
aku takkan pernah lagi muncul dalam hidupnya. Aku takkan lagi menatap dirinya.
Biarlah semoga dia bahagia tanpa diriku.dengan bercucuran airmata, aku harus
mengikhlaskan dia pergi dari hidupku, biarlah aku sendiri bersama cahaya
bintang kejora.biarlah kita menjalani hidup tanpa harus berdampingan. Karena
aku yakin wanita sebaik dia akan mempunyai banyak teman. Namun aku tak bisa
memastikan bahwa ia akan mempunyai sahabat yang dapat mengerti dirinya.
Sebenarnya aku begitu sangat menyayanginya, karena dia adalah sahabat pertama
ku di kota ini. Sahabat yang begitu dekat sebelum ada penyakit yang merusak
persahabatan itu sendiri. Dan sayangnya, persahabatan ku dengannya harus
terjeda Karen ada nya sahabat ketiga.memang benar, orang ketiga akan merusak
segalanya. Namun biarlah, biarkan semua introspeksi diri, biarkan rasa marah
yang ku rasa membeku oleh waktu hingga akhirnya semua akan menjadi baik-baik
saja.
Kerasnya hidup di kota begitu
berbeda dengan kehidupan di desa. Mungkin hanya sedikit orang saja yang akan
bisa memiliki sahabat yang sehati. Di kota takkan lagi ditemukan kepedulian
yang memang tulus. Dikota yang bisa kita temukan adalah sseorang teman bukan
sahabat. Teman adalah mereka yang bisa tertawa bersama. Namun sahabat adalah
mereka yang bisa menangis bersama. Ah … sudahlah aku tak perlu lama-lama
menggunjing, cukup hatiku yang memendam rasa sesal ini. Orang lain ataupun
dirinya tak perlu tahu akan hal ini, biar aku tidak usah meminta maaf
kepadanya. Aku tak tau setan apa yang sedang merasuki diriku, hingga aku begitu
lama membungkam diri untuk berbicara dengannya. Apakah ini salahku? Ataukah ini
karena hati terlalu dalam terluka? Atau bahkan ini balasan untuk diriku?
Entahlah… biar derasnya hujan yang kan menjawab. Biarlah hijau dedaunan yang
kan menjelaskan di musim semi nanti. Menunggu dan tetap diam adalah cara
terbaik untuk menghindari luka. Menerima apapun itu adalah jalan terindah untuk
menahan amarah, karena…. Semua akan indah pada waktunya, selagi waktu terus
mendayung tanpa henti.
Kembali ku menangis dalam pekatnya
malam tanpa lentera. Pandanganku tertuju pada Sebuah foto yang sengaja kupajang
di atas dipan tempat ku berbaring mengingatkanku pada kk maqbul. Derita cinta
yang ku hadapi sungguh tak berdasarkan satu alasan pun. Entah bagaimana cinta
itu mula-mula mendatangiku. Yang kurasakan kini, hanyalah ku ingin dia juga
mencintaiku. Walau nyatanya semua hanyalah tamanni yang takkan mungkin
pernah ku dapatkan. Saat mengingatnya, semua senyum ku seakan kembali meredup
dan akupun terdiam. Adakah ini benar-benar cinta? Jika iya, lalu mengapa begitu
sakit kurasa? Apakah cinta memang menyakitkan? Setega inikah cinta?.
Sekali-kali aku berfikir untuk
melupakannya, namun hati ini menolak. Entah apa yang masih ia harapkan dari
sosok kak maqbul. Hati ini kadang berfikir, jika aku melupakan kak maqbul, lalu
cinta macam apa ini? Cinta yang hilang karena terabaikan, itukah cinta? Lalu
bagaimana dengan janji yang ku ucap pada sang pemilik kak maqbul? Bahwa aku
telah meminta hati kak maqbul? Adakah semua itu palsu? Tidak! Aku memang
mencintainya. Dan karena aku mencintainya maka aku harus melupakannya. mungkin
hati terlalu berambisi untuk mendapatkannya. Tapi apakah cinta tak harus
memiliki? Lalu bagaimana aku akan bertahan dalam cinta jika memang cinta begitu
adanya.
Satu hal yang sangat ku takuti
tentang cinta ini, yaitu saat aku berlarut dalam cinta dan cinta itu sendiri
membuatku lupa pada sang mencinta. Lalu apa alasanku mencintai kak maqbul?
Mengapa aku mencintainya? Karena dia seorang hafidz? Karena dia seseorang yang
haliym (sangat sabar)? Atau karena dia seseorang yang sangat penyayang? Ia….
Lalu apa yang aku harapkan dari dirinya? Ridla Allah. Bagaimana bisa engkau
memperoleh ridla allah lantaran dirinya?. Dia seseorang yang sangat alim dan mengamalkan
ilmunya, aku yakin dia bisa mengajak ataupun membantuku menuju ridla allah.
Lalu apa yang terjadi kini? Bukankah semua yang terjadi dalam kehidupan ini
adalah atas kehendak allah, termasuk cinta yang kamu rasakan kini?.
Entahlah…barangkali dia hendak mengujiku tentang kedalaman cintaku.
Semua berlarut dalam gelapnya langit
yang telah kelam. Bintang-bintang tak lagi berkeliaran diatas sana. Hanya
percikan air yang temaniku malam ini, Oh tuhan penguasa hatiku!!! Ada apa
gerangan tentang malam ini? Mengapa hatiku terasa begitu hampa? Angin malam pun
tak lagi berhembus dan berbisik di telinga. Lalu dengan apa malam ini ku
bersurat padamu? Bagaimana aku kan berkisah tentang malam yang sebentar lagi
kan berganti fajar. Mengapakah diri ini tuhan? Mengapa aku begitu sangat ingin
memilikinya? Adakah ini dari dirimu? Ataukah ini dari nafsu yang kan membawaku
pada kerusakan? Adakah cinta itu memang seperti ini.
Hanya tuhan yang tahu betapa lemah
diriku ini. Betapa aku sangat ingin melupakannya. melupakan kairo, dan juga
melupakan kak maqbul. Aku harus bisa melakukan itu. Mengapa harus??? Karena aku
takkan mungkin pernah bisa mendapatkan keduanya. Lalu untuk apa aku akan
menghabiskan waktu untuk mencintai dan mengharapkan keduanya. Bukankah disini
aku sudah memiliki penggantinya. Tidakkah menara kampus ini juga seperti menara
al-azhar? Lagi pula bukankah sebelum berangkat ke Surabaya, aku telah membuat
janji suci dengan seseorang? Janji untuk tetap menjaga hati? Janji tidak akan
berkomunikasi? Dan janji untuk hanya sekedar mencari tahu kabar. Itukah balasan
yang ku terima karena aku tak dapat menjaga hati ku seperti yang telah ku
janjikan padanya. Namun yang ku pertanyakan kini, apakah dirinya masih ingat
akan janji itu? Atau panasnya bangkalan membuat ia haus dan tak sabar untuk
menunggu kepulangan ku? Ah.. entahlah akupun tak mengerti.
Hidup memang banyak ujian. Mengapa tidak? Karena saat ini memang
musim UAS. Hari-riku dalam minggu ini mungkin akan terpakai dengan soal-soal
UAS yang belum terselesaikan. Yang paling membuatku dag dig dug ialah
dipenghujung minggu ini, yaitu waktunya untuk ikut test seperti yang ku katakan
kemaren-kemaren. Jika allah memang mengizinkan, hari jum’at dan sabtu aku akan
berangkat menuju kota malang dan kampus UIN Maulana Malik Ibrahim. Di kampus
itulah, aku akan mengikuti seleksi. akupun tak berharap lebih, aku hanya ingin
menambah pengalaman, akan tetapi syukur-syukur jika aku lolos dan mendapat
beasiswa.
Lalu bagaimanakah dengan nasib beasiswa ku kini? Bagaimana jika aku
lolos seleksi? apakah aku akan meninggalkan beasiswa ini dan membayar seluruh
biaya hidupku yang ditanggung pemerintah selama satu tahun? Darimana aku akan
punya uang sebanyak itu? Dan bagaimana aku akan membayar ongkos pergi?
Sudahlah… aku belum memikirkan semua itu, yang ku fikirkan kini adalah
bagaimana aku bisa pergi ke malang untuk ikut seleksi. aku belum memikirkan
tentang hasilnya, karena aku tau ini tidak akan berhasil. Karena aku tahu
siapalah diriku ini, ….aku mah apa atuh….
Bahkan jika aku gagal, disini aku akan mem-fokuskan semua pikiranku
pada hafalan ku yang masih seumuran jagung. Aku akan melupakan kairo ataupun
kak maqbul. Bukankah al-qur’an adalah obat dari segala lara? Akupun yakin bahw
a lukaku akan segera sembuh, aku yakin al-qur’an bisa mengobatinya. Biarlah
cinta ku pada kak maqbul mengkhiri kisah cinta dalam lembaran hidupku di abad
ini. Dan juga cintaku pada kairo menjadi akhir dari cita-cita ku. Aku ikhlas
meninggalkan semuanya, karena memang alasan ku menginginkan keduanya tidak lain
adalah karena Allah. Aku berfikir bahwa ketika aku belajar di kairo, aku akan
banyak memperoleh ilmu sebelum kemudian aku mengamalkannya. Namun ketika semua
tak mengerti maksud dan tujuanku, yang ku lakukan hanyalah diam tanpa harus
menjelaskan sepatah katapun.
Alasan aku ingin belajar disana ialah karena aku sangat suka
belajar kitab, dan selamanya akan seperti itu. Jika di kampus-kampus Indonesia,
aku takkan mendapatkannya, karena semua materi kuliah berbentuk buku, dan itu
membuat aku malas belajar, ya walaupun pada akhirnya keadaan juga memaksaku
untukmempelajarinya. Namun sudahlah… jika suatu saat tuhan berikanku
kesempatan, pada saat itulah aku harus menggunakan kesempatan itu sebaik
mungkin. Aku harus bersyukur atas apa yang tuhan berikan padaku saat ini.
Karena tak semua orang bisa kuliah gratis tanpa harus mengeluarkan biaya sedikitpun,
kalau tidak karena rahmat tuhan, aku yakin aku takkan bisa mendapatkan semua
itu.
Yang harusnya kulakukan kini adalah tetap mempelajari ilmu yang
diajarkan dosen. Suka tidak suka dengan pelajarannya, aku harus tetap semangat
mempelajarinya karena tak ada ilmu yang tidak bermanfaat selagi kita mampu
menggunakannya dengan baik . karena semua terjadi karena takdir allah yang
telah ia putuskan di zaman azali. Dan kita hanya sebagai pemeran dan pelaksan
apa yang telah digariskan pada hidup masing-masing. Karena semua orang
mempunyai garis yang berbeda-beda, walau kadang mereka harus bergesekan dan
menimbulkan percikan api yang bisa membuat tangan terbakar. Inilah saatnya
BIMBINGAN KONSELING ISLAM jurusanku, membimbingku sesuai tuntutan agama. Karena
konselor juga manusia, walaupun ia bertugas sebagai pembimbing ataupun
pe-nyelesai masalah, terkadang ia juga membutuhkan bimbingan, nasehat, ataupun
masukan-masukan dari orang lain.karena konselor juga manusia, ia mempunyai
porsi airmata yang sama, hanya saja ia harus mampu mengubah airmat duka itu
menjadi tangis bahagia yang pecahkan dunia.
Sungguh aku merasa tidak betah di tempat ini. Kondisi yang sangat
bising dengan berbagai macam deru transportasi. Ditambah lagi dengan
pemandangan yang berasal dari pembauran antar kaum adam dan hawa. Aku rindu
kampungku, sederhana dan asri. Senyap tanpa suara namun tetap mempesona. Aku
rindu bintang ku, bintang yang biasa ku tatap tatkala aku memimpi. Dimanakah
bintang itu sekarang? Mengapa di Surabaya tak ada bintang? Aku seakan tak
pernah menemukan keberadaan bintang di langit kota ini. Semua bintang telah
berubah menjadi cahaya lampu yang menyilaukan mata.
Oh tuhan,,, bagaimanakah ini, apakah mimpi setahun lalu kini
menjadi nyata? Kala itu aku bermimpi bahwa aku tidak betah di asrama yang ku
tinggali dan aku menginginkan untuk pulang. Dan kini aku merasakannya menjadi
nyata, aku sangat tidak nyaman dengan kondisiku saat ini. Tuhan, aku tidak
betah… dulu aku memang menginginkan untuk kuliah,karena aku fikir,kuliah itu
menyenangkan. Akan tetapi saat aku menghadapinya, ternyata kuliah tidak seindah
mengaji kitab. Di dunia perkuliahan mahasiswa dituntut untuk mampu menjelaskan
tanpa ada penjelasan terlebih dahulu dari dosen. Mungkin cara itu efektif bagi
sebagian orang, namun se-level ku yang masih rendah, aku kesulitan memahami
ataupun berkonsentrasi pada penjelasan selain dosen. Oh tuhanku!! Sang pemberi
solusi!! Lihatlah diriku ini! Berikanlah solusi untuk masalah ku ini! Karena
dirimu adalah The Greatest Counselor.
Mungkin hanya kesabaran yang dapat membuat keadaan menjadi tenang.
Namun berapa lama aku akan mampu bersabar. Diam tanpa kata dan dipaksa harus
mendengarkan. Karena aku bukanlah nabi ayub yang terkenal dengan kesabarannya.
Di kota ini, sendirian adalah cara terbaik untuk tidak terluka. Walaupun
keadaan begitu ramai, namun kesendirian yang ku rasakan. Aku tidak ingin
membaur pada teman-teman. Aku hanya ingin sendiri meresapi hidup yang penuh
dengan kesunyian, penderitaan, dan kekosongan.
Seseorang bilang bahwa orang hebat itu kebanyakan berasal dari masa
lalu yang kelam. Mereka kenyang akan penderitaan hidup, penuh dengan kekurangan
dan keterbatasan. Dan itulah seharusnya menjadi pecut yang dapat memacu mereka
untuk lebih cepat berlari. Mereka tidak pernah lelah mencoba, peluh adalah
airmatanya, doa yang menjadi penguatnya, hingga akhirnya tuhanlah yang menjadi
penentunya. Seseorang tidak akan pernah tahu betapa berharganya hidup yang
tuhan berikan kecuali ketika ia telah mengalami pahitnya kehilangan. Kepergian
ayahku seharusnya tidak membuatku lemah, melainkan aku harus bersabar dan
mencoba untuk tetap tegar. Dan kini aku merasakan indahnya memiliki sosok ayah
setelah aku merasa perihnya kehilangan dirinya.
Terkadang aku heran, mengapa seorang anak bisa sampai membunuh orang
tuanya. Apa yang ia pikirkan ? bagaimana ia bisa lupa atas jasa kedua
orangtuanya. Mereka sanggup bertahan atas kerasnya air hujan, mereka membakar
dirinya dibawah terik mentari yang dapat membakar wajah mereka. Masih kurangkah
pengorbanan orang tua? Apalagi yang anak kurangkan dari kedua orangtuanya.
Memang pantas jika neraka yang merupakan rumah derita menjadi ganjaran bagi
mereka yang durhaka kepada kedua orang tuanya. Kalaupun kita tidak dapat
melakukan yang setimpal dengan apa yang mereka berikan, setidaknya kita tak
menyakiti mereka sesakit saat ia merawat kita sejak kecil. Membesarkan kita
dengan seluruh kasih sayangnya. Bayangkanlah seberapa besar pengorbanan untuk
kita. Meninggalkan kebahagiaanya demi kebahagiaan anaknya. Menahan rasa lapar mereka
untuk memberi makan anaknya. Oh tuhan,, ampunkan mereka, sayangilah mereka
sebagaimana mereka menyayangi kami, berikan surga terindah untuk mereka.
Jagalah hati nya, jangan biarkan mereka terluka sedikitpun.
08
juni 2015
Prof. Dr Moh. Ali Azis M.ag, itlah
nama lengkapnya. Nama agung yang telah diberikan oleh orang tuanya ketika ia
baru lahir ke atas dunia. Memang benar kata nabi, bahwa nama adalah do’a. Ali
adalah gambaran dari ketinggian hatinya, semangatnya, dan juga optimisnya
dengan apa yang berada disisi Allah. Rendah diri adalah sifat yang paling tidak
ia inginkan untuk berada dalam diri kami. Hingga ia pun meng-klaim bahwa rendah
diri itu kafir. Kebanyakan seorang professor se-level beliau seakan tak punya
waktu untuk bertemu langsung dan mendidik secara bertatap muka. Namun prof yang
menjadi kebanggaanku ini sungguh berbeda sekali. Entah apa yang telah allah
letakkan dalam hatinya sehingga beliau seakan begitu dalam menyayangi kami.
Kamipun sudah tak dapat mengukur seberapa dalam kami menyayanginya. Dialah
embun kala mentari Surabaya mengeringkan kerongkongan kami. Bahkan hanya dengan
setetes tutur katanya, beliau mampu membangkitkan semangat ku yang telah hancur
tiada bertepi.
Bersamanya, seakan bukan seperti
seorang dosen kepada muridnya. Ia sungguh begitu memperhatikan kami. “saya
yakin anda bisa, sebenarnya anda berpotensi untuk menjadi orang hebat, namun
sayang potensi tersebut hilang dikarenakan rasa malas dan rendah diri anda”
kata-kata itulah yang sering kali ia ucapkan di beberapa pertemuan. Dia
mengajarkan kami untuk terus menulis. Dan akupun tak percaya bahwa aku bisa
menulis, akan tetapi begitulah dia, walaupun terkesan sedikit memaksa, namun
begitulah cara dia untuk membuat kami menulis.walaupun dia bukan alumni luar
negri namun ia melampaui mereka dengan kegigihan dan ketekunannya. Doa dan rasa
percaya diri adalah modal terbesar dia dalam menjalani kehidupannya. Dia
menjadi idola semua orang disetiap kalangan.
Seringkali kita lupa, bahwa dibalik
kesuksesan seseorang, pasti ada latar belakang yang pastinya tidak mudah. Aku
jadi teringat ceritanya yang membuat ia mulai terkenal. Saat itu beliau
memberanikan diri untuk mengajukan diri sebagai qori’ internasional yang
mewakili Indonesia. Beliau berkata bahwa ia tidak pernah belajar qiro’ah, akan
tetapi ia sering mendengar teman kamarnya qiro’ah hingga ia pun tak asing
dengan lagu-lagu qori’. Keberaniannya untuk mengambil langkah itulah yang
membuatnya kini di panggil oleh beberapa Negara di berbagai belahan dunia untuk
menjadi penceramah ataupun imam masjid pada saat bulan puasa.
Layaknya jiwa-jiwa pemenang, ia tak
pernah pantang menyerah. Bahkan di usianya kini yang sudah tidak terbilang
muda, ia tetap enjoy dalam berdakwah. Pengabdiannya kepada masyarakat begitu
terlihat. Agama adalah alasannya dan tuhan adalah maksudnya. Andai tuhan
memperpanjang lagi waktuku untuk bersamanya. Maka itulah salah satu nikmat
terindah yang takkan pernah aku lupakan dalam hidupku. Bagiku, bersamanya
adalah kesempatan emas yang sangat sayang untuk disia-siakan. Karena bagaimana
mungkin aku menyia-nyiakan mutiara hikmah yang keluar dari lisan yang fasih
dalam menyebut asma allah dan rasulnya. Doa-doanya yang mampu membuat semua
kepala yang congkak menunduk haru. Membuat mata yang sering terbelalak pada
kemaksiatan menjadi terpejam penuh dengan airmata. Satu huruf yang berasal dari
lisannya, seakan berisi satu lembar nasehat yang mampu bertahan sebulan
lamanya. Entah mantra apa yang telah ia keluarkan, yang kutahu kata-kata dan
nasehatnya begitu menyihir hingga membuat kami terbawa suasana. Tak terukur
seberapa panjang dia terbangun dalam malam-malamnya. Yang bisa ku lihat adalah
ukiran kata yang berasal dari keikhlasan niatnya. Sungguh beruntung mereka yang
memilikinya. Sungguh anugerah yang luar biasa menjadi mahasiswanya. Terima
kasih ya allah, kau pertemukan aku denga
dirinya.
Andai waktuku bersamanya diperpanjang oleh sang pemiliknya, takkan
terhitung lagi lembaran-lembaran kertas tentang mulianya hamba tuhan dan umat
rasululloh yang satu ini. Dialah seorang ulama diantara ribuan pasir yang merusak
mata. Bersamnya adalah impian semua orang. Akupun berteriak dalam hati,
“TUHAN!!! BERIKAN AKU SATU PAK PROF DALAM SEMUA SEMESTER KU DI KAMPUS INI, MAKA
KELAK AKU AKAN MELAHIRKAN BERIBU PAK PROF DI MUKA BUMI INI” bisakah? Batinku
menentang.” Insyaallah, bi_idznillah” jawabku singkat.
Pagi tadi, dengan setumpuk buku yang ia pegang di tangan kanannya,
ia terlihat begitu tenang berjalan mencari-cari ruangan yang kosong untuk
diisi. Kebetulan hari ini, semua ruang kelas sengaja di kunci karena besok akan
digunakan untuk pengujian calon mahasiswa baru di kampus ini. Satu-satunya
ruangan yang memungkinkan untuk di
tempati adalah ruang sidang di lantai satu. Karena ruangan ini hanya digunakan
pada saat acara tertentu. Dengan baju koko berwarna putih dan dipadukan dengan
kopyah hitam yang menjadi ciri khas nya, ia terlihat begitu tampan mempesona.
Bukan karena gelar yang sandangnya, namun karena kemuliaan hatinya.
Satu persatu dari kami ditanya tentang tugas menulis yang ia
berikan. Usia nya yang sudah tidak muda, tidak membuatnya lupa pada tanggung
jawabnya. Ia berkata bahwa ia merasa sangat bertanggung jawab pada kami untuk
membuat kami menjadi orang sukses. Karena ia berfikir bahwa tuhan mengirim kami
untuk di didiknya. Ah…andai tuhan memberi kami waktu lebih lama lagi untuk
bersamanya. Andai tuhan tetap membiarkan bintang itu di sisi hati kami. andai
tuhan tetap menempatkan dia disisi kami. oh tuhanku… jangan pernah kau ambil
namanya dari hati kami, dan juga tetapkanlah kami di dalam hatinya. Sungai
takkan pernah berhenti mengalir walaupun bebatuan menghadangnya. Ia tetap
mencari celah untuk selalu memberikan manfaat pada sang peminatnya. Ia tak
pernah berharap balasan dari apa yang telah berikan.
Malam ini, hatiku seakan tak lelah bertasbih. Keindahan ciptaan
allah begitu tampak di depan mata. Aku bersyukur tuhan memberikan ku kesempatan
untuk menyaksikannya. Kalau dipikir-pikir, ciptaannya saja sudah seindah ini,
lalu bagaimana dengan sang penciptanya? Oh tuhan… berikan aku anugerah untuk
bisa bertemu dengan dirimu. Bahkan walau
aku tak pantas, tetap lah karuniakan aku dengan ar-rahim yang menjadi sifat
wajib mu. Mata ini mungkin terlalu penuh dengan pandangan yang engkau haramkan,
kata-kata yang keluar dari lisan ini mungkin tak layak untuk engkau maafkan,
fikiranku tentangmu juga mungkin mengandung banyak salah, namun keyakinan ku
akan kemuliaan dan keagungan mu, tidak cukupkah itu untuk mendapat kasih sayang
mu.
Dengan retorika yang masih terkesan buruk, ku coba merayu tuhan ku.
Mengharap ampunan darinya atas apa yang akhir-akhir ini mulai berubah dari ku.
Mungkin karena banyak fikiran, otakku menjadi beku dan buntu sehingga aku banyak
menggunakan perasaan dan membuatku sedikit sensitive. Namun tuhan selalu
membantuku memperbaiki semuanya, ia selalu menunjukkan jalannya untukku, karena
dia bukan hanya sang pencipta, namun ia adalah pendidik yang selalu mengajarkan
kerendahan hati. Seperti kata pak prof tadi pagi, entah dia mengutip dari kitab
mana namun kalimat tersebut berbunyi man tawaadlo’a lillahi rofa’ahullohu yang
artinya, “barangsiapa yang merendahkan diri pada allah, maka allah akan
meninggikan derajatnya”. Lagi-lagi ilmu yang ku dapat pak prof selalu menjadi
referensi. Semuanya menjadi indah dirasa dan juga di makna. Layaknya air hujan
yang mengairi tanah yang sudah mulai mongering, maka tanah itupun begitu cepat
menyerap nya.
Kejadian tadi pagi juga
masih menjadi topik yang hangat dalm fikiranku. Waktu itu, sepulang dari kampus
aku menuruni satu-persatu anak tangga didepan gedung fakultasku. Selang
nenerapa langkah, aku di hentikan oleh seseorang di depanku. Dia adalah seorang
wanita. Wajahnya yang sudah mulai keriput, menampakkan nya sebagai wanita yang
berumur sudah sekitar 70-an atau bahkan lebih. Pakaiannya yang kelihatan kusut,
dengan jilbab yang hanya di talikan pada lehernya, ia menyodorkan secarik
kertas padaku.
Tanpa ragu, aku mengambil kertas yang disodorkannya. Terdapat
sebuah tulisan dalam kop surat itu, entah apa isi keseluruhan dari surat itu,
aku tak sempat membacanya. “nak, kasihanilah saya nak, anak saya mau sekolah di
al- amin nak, saya harap kemurahan hatinya nak!” ia berucap dengan nada melas.
Aku yang dibuat bingung dengan tingkahnya, masih tercengang tak mengerti.
Karena awalnya saya berfikir bahwa nenek itu akan menyekolahkan anaknya di
kampus ini seperti halnya kebanyakan ibu-ibu yang tadi aku temui di
kampus.”al-amin? “aku bertanya singkat.
“iya nak” jawabnya tak kalah singkat. Karena aku telah mengetahui maksudnya,
akupun membuka resleting tas hitam yang sedang ku pegang. Kucari-cari dompet
biru yang bersembunyi di celah-celah tas ku. Tanpa berfikir panjang, ku ambil
uang yang bergambarkan imam bonjol, karena kondisi dompetku yang tidak stabil.
Aku aku hanya dapat memberikannya itu. Sembari ia berterima kasih, ia berlalu
diiringi dengan doa-doa yang ia khususkan untukku. Aku meng-amini doanya dalam
hati, “oh tuhan…kabulkanlah doanya, berikan aku ke-suksesan yang menjadi
harapan semua orang, dan ampunkan diriku selalu!!! Amin!!”
Ini bukan tentang uang lima ribu yang ku berikan padanya, bukan
pula tentang isi dompet ku yang sudah mulai me-ngempes, entah karena bocor atau
memang kebutuhan hidup telah membuatnya tak lagi terisi penuh. Ini tentang
orang tua yang rela mengemis demi untuk sekolah anaknya. Entah aku harus
memujinya dengan langkah nya tersebut, atau aku harus iba karena melihat
fenomena tersebut. Ia menengadahkan kedua tangannya menggilir satu persatu
orang yang ia temui hanya karena sekolah anak nya. Entah itu hanya alasannya
untuk mendapatkan simpati, atau itu memang rill dia mengalaminya. Entahlah…
kalau ber-husnudzdzon, dia memang benar-benar mencari biaya untuk sekolah
anaknya. Secara kasat mata, ku lihat dia seorang yang hebat, mengorbankan rasa
malu dan harga dirinya demi menyekolahkan anaknya, akan tetapi dibalik semua
itu, hanyalah dirinya dan tuhannyalah yang tahu. Kita sebagai manusia yang
lemah hanya dapat melihat apa yang ada di depan mata, tanpamengetahui apa yang
ada di balik semua itu.
Yang jadi masalah adalah, haruskah dia mengemis dari tangan
ke-tangan untuk mendapatkan rasa iba dari semua orang. Haruskah ia menutup
wajahnya dari rasa malunya. Aku setuju dengan perbuatannya, karena aku fikir,
untuk sesuatu se-mulia ilmu, mengemis bukanlah sesuatu yang memalukan. Namun
itulah yang seharusnya dilakukan oleh sang pencari, mengemis, mengiba, demi
ilmu. Karena untuk mendapatkan sesuatu yang luar biasa, perlu usaha yang tidak
sedikit. Membutuhkan baiaya yang tak terhitung, airmata yang
berkantung-kantung, mata yang membengkak, mulut yang berbusa lantaran kelamaan
memohon. Andai semua orangtua di dunia ini, memiliki kemauan sekeras itu, andai semua orang berhati
baja dalam menginginkan sesuatu. Pasti tidak akan ada seseorang yang bodontuk
berharaph, wajah keriputnya tak menghalangi semangatnya yang membara. Kantung
matanya yang sudah mulai membengkak, tak membuatnya memejamkan mata pada masa
depan anaknya. Keadaan tak membuatnya menyerah untuk terus maju kedepan,
menatap langit yang tak bermuara.
Ditemani
lagu “tak seindah malam kemaren” oleh bagindas, tanganku menari diatas
tombol-tombol huruf di depan mataku. Aku tertunduk lesu diperdaya keadaan. Aku
bingung apakah aku akan tetap mengikuti seleksi al-azhar, ataukah aku akan
langsung pulang setelah UAS. Akan tetapi jika aku tidak mengikutinya, aku akan
kembali dihantui oleh perasaan sakit yang kemaren-kemaren ku rasakan. Namun
entah mengapa saat ini, rasa inginku untuk kuliah di kairo tidak lagi ada, aku
seakan tersihir oleh cahaya tuhan di hatiku. Hingga seakan aku tak pernah
memilikki keinginan. Apakah tuhan sedang mempermainkan aku? Ataukah rasa
kecewaku telah mampu menghilangkan segala harapan yang dulu begitu dalam
tertanam di hatiku. Entahlah… aku harus tetap mengikuti seleksi supaya jika
suatu saat perasaan kecewa yang dulu sering datang menggugat bisa aku beri
alasan yang masuk akal. Karena sampai saat ini, belum ada yang bisa mengobati
lukanya hati ku.
Mungkin
cintaku pada kak maqbul pun telah terkuras habis, lantaran gersangnya kota ini
membuatku harus menghabiskan lebih banyak airmata. Kepergiannya dari hidupku
membuatkan keyakinan baru dalam hidupku bahwa cinta memang tak harus memiliki.
Akupun takkan bisa banyak berharap darinya. Karena aku tau siapa dirinya dan
siapa diriku. Tuhanpun takkan menciptakan sesuatu yang mustahil untuk diterima
oleh akal. Ku blokir namanya dari fb yang mana itu menjadi awal sebuah cerita.
Ia pun sudah lama tak menuliskan sesuatu yang bisa memperlihatkan kondisi
ataupun keberadaannya. Lelah diriku menunggu, bahkan sepatah katapun ia tanpa
suara, mungkin memang melupakan adalah jalan terbaik untuk tidak selalu
mengingat. Bahkan jika suatu saat ia kembali dalam hidupku, aku akan telah
bersama orang lain. aku takkan lagi berharap bintang di matanya, tidak juga
madu dari tutur katanya.
Jika
tuhan menganggap cintaku padanya adalah kepalsuan, karena aku sudah beranjak
untuk melupakan dan meninggalnya, biarlah!! Tuhanlah yang lebih tau tentang
diriku bahkan dari diriku sendiri. Yang ku harap adalah ketika aku memang benar
berdusta atas cinta ini, ia akan sudi mengampuni aku atas setiap huruf yang
tertulis, mengampuniku atas setiap detik yang kuhabiskan untuk menuliskan
kebohongan ini. Yang ku harap kini ialah kak maqbul tetap bahagia, entah
siapapun wanita beruntung yang ia pilih untuk dirinya, semoga memang sesuai
dengan pilihan allah. Semoga ia mampu menjadi penenang mata bagi kak maqbul,
dan semoga allah meridlai keduanya.
Jika
aku ditanya, apakah aku ikhlas mendoakan mereka seperti itu? Apa aku tidak
sakit dengan doa ku sendiri? Ku jawab bahwa doa itu memang hatiku yang
menginginkannya. Dan tentang keikhlasan hanya tuhan yang tahu. Entah ku ucap
doa itu lantaran aku kecewa pada sebuah kenyataan ataukah aku memang tak lagi
menginginkannya hadir kembali dalam hidupku. Perkataanku ini mungkin didukung
oleh pernyataan mbak ku kemaren. “sofi, kamu tahu enggak, kemaren pas aku di
pondok, kan aku ngobrol sama neng, trus dia bilang bahwa dia mempunyai seorang
teman, katanya dia kuliah di kairo, dia punya madrasah di rumahnya, dan
sekarang dia di Madura, katanya dia sering telponan sama neng” kata-kata mbak
ku, membuat penasaran. Lantas ku lanjut mewawancarainya. Hatiku langsung kaget
mendengarnya, aku takut kalau seseorang yang mbak ceritakan memang benar kak
maqbul.
“ iya tah? Siapa namanya? Tanyaku. “kalau
tidak salah, namanya iqbal. Kemaren neng minta bukain fb nya dan yang ku lihat
di sana fotonya mirip sama foto yang ada di background leptop kamu” ia lanjut
menjelaskan panjang lebar. “loh masak mbak? Aku masih belum percaya itu,
lagipula mbak bilang kalau namanya iqbal kan??? Sedang nama yang disini maqbul
bukan iqbal” aku masih tak percaya dan aku tak ingin mempercayainya. “entahlah
siapapun namanya, aku lupa tapi yang
jelas foto di fbnya sama persis dengan foto yang ada di leptop kamu,
sampai-sampai aku segera mengganti fotonya takut ketahuan neng, kan gak enak”
jawabnya terlihat serius.
“masak
mbak, aku masih tak percaya itu, entar kalau aku dah libur dan sudah pulang ke
rumah, kita lanjutin cerita ini lagi, entar aku perlihatkan fb nya ke mbak.”
Aku berusaha meyakinkannya. “sudahlah dik, tidak usah terlalu banyak berharap
dari laki-laki, mereka itu semuanya sama, kita harus sadar siapa kita, kita
bukan anak orang kaya, juga bukan anak kiai, wajah kita juga bukan rupawan,
lalu dengan apa kita akan bisa menjadi pilihan orang lain” kata-kata mbak
menghilangkan rasa optimis ku. “iya mbak, aku tahu itu, akan tetapi apa
salahnya menjadi khodijah untuk emndapatkan pria seindah rasululloh?”. Aku
mencoba menghujat. “betul dek, namun satu yang kau lupakan tentang khodijah,
bahwa dia adalah bangsawan dan saudagar kaya, pantaslah kalau suaminya seperti
rasululloh” mbak ku seakan tak mau mengalah. “oke lah, tentang kasus khodijah,
aku bisa terima. Lalu bagaimana dengan kasus saudah binti zam’ah, bukankah ia
adalah bangsa hitam yang sudah tidak muda lagi, lantas mengapa ia oleh allah
dijodohkan dengan rasululloh? Jika cinta memandang status ataupun keadaan?”
kataku. “kalau itu mah, wallohu a’lam, “ ucapnya mengakhiri perdebatan siang
saat itu. Kitapun beradu dalam diam, memikirkan sebuah narasi cinta yang
terbelenggu dalam diam.
Satu
hal yang ku lupakan bahwa terkadang tuhan
mempertemukan kita dengan seseorang, bukan hanya untuk menjodohkan ataupun
mempersatukan mereka. Akan tetapi adakalanya ia mempertemukan sebagai sebuah
pelajaran berharga dalam hidup. Sebuah pelajaran yang tidak bisa didapat
melalui rumus-rumus al-jabar ataupun teori-teori dalam fisika. Hanya pengalaman hidup yang mampu
mengajarkan mereka, memberitahu mereka, bahwa hidup masih koma. Akupun tak
boleh menyesali atas pahitnya hidup akibat cinta yang tetjatuh tidak pada
tempatnya. Semua itu mengajarkan aku bahwa kala cinta terjatuh ke dalam hati seseorang. Maka luka memar yang
dihasilkan akan begitu lama terlihat.
Hanya
hati yang tulus, dan rasa tawakkal yang dapat membantu sembuhkan luka. Karena hembusan anginpun
takkan membantu menutup perih hati yang sedang ku rasa. Memang tak mudah diucap
dengan kata, ataupun didengar dengan telinga. Hanya hati yang berniat untuk
mendengarlah yang dapat merasakan ketulusan. Satu pesanku untuk seorang maqbul
hasan munir dan juga untuk diriku. “jangan pernah engkau menyia-nyiakan hati
yang tulus, karena ketulusan itu mahal harganya, jika dirimu memang benar
mencintai orang yang telah dipilihkan untukmu oleh ibumu, maka sayangilah dia
setulus hatimu, jangan pernah kecewakan dia ataupun ibumu! Karena kebahagiaan
mu berada di kedua mata nya yang tulus mendoakan mu, teruslah berjalan di jalan
allah !!! dan teruslah begitu”.
Kau
tak perlu lagi memikirkan perasaanku, lambat laun aku pasti akan sembuh. Aku
bukanlah tipe orang yang cengeng, sebentar lagi lukaku akan sembuh. Akupun akan
memfokuskan diriku pada al-qur’an. Dan
tentang janjiku dulu bahwa engkau boleh kembali lagi dalam hidupku asal tidak
melebihi empat tahun dari waktu dimana aku mengucap janji. Aku tetap akan
mengingat hal itu. Kau tetap boleh datang kembali, akan tetapi tentang
perasaan, aku tak berani menjamin bahwa perasaan itu akan tetap sama. Karena
hidup takkan menempati ruang yang sama.
Wahai
kalian, dimanapun kalian menemukan sosok maqbul hasan munir, tolong sampaikan
sepucuk surat ini untuknya.
Surabaya, 09 juni 2015
Dear kak maqbul,
Untuk
seseorang yang kata-katanya membuat semua hati tertegun, puisinya yang dapat
menghentikan aliran sungai nil. Dua mata yang tampak sayu lantaran lama
menangis diatas mushaf. Hati yang membengkang lantaran rindunya kepada
rasululloh sang idola. Lisan yang tak pernah berhenti muroja’ah kalam ilahi,
hingga ia seakan tak punya waktu untuk
menuliskan sepatah katapun untuk sang perindunya. Tumit dan dahi yang
membengkak bekas ia membenturkan kedua nya diatas sajadah cinta. Untuk mu sang
bintang!!! Teruslah bersinar, walaupun engkau sendiri mengejar rembulan, jangan
biarkan awan tebal menyelimuti mu hingga engkaupun terlelap dalam gelap. Engkau tetap menyinari banyak hati, walaupun
yang kau maksudkan hanya untuk satu orang. Maqbul berarti engkau akan diterima
oleh semua hati. Nama yang indah menjadi doa untuk hidupmu. Hasan menunjukkan
kebaikan dan kemuliaan perangaimu. Tetaplah bertingkah layaknya nabi Muhammad
SAW yang menjadi idola dan panutan mu. Dan terakhir adalah munir, yang bermakna
engkau akan meninari hati-hati yang gelap oleh berbagai sebab. Umbarlah senyum
terbaikmu didepan semua orang. Satu pintaku padamu, jagalah hati mu! Jagalah
al-qur’an mu! Biarkan hafalan mu mengakar dalam hatimu! Kalaulah hatimu harus
terisi selain itu, jangan biarkan ia terlalu sesak terisi oleh sesuatu selain
al-qur’an. Biarkan firman allah tetap bersemayam di hatimu. Dan tetaplah
ber-ahlaq seperti al-qur’an. Engkau adalah seseorang yang begitu indah, seindah
namamu, jadi jangan pernah kau si-siakan anugerah yang telah allah berikan
padamu. Tetap jadikan allah sebagai tempatmu berharap, dan jadikan ummimu
sebagai seseorang yang dapat menguatkan hatimu. Dan tentang seseorang yang
engkau cintai, jagalah dia! Jagalah hatinya! Dan tetaplah bersamanya. Jadikan
dia penyempurna amal ibadah mu! Jadikan dia aisyah dalam hidup mu. Dan tentang
khodijah, ia akan tenang disana bersama sang bintang. Semoga allah menjagamu!
Berbahagialah selalu!!!.
Sufayya
al-abadiya